Connect with us
https://www.baliviralnews.com/wp-content/uploads/2022/06/stikom-juni-25-2022.jpg

SENI

Tabuh Palegongan Klasik “Kawitan” Sedot Perhatian Pengunjung di PKB LXVI

Sanggar Seni Kuta Kumara Agung Duta Badung Bawakan Karya-karya Maestro I Wayan Lotring

Loading

BALIILU Tayang

:

lotring
PARADE PALEGONGAN: Penampilan Sanggar Seni Kuta Kumara Agung, Duta Kabupaten Badung, dalam Utsawa (Parade) Palegongan Klasik PKB LXVI, Jumat, 5 Juli 2024, di Gedung Ksirarnawa, Art Center Denpasar. (Foto: Hms Diskominfo Badung)

Denpasar, baliilu.com – Membawakan karya Maestro Alm. I Wayan Lotring, Sanggar Seni Kuta Kumara Agung, Duta Kabupaten Badung, tampil all out dalam Utsawa (Parade) Palegongan Klasik PKB LXVI, Jumat, 5 Juli 2024, di Gedung Ksirarnawa, Art Center Denpasar. Menyaksikan pementasan karya para maestro, menjadi momen yang dinanti masyarakat Bali, sehingga pagelaran yang bertajuk “Kawitan”, menyedot perhatian pengunjung Taman Budaya malam itu.

Pimpinan Sanggar Seni Kuta Kumara Agung, I Gusti Darma Putra mengatakan menjadi kebanggaan bagi Sanggar Seni Kuta Kumara Agung, Banjar Temacun, Desa Adat Kuta, Kecamatan Kuta, karena didaulat menjadi Duta Kabupaten Badung dalam Parade Palegongan Klasik khas Kabupaten Badung di PKB ke-46 ini.

“Kami berusaha untuk menampilkan sebuah pagelaran yang merupakan karya-karya dari Maestro I Wayan Lotring, sebagai salah satu tokoh yang memberikan spirit dalam berkesenian di Kuta khususnya dan di Badung pada umumnya. Kami gali dan kami mencoba untuk mewujudkan dalam bentuk auditif dan visual dan hasilnya bisa dinikmati tadi. Astungkara berjalan dengan lancar dari keempat materi tidak ada halangan,” ucapnya.

Materi pertama palegongan klasik gending Kawitan, yang kedua tari Semarandhana dimana memang tarinya berasal dari gending-gending yang diformulasikan oleh Maestro I Wayan Lotring. Yang ketiga ada tabuh kreasi. Yang mana spirit dari tabuh kreasi ini berangkat dari identifikasi terhadap proses kreatif I Wayan Lotring. Dan yang keempat adalah tari Kelangon Legong yang mana tari Kelangon Legong ini menjadi sebuah tarian yang ikonik berasal dari Desa Adat Kuta.

“Sebagai penikmat dan pecinta seni kami berharap Kabupaten Badung khususnya Dinas Kebudayaan Kabupaten Badung bisa menggali sekaa-sekaa palegongan yang memang khas, yang memiliki keautentikan karya-karya khususnya seniman seperti kebanggaan kami di Kuta, Bapak I Wayan Lotring. Karena kita sangat mengakui bahwa Bapak I Wayan Lotring berjasa dalam dunia palegongan yang mana karya-karya beliau dan spirit beliau mengakar dan tetap merasuk di jiwa seniman saat ini. Nah kami berharap Dinas Kebudayaan Kabupaten Badung bisa menelaah lagi duta-duta yang berkompeten dan kredibel di bidang palegongan,” tandasnya.

Baca Juga  Sanggar Seni Taksu Murti Kemanisan Pukau PKB 2026, Angklung Kebyar Legian Tampil Spektakuler

Pembina Tari Sanggar Seni Kuta Kumara Agung, Ni Nyoman Andra Kristina, mengatakan dalam proses latihan dan persiapan dari pelegongan ini mengambil waktu yang lumayan panjang hampir empat (4) bulan. Dengan melibatkan 60 orang penabuh dan penari. “Kesan-kesan kami dengan terpilihnya Sanggar Seni Kuta Kumara Agung, sebagai Duta Kabupaten Badung, dalam ajang parade palegongan klasik khas kabupaten ini, kami benar-benar sangat bangga. Kami benar-benar sangat bersyukur bisa diberikan kesempatan yang baik ini dan tampil di ajang Pesta Kesenian Bali di tahun 2024,” ucapnya.

