Badung, baliilu.com –
Petani Bali yang sebagian besar mengandalkan sektor pariwisata sebagai penyerap
hasil produknya harus menanggung derita di kala pandemi Covid-19 melanda Bali.
Hasil pertanian khususnya perkebunan yang melimpah tak bisa dijual ke hotel dan
restoran yang selama ini sebagai pembeli, belum lagi rendahnya daya beli
masyarakat.
Fenomena yang terjadi di saat pandemi ada masyarakat yang
berlebihan di satu pihak, tetapi ada orang yang kelaparan karena tidak mampu
membeli. Sungguh ironis memang, tetapi di sinilah kenapa Pasar Rakyat Bali
hadir di tengah-tengah masyarakat.
‘’Makanya kami bangun Pasar Rakyat Bali, kita beli hasil
produksi petani yang berlebihan, kita salurkan dengan tiga cara. Pertama dengan
margin, kedua dijual tanpa keuntungan dan ketiga kita bagikan kepada orang yang
tak bisa beli makan dalam bentuk dapur-dapur umum,’’ ujar Ketua Pasar Rakyat
Bali Nyoman Sumaarta saat ditemui di Pasar Rakyat Bali di halaman Krisna
Oleh-oleh Jalan By Pass Ngurah Rai, yang kala itu mendapat kunjungan khusus
Ketua TP PKK Ny. Putri Suastini Koster.
Nyoman Sumaarta kembali menyampaikan system penjualan yang diterapkan
di Pasar Rakyat Bali (PRB) berupa subsidi silang yang riil. ‘’Jadi keuntungan
dari penjualan ini tiyang pakai untuk membagi makanan gratis,’’ ujar Sumaarta seraya
menambahkan prinsip utama PRB kita semua kerja gratis, yang penting kita bisa
makan dulu, petani tetap bisa menanam, dan masyarakat tetap bisa makan.
Sumaarta menegaskan, jika di saat pandemi produk petani
tidak dibeli, maka dia akan berhenti menanam karena rugi terus dan modal tanam
habis. ‘’Nah begitu kita beli dan bisa balik modal, petani pasti akan nanam terus.
Petani bisa tetap tanam maka masyarakat akan tetap bisa makan, dan kriminalitas
pasti bisa ditekan,’’ ungkap Sumaarta.
Karena dalam pandangan Sumaarta, manusia itu dewa ya, manusa ya bhuta ya. Manakala
orang kelaparan, bisa menjadi bhuta,
melakukan perbuatan keliru. ‘’Dari Pasar Rakyat Bali inilah kita somya melalui makanan gratis,’’ ujarnya.
Sungguh kehadiran Pasar Gotong-Royong Krama Bali yang buka
setiap Jumat pagi di kantor-kantor Pemerintahan Provinsi Bali di antaranya ada juga
Pasar Rakyat Bali yang dibuka setiap Minggu pagi di halaman Krisna Oleh-oleh By
Pass dan Sunset Road telah membantu tidak saja petani pelaku, juga penyalur dan
masyarakat sebagai pemakai. ‘’Apa yang mereka cari ada di sini, kita sudah siap
dengan segala komoditi ternak seperti telor, daging, ikan dan sayur-mayur, bumbu
dapur hingga umbi-umbian,’’ jelasnya.
Pasar Rakyar Bali juga menjual produk dengan cara online
melalui wwwpasarrakyatbali.com, juga ada Facebook dan Istagram. Khusus setiap hari Selasa dan Jumat PRB
menggratiskan ongkos kirim kepada pelanggan yang pesan. Dengan harga yang murah,
100 persen keuntungan untuk mensupport dapur umum yang tergabung dalam Akuforbali.
‘’Nasi bungkus ini kita langsung bagikan ke orang-orang yang sudah tidak mampu
membeli makan,’’ ujarnya.
Sumaarta mengatur system subsidi silang dimana produk yang
dijual di PRB yang belum laku kemudian sebagian disumbangkan dalam bentuk bahan
pangan mentah, sebagian lagi disumbangkan ke grup dapur akuforbali untuk
dimasak dan dibagikan esok harinya. Sampai
hari ini sudah membagikan secara gratis bahan pangan sekitar 7 ton, nasi
bungkus sekitar 2 ribu bungkus per minggu. (gs)