lotring

PARADE PALEGONGAN: Sanggar Seni Kuta Kumara Agung, Duta Kabupaten Badung, saat tampil dalam Utsawa (Parade) Palegongan Klasik PKB LXVI, Jumat, 5 Juli 2024, di Gedung Ksirarnawa, Art Center Denpasar. (Foto: Hms Diskominfo Badung)

Pada kesempatan tersebut Sanggar Seni Kuta Kumara Agung menampilkan empat (4) materi yaitu gending “Kawitan” karya Maestro I Wayan Lotring disusul dengan Tari Legong Klasik “Semarandhana”. Tari ini mengisahkan pengorbanan Dewa Semara dan Dewi Ratih dalam menjaga ketentraman surga dari amukan raksasa Nilarudraka yang tiada tanding. Demi menjaga kedamaian, Dewa Semara dengan rela membangunkan Dewa Siwa dari tapa semadhinya di Gunung Khailas dengan panah asmara, sehingga Dewa Siwa merasakan cinta dan menemui istri beliau, Dewi Uma. Dewa Semara dan istrinya, Dewi Ratih, akhirnya menerima kemarahan dari Dewa Siwa yang merasa terganggu dari tapanya, dan membakar sepasang dewa tersebut menjadi abu. Namun, atas permohonan Dewi Uma, abu mereka ditaburkan ke dunia agar setiap makhluk dapat merasakan cinta kasih dengan pasangannya. Formulasi gending iringan dari tari Legong Semarandhana ini merupakan karya maestro I Wayan Lotring, dengan nama “Linggar Bawa”.

Selanjutnya penonton dipukau dengan penampilan Tabuh Kreasi Kebyar Kelayar. Tabuh ini terinspirasi dari sentuhan ajaibnya, I Wayan Lotring sang maestro seni yang penuh kepukauan, menjalin keajaiban seni di setiap jengkal, mengangkat nama Kuta melewati batas-batas bumi Bali. I Wayan Lotring dalam setiap karya monumentalnya memberikan inspirasi yang mendalam, menstimulasi penata untuk menciptakan sebuah karya tabuh kreasi baru, bertajuk ‘’Kebyar Kelayar’‘.

Baca Juga  Disambut Antusias, Sanggar Seni Cakup Kaler Duta Badung Dalam Pagelaran Semara Pegulingan PKB 2025

Suguhan terakhir dari Sanggar Seni Kuta Kumara Agung yaitu Tari Kreasi Palegongan “Kelangon Legong”. Kelangon menggambarkan keindahan dan Legong sebagai identitas seni Desa Adat Kuta. Tari “Kelangon Legong” merupakan sebuah karya tari kreasi yang menggambarkan semangat dan dedikasi seorang maestro seni I Wayan Lotring, dalam memperkaya dan mempertahankan warisan budaya dan seni di Kuta.

“Dalam getaran lekuk tari kreasi Kelangon Legong, kita melihat keabadian semangat maestro I Wayan Lotring yang telah membawa sentuhan seni, mengharumkan Kuta hingga ke seluruh penjuru dunia, menjadikannya cahaya terang keberadaan seni dan budaya di Kuta,” pungkasnya. (gs/bi)

Loading

galungan dan kuningan dprd bali
Advertisements
iklan stikom
Advertisements
waisak
Advertisements
galungan dprd kabupaten badung
Advertisements
iklan

SENI

Dari Pengasingan Menuju Gagasan Besar, “Di Bawah Pohon Sukun” Menggugah FSBJ VIII 2026

Gubernur Wayan Koster dan Ny. Putri Koster Saksikan Pementasan yang Mengangkat Perjalanan Sukarno di Ende

Loading

Published

on

By

Gubernur Bali Wayan Koster bersama Ny. Putri Koster menyaksikan pementasan teater Di Bawah Pohon Sukun dalam rangkaian FSBJ VIII 2026
FSBJ 2026: Pementasan teater "Di Bawah Pohon Sukun" dalam rangkaian Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Provinsi Bali, Minggu (19/7) malam. (Foto: Hms Pemprov Bali)

Denpasar, baliilu.com – Pementasan teater “Di Bawah Pohon Sukun” menjadi salah satu sajian yang memikat perhatian penonton dalam rangkaian Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Provinsi Bali, Minggu (19/7) malam. Pertunjukan tersebut disaksikan langsung oleh Gubernur Bali Wayan Koster didampingi Ny. Putri Koster.

Pementasan yang ditulis dan disutradarai oleh Putu Satria Kusuma ini mengangkat kisah perjuangan Presiden pertama Republik Indonesia, Ir. Sukarno, saat menjalani masa pengasingan di Ende, Flores, pada 1934. Melalui alur dramatik, pertunjukan menghadirkan potret Sukarno yang tetap teguh menyalakan semangat perjuangan di tengah keterasingannya sebagai tahanan politik Pemerintah Hindia Belanda.

Meski dijauhkan dari rakyat, Sukarno tidak pernah menyerah. Ia membentuk kelompok sandiwara Tonel Kelimutu dan aktif mementaskan berbagai drama yang dekat dengan kehidupan masyarakat. Di sela aktivitasnya, Sukarno kerap merenung di bawah pohon sukun, tempat yang kemudian dikenang sebagai ruang lahirnya gagasan-gagasan besar tentang kemerdekaan bangsa.

Dari ruang perenungan tersebut, Sukarno merumuskan nilai-nilai luhur yang kelak menjadi fondasi bagi cita-cita kemerdekaan Indonesia. Kisah itu dihadirkan secara dramatik sekaligus mengajak penonton merefleksikan bahwa perjuangan tidak selalu diwujudkan melalui perlawanan fisik, tetapi juga melalui pemikiran, kebudayaan, dan keteguhan menjaga cita-cita.

Pementasan “Di Bawah Pohon Sukun” mendapat apresiasi dari penonton yang memadati Gedung Ksirarnawa. Kehadirannya memperkaya rangkaian FSBJ VIII sebagai ruang ekspresi seni yang tidak hanya menghadirkan pertunjukan, tetapi juga menghidupkan kembali nilai-nilai sejarah, kebangsaan, dan semangat perjuangan melalui karya teater. (gs/bi)

Loading

galungan dan kuningan dprd bali
Advertisements
iklan stikom
Advertisements
waisak
Advertisements
galungan dprd kabupaten badung
Advertisements
iklan
Baca Juga  Sekaa Gong Legendaris Kerthi Budaya Guncang PKB Ke-46
Lanjutkan Membaca

SENI

Di Antara Prasasti dan Kegelisahan Zaman: Teater Agustus Membaca Bali melalui Pentas “Prasasti” di FSBJ VIII 2026

Published

on

By

Adegan pementasan drama Prasasti karya Sanggar Teater Agustus dalam rangkaian FSBJ VIII 2026 di Gedung Ksirarnawa
PRASASTI: Salah satu adegan pementasan drama "Prasasti" karya Sanggar Teater Agustus dalam rangkaian Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII 2026 di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Provinsi Bali, Sabtu (18/7/2026) malam. (Foto: Hms Pemprov Bali)

Denpasar, baliilu.com – Ketua Dekranasda Provinsi Bali sekaligus seniman, Putri Suastini Koster, menyaksikan pementasan drama “Prasasti” karya Sanggar Teater Agustus dalam rangkaian Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII 2026 di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Provinsi Bali, Sabtu (18/7/2026) malam. Pertunjukan tersebut menghadirkan dialog antara sejarah, mitologi, dan kritik sosial melalui sebuah narasi yang mengajak penonton menafsirkan kembali identitas Bali dan Indonesia di tengah perubahan zaman.

Di tangan tim penyutradaraan Teater Agustus yang terdiri atas Wayan Sila Sayana, Ngurah Rai Riauadi, dan Gede Sustrawan, “Prasasti” menjelma menjadi sebuah pembacaan ulang terhadap jejak sejarah yang terukir pada batu, sekaligus refleksi atas kegelisahan manusia modern yang semakin jauh dari akar peradabannya. Pementasan ini menjadi salah satu agenda penting FSBJ VIII 2026 yang berlangsung pada 11–25 Juli.

Naskah yang ditulis IB Martinaya atau Gus Martin, yang juga bertindak sebagai penata musik, berangkat dari salah satu artefak sejarah terpenting di Bali, yakni Prasasti Blanjong di Sanur. Namun, alih-alih menjadikannya materi sejarah yang kaku, Teater Agustus mengolahnya menjadi narasi dramatik yang bergerak luwes antara masa lalu dan masa kini.

Cerita dibuka dengan sekelompok anak yang melakukan wisata sejarah ke kawasan cagar budaya Prasasti Blanjong. Dalam sebuah peristiwa yang nyaris magis, mereka tiba-tiba diterpa badai dan terbawa ke masa pemerintahan Raja Sri Kesari Warmadewa.

Di masa silam, mereka menyaksikan langsung proses peresmian dan pemancangan Prasasti Jaya Sama yang kemudian dikenal sebagai Prasasti Blanjong. Melalui sudut pandang anak-anak, sejarah tidak hadir sebagai deretan fakta yang membosankan, melainkan sebagai pengalaman hidup yang dapat dilihat, disentuh, dan dirasakan.

Baca Juga  Sekaa Gong Legendaris Kerthi Budaya Guncang PKB Ke-46

Lapisan dramatik kemudian berkembang melalui kisah cinta segitiga antara I Tekek, seorang pemahat prasasti, dengan dua perempuan dari latar budaya berbeda, yakni Ni Sing Lian, gadis keturunan Tionghoa, dan Ni Gadung, perempuan pribumi.

Kisah tersebut mengingatkan bahwa Bali sejak berabad-abad silam telah menjadi ruang perjumpaan berbagai kebudayaan. Kehadiran tokoh Ni Sing Lian merujuk pada sejumlah sumber sejarah yang mencatat keberadaan komunitas pedagang Tionghoa yang hidup berdampingan dengan masyarakat kerajaan pada masa itu.

Namun, “Prasasti” tidak berhenti pada romantisme sejarah.

Cerita kemudian bergeser ke masa kini melalui sekelompok ibu yang resah melihat kehidupan yang dinilai semakin kehilangan arah. Mereka memulai pencarian “Prasasti Nusantara”, sebuah artefak yang diyakini menyimpan jawaban tentang asal-usul negeri ini.

Dalam pengembaraan itu, mereka bertemu mahasiswa yang sedang menggelar aksi demonstrasi. Sejumlah peristiwa ganjil dan simbolik pun bermunculan, membawa penonton memasuki ruang tafsir yang lebih luas mengenai kehidupan, sejarah, dan identitas.

Di sinilah kekuatan dramaturgi “Prasasti” terasa. Naskah tidak menawarkan jawaban tunggal, melainkan menghadirkan pertanyaan tentang identitas, memori kolektif, serta hubungan manusia modern dengan sejarahnya sendiri. Prasasti bukan lagi sekadar batu bertulis peninggalan masa lampau, melainkan metafora tentang ingatan yang terus dicari ketika masyarakat menghadapi perubahan zaman yang begitu cepat.

Bagi Teater Agustus, sejarah bukan sesuatu yang telah selesai. Sejarah menjadi ruang dialog yang terus hidup dan dapat dibaca ulang dari perspektif kekinian. Pendekatan tersebut sejalan dengan semangat Festival Seni Bali Jani yang sejak awal dirancang sebagai wadah eksplorasi seni modern dan kontemporer yang tetap berakar pada kebudayaan Bali.

Usai pementasan, Gus Martin menyampaikan apresiasinya atas kesempatan yang diberikan kepada Sanggar Teater Agustus untuk tampil dalam festival tersebut.

Baca Juga  Calonarang ‘Geseng Waringin’ Sukses Pukau Penonton PKB, Angkat Pesan Kemurnian Hati

“Atas kesempatan untuk menampilkan pementasan ini, kami secara khusus menghaturkan dahating suksma kepada Ibu Ni Putu Putri Suastini Koster selaku penggagas utama FSBJ sebagai ranah berkreativitas para pegiat seni modern-kontemporer,” ujarnya.

Di tengah perkembangan seni pertunjukan Bali, Prasasti menunjukkan bahwa sejarah lokal dapat diolah menjadi karya teater yang tetap relevan dengan berbagai isu kontemporer. Melalui perpaduan narasi sejarah, fantasi perjalanan waktu, humor, kritik sosial, hingga refleksi kebangsaan, pementasan ini mengajak penonton menengok kembali jejak masa lalu sebagai cara memahami kegelisahan masa kini.

Pada akhirnya, yang tertinggal bukan sekadar kisah tentang Prasasti Blanjong atau pencarian artefak mitologis bernama Prasasti Nusantara. Yang tertinggal adalah kesadaran bahwa setiap generasi selalu memiliki prasastinya sendiri—sebuah penanda tentang siapa mereka, dari mana mereka berasal, dan ke mana mereka hendak melangkah. (gs/bi)

Loading

galungan dan kuningan dprd bali
Advertisements
iklan stikom
Advertisements
waisak
Advertisements
galungan dprd kabupaten badung
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca

SENI

Semarak, Ny. Putri Koster Saksikan “Bintang 5 Musika Jani” FSBJ VIII di Ardha Candra

Published

on

By

Ketua TP PKK Provinsi Bali Ny. Putri Koster menghadiri pentas Bintang 5 Musika Jani di Panggung Terbuka Ardha Candra
HADIRI FSBJ: Ketua TP PKK Provinsi Bali, Ny. Putri Koster saat hadiri pentas bertajuk “Bintang 5 Musika Jani” yang dibawakan oleh Sanggar Rareangon Sejati dalam rangkaian Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026, di Panggung Terbuka Ardha Candra Taman Budaya Provinsi Bali, Jumat (17/7) sore. (Foto: Hms Pemprov Bali)

Denpasar, baliilu.com – Gelaran Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 terus menghadirkan pertunjukan kreatif dan inovatif. Pada Jumat (17/7) malam, Panggung Terbuka Ardha Candra, Taman Budaya Provinsi Bali, dipenuhi energi musik dalam pentas bertajuk “Bintang 5 Musika Jani” yang dibawakan oleh Sanggar Rareangon Sejati.

Ketua TP PKK Provinsi Bali, Ny. Putri Koster, turut hadir menyaksikan langsung pertunjukan yang merupakan bagian dari program Pentas (Adilango) Musika Jani tersebut.

Musika Jani menjadi wadah ekspresi bagi para musisi untuk menampilkan karya-karya modern dengan sentuhan khas Bali. Sejumlah musisi dan grup turut memeriahkan acara ini, di antaranya Lolot, Bintang, Leeyonk Sinatra, Joni Agung & Double T, Radio Koplo, serta deretan band seperti State of Mind, Hottdog, Soullast Band, dan Six Aura Band.

Digelar mulai pukul 18.00 WITA hingga selesai, acara ini sukses menyedot perhatian masyarakat dan pecinta musik yang memadati arena pertunjukan. Penampilan yang variatif, mulai dari rock, pop, hingga nuansa etnik modern, menciptakan atmosfer hiburan yang dinamis sekaligus artistik, sehingga suasana malam semakin semarak. Kehadiran ribuan penonton yang memadati tribun Panggung Terbuka Ardha Candra semakin menambah kemeriahan acara bertabur bintang tersebut.

Festival Seni Bali Jani merupakan ajang tahunan yang menitikberatkan pada pengembangan seni modern dan kontemporer di Bali. Kegiatan ini digelar setelah Pesta Kesenian Bali sebagai ruang alternatif bagi para seniman untuk berkreasi lebih bebas tanpa meninggalkan akar budaya lokal.

Dengan mengusung tema “Kembara Sukma Atma Kerthi”, FSBJ VIII Tahun 2026 menjadi simbol perjalanan spiritual dan kreativitas seni menuju nilai-nilai yang lebih luhur. Festival ini juga diharapkan mampu menjadi wadah tumbuhnya talenta muda sekaligus memperkuat eksistensi seni Bali di tengah perkembangan zaman.

Baca Juga  Disambut Antusias, Sanggar Seni Cakup Kaler Duta Badung Dalam Pagelaran Semara Pegulingan PKB 2025

Pentas “Bintang 5 Musika Jani” menjadi salah satu bukti semaraknya kolaborasi musik modern dalam balutan identitas budaya Bali yang terus berkembang dan tetap relevan bagi generasi masa kini. (gs/bi)

Loading

galungan dan kuningan dprd bali
Advertisements
iklan stikom
Advertisements
waisak
Advertisements
galungan dprd kabupaten badung
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca