Thursday, 18 July 2024
Connect with us
https://www.baliviralnews.com/wp-content/uploads/2022/06/stikom-juni-25-2022.jpg

EKONOMI & BISNIS

Telat Bayar Langsung Diputus, Toya Devasya Berharap PLN Beri Kelonggaran

BALIILU Tayang

:

de
GM TOYA DEVASYA DR. KETUT MARDJANA

Denpasar, baliilu.com – Meski sudah beberapa kali mengajukan permohonan penundaan pembayaran, namun pihak PT PLN UID Bali tetap tidak menggubris. Bahkan aliran listrik usaha pariwisata di kawasan seputar Danau Batur Kintamani Bangli itu langsung diputus karena telat membayar.

“Kami bukan mengajukan pembebasan pembayaran, melainkan penundaan karena saat ini benar-benar tidak ada cash flow. Kami hanya minta diberi kelonggaran mencicil karena kondisi lagi sepi akibat pandemi Covid-19. Namun permohonan kami tak digubris, bahkan aliran listrik bulan ini langsung diputus,” ujar GM Toya Devasya Natural Hot Spring Dr. Ketut Mardjana saat ditanya awak media, Selasa (12/5-2020) sore di Denpasar.

de
KETUT MARDJANA: Minta penundaan pembayaran tagihan listrik saat pandemi Covid-19

Mardjana mengakui Toya Devasya belum membayar tagihan listrik dari PLN dengan nominal seratusan juta rupiah. Namun sambungan listrik pada ikon pariwisata Bangli ini sudah diputus. Hal yang juga sangat dialami rekan-rekan pelaku pariwisata lainnya.

Sejak Covid-19 ini, ungkap Mardjana, kunjungan wisatawan ke objek rekreasi wisata Toya Devasya nol sehingga tidak ada pemasukan sama sekali. Padahal pihaknya tetap harus melakukan kegiatan seperti perawatan, sementara biaya listrik tetap tinggi. “Kalau saat operasi kami bayar listrik per bulannya sekitar Rp 110- Rp 120 juta. Saat ini tetap harus bayar hampir Rp 80 juta. Jadi kami mengajukan penundaan bayar,” jelas mantan Dirut PT Pos Indonesia itu.

Sayangnya upaya yang dilakukan mentok, karena PLN tetap memutus aliran listrik sehingga ia tak bisa berbuat apa-apa. Mardjana berharap, ada kebijakan PLN untuk membantu dunia usaha dengan memberi kelonggaran waktu membayar, seperti halnya perbankan yang melakukan relaksasi bagi nasabahnya.

Mardjana yang juga Ketua PHRI Bangli ini menambahkan para pelaku usaha yang tergabung dalam perhimpunan hotel dan restoran ini sudah pula mengajukan permohonan ke tingkat pusat (DPP PHRI). Ia berharap apa yang menjadi kendala pengusaha di tengah beban berat saat ini bisa diapresiasi sehingga pengusaha tak semakin terpuruk.

Baca Juga  Sekda Bali Perintahkan Kalaksa BPBD Siapkan 10 Hotel Karantina untuk OTG dan Gejala Ringan

Ditambahkan Mardjana, PLN melakukan pemutusan listrik sampai tunggakan dilunasi, dengan batas waktu 3 bulan sampai 20 Juni. “Kalau belum dibayarkan, gardu akan dibongkar. Kami tak berniat untuk tidak membayar, hanya minta penundaan karena kesulitan cash flow,” tegas Mardjana yang juga Ketua BPPD Bangli ini.

Mardjana mengaku karena pandemi Covid-19 ini, usahanya sudah 2 bulan lebih tutup (23 Maret 2020), pegawai dirumahkan, sama sekali tidak ada cash flow. Dikatakan saat beroperasi, keberadaan Toya Devasya memberi kontribusi cukup banyak baik bagi PAD, 220 karyawannya, juga usaha lain yang berkaitan seperti pengadaan makanan (supplier), guide member yang mencapai 17 ribu orang hingga link-link perusahaan angkutan dan usaha lainnya.

Mardjana menyatakan jika ancaman pencabutan instalasi listrik, termasuk travo di destinasi di kawasan Danau Batur tentu saja untuk mengoperasikan wisata tirta yang dilengkapi akomodasi villa ini akan semakin super berat.

Hal senada disampaikan pelaku pariwisata di Tabanan Damara dan Sekjen Asita Bali Putu Winastra yang mengatakan kondisi saat ini sangat memprihatinkan. Mereka berharap ada semacam stimulus dari pemerintah untuk membantu pengusaha agar bisa bangkit kembali ketika wabah ini berakhir. (*/gs)

Advertisements
iklan sman 1 dps
Advertisements
gelombang 4b
Advertisements
waisak dprd badung
Advertisements
idul fitri dprd bali
Advertisements
iklan
Advertisement
Klik untuk Komentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

EKONOMI & BISNIS

Survei Juni 2024, Penjualan Eceran Bali Terus Tumbuh

Published

on

By

survei penjualan eceran bali
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali, Erwin Soeriadimadja. (Foto: dok baliilu)

Denpasar, baliilu.com – Kinerja penjualan eceran di Provinsi Bali pada Juni 2024 diprakirakan melanjutkan peningkatan dari bulan sebelumnya, tercermin dari Indeks Penjualan Riil (IPR) Bali pada Juni 2024 yang diprakirakan sebesar 113,4 atau meningkat 1,9% (mtm) dibandingkan bulan Mei 2024.

Hal ini menunjukkan kinerja penjualan eceran di Provinsi Bali masih tetap terjaga atau berada di level optimis (>100). IPR Bali tetap dalam tren peningkatan selama 16 (enam belas) bulan terakhir. Survei Penjualan Eceran (SPE) Bali merupakan survei bulanan terhadap 100 penjual eceran/pengecer di Kota Denpasar dan sekitarnya yang bertujuan untuk memperoleh informasi dini mengenai arah pergerakan pertumbuhan ekonomi dari sisi konsumsi.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali, Erwin Soeriadimadja, menyampaikan bahwa meningkatnya penjualan eceran tersebut didorong oleh pertumbuhan Sub-Kelompok Sandang yang meningkat sebesar 6,0% (mtm), Bahan Bakar Kendaraan Bermotor sebesar 5,5% (mtm) dan Barang Budaya dan Rekreasi sebesar 5,4% (mtm). Hal ini sejalan dengan peningkatan aktivitas libur dan cuti bersama Hari Besar Keagamaan Nasional (HKBN) Idul Adha dan periode libur sekolah sehingga mendorong meningkatnya kegiatan pariwisata di Bali.

Sejalan dengan hal tersebut, pertumbuhan penjualan eceran secara nasional juga mengalami pertumbuhan sebesar 2,1% (mtm) yakni dari 228,1 pada Mei 2024 menjadi 232,8 pada Juni 2024.

Dalam menjaga kinerja penjualan eceran dan tingkat konsumsi masyarakat, Bank Indonesia bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Provinsi Bali senantiasa berkoordinasi erat dalam menjaga stabilitas harga komoditas agar daya beli masyarakat tetap terjaga dan ekonomi Bali tetap tumbuh kuat. (gs/bi)

Advertisements
iklan sman 1 dps
Advertisements
gelombang 4b
Advertisements
waisak dprd badung
Advertisements
idul fitri dprd bali
Advertisements
iklan
Baca Juga  Ny. Putri Koster, Ajak Anggota IWAPI Kembangkan Tenun Bali
Lanjutkan Membaca

EKONOMI & BISNIS

Survei BI Bali Juni 2024, Optimisme Konsumen Tetap Kuat

Published

on

By

survei konsumen bali
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali, Erwin Soeriadimadja. (Foto: dok baliilu)

Denpasar, baliilu.com – Survei Konsumen Bank Indonesia pada Juni 2024 mengindikasikan keyakinan konsumen terhadap kondisi ekonomi Bali tetap kuat. Hal ini tercermin dari Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Provinsi Bali di bulan Juni 2024 yang tercatat sebesar 140,00, relatif stabil dibandingkan bulan sebelumnya sebesar 140,08 dan tetap terjaga pada level optimis (indeks > 100).

Optimisme konsumen yang terjaga juga didorong oleh stabilitas harga, khususnya bahan makanan di tengah periode panen hortikultura pada bulan Juni. Sementara itu, IKK nasional tercatat sebesar 123,3, menurun dari bulan sebelumnya sebesar 125,2 namun masih tetap berada pada level optimis. Survei konsumen merupakan survei bulanan Bank Indonesia untuk mengetahui tingkat keyakinan konsumen mengenai kondisi ekonomi saat ini dan ekspektasi konsumen terhadap kondisi perekonomian ke depan.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali, Erwin Soeriadimadja, menyampaikan bahwa Keyakinan Konsumen di Bali pada Juni 2024 yang tetap optimis ditopang oleh capaian Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) yang meningkat dari 146,33 menjadi 148,50 (1,48% mtm). Hal ini didorong oleh komponen pembentuk IEK, terutama pada Indeks Ekspektasi Kegiatan Usaha 6 bulan mendatang yang tumbuh 2,33% (mtm) menjadi sebesar 154,0, dan Indeks Ekspektasi Penghasilan yang tumbuh 3,14% (mtm) menjadi sebesar 148,0.

Di sisi lain, keyakinan konsumen tertahan Indeks Kondisi Ekonomi Saat ini (IKE) yang melambat 1,74% mtm dari 133,83 menjadi 131,50. Hal ini disebabkan komponen pembentuk IKE yakni Indeks Penghasilan Saat Ini dibandingkan 6 bulan yang lalu tercatat turun 1,78% (mtm) menjadi sebesar 138,0.

Demikian pula pada indeks konsumsi barang tahan lama dibandingkan 6 bulan yang lalu tercatat turun 6,10% (mtm) menjadi 115,00. Meskipun demikian, secara umum capaian tersebut masih berada pada zona optimis. Ekspektasi konsumen yang tetap terjaga di masa mendatang mempengaruhi perkembangan konsumsi rumah tangga ke depan, perkembangan investasi, meningkatnya produktivitas dan daya saing serta membuka peluang mendorong pertumbuhan ekonomi Bali yang tetap kuat. Hal ini tetap perlu diiringi dengan sejumlah langkah untuk menjaga daya beli masyarakat.

Baca Juga  Sekda Bali Perintahkan Kalaksa BPBD Siapkan 10 Hotel Karantina untuk OTG dan Gejala Ringan

Untuk itu, Erwin Soeriadimadja menyampaikan Bank Indonesia bersama Pemerintah Provinsi Bali melalui Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) baik di tingkat Provinsi maupun Kabupaten/Kota se-Bali senantiasa berkoordinasi erat guna mengawal stabilitas pasokan dan harga komoditas guna menjaga tingkat inflasi Provinsi Bali tetap pada rentang kisaran target 2,5%±1%. (gs/bi)

Advertisements
iklan sman 1 dps
Advertisements
gelombang 4b
Advertisements
waisak dprd badung
Advertisements
idul fitri dprd bali
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca

EKONOMI & BISNIS

Panen Raya di Bulan Mei Picu Bali Alami Deflasi

Published

on

By

bali deflasi
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali Erwin Soeriadimadja. (Foto: dok baliilu)

Denpasar, baliilu.com – Berdasarkan rilis BPS Provinsi Bali, perkembangan harga Provinsi Bali pada Mei 2024 secara bulanan mengalami deflasi sebesar -0,10% (mtm), lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya yang mengalami inflasi sebesar 0,32% (mtm) dan lebih dalam dibandingkan deflasi nasional sebesar -0,03% (mtm).

Namun secara tahunan, inflasi Provinsi Bali sebesar 3,54% (yoy), masih lebih tinggi dibandingkan inflasi nasional sebesar 2,84% (yoy). Secara spasial, Singaraja mengalami deflasi paling dalam yaitu sebesar -0,33% (mtm) atau 2,92% (yoy), diikuti Tabanan mengalami deflasi sebesar -0,28% (mtm) atau 3,56% (yoy), Badung mengalami deflasi sebesar -0,09% (mtm), atau 4,01% (yoy), dan Denpasar mengalami inflasi sebesar 0,05% (mtm), atau 3,52% (yoy).

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali Erwin Soeriadimadja melalui keterangan pers mengatakan berdasarkan komoditasnya, deflasi terutama bersumber dari penurunan harga beras, tomat, daging ayam ras, sawi hijau, dan cabai rawit. Penurunan harga beras dan cabai rawit didorong oleh melimpahnya pasokan sehubungan dengan masuknya musim panen raya di Provinsi Bali.

‘’Penurunan harga tomat dan sawi hijau sejalan dengan meningkatnya pasokan dari Jawa dan membaiknya cuaca. Selanjutnya, penurunan daging ayam ras didorong oleh meningkatnya pasokan dari Jawa dan menurunnya harga jagung sebagai bahan baku utama pakan ternak,’’ ujar Erwin.

Sementara itu, lanjut Erwin, laju deflasi yang lebih dalam tertahan oleh peningkatan harga bawang merah dan tarif parkir. Pada Juni 2024, terdapat beberapa risiko yang perlu diwaspadai antara lain kenaikan harga minyak kelapa sawit global yang berpotensi merambat ke harga minyak goreng dan bahan bakar di dalam negeri, ketidakpastian cuaca memengaruhi kesuburan tanaman, termasuk tanaman gumitir yang menjadi salah satu komponen canang sari, serta adanya konflik global yang berpotensi berpengaruh pada harga komoditas global yang dapat merambat ke harga-harga dalam negeri.

Baca Juga  Gubernur Koster Pimpin Langsung Aksi ‘’We Love Bali Movement’’

‘’Namun, terdapat beberapa faktor yang berpotensi menahan kenaikan inflasi lebih tinggi, diantaranya peningkatan alokasi pupuk bersubsidi dari pemerintah pusat dan penurunan harga jagung global sebagai bahan baku ternak, khususnya daging ayam ras dan telur ayam ras,’’ ujarnya.

TPID Provinsi dan Kabupaten/Kota di Bali secara konsisten melakukan pengendalian inflasi dalam kerangka kebijakan 4K antara lain: (i) Pelaksanaan kegiatan operasi pasar murah dan pemantauan harga terus diintensifkan, terutama untuk komoditas bahan pangan strategis; (ii) Imbauan Penjabat Gubernur Bali kepada jajaran di kabupaten/kota untuk memanfaatkan lahan pemerintah provinsi untuk ditanami tanaman bahan pokok sebagai salah satu langkah pengendalian inflasi; (iii) Mendorong kerja sama antardaerah dan pemberian benih unggul di beberapa kabupaten, seperti Badung dan Tabanan; serta (iv) Pelaksanaan High Level Meeting (HLM) TPID, baik di tingkat provinsi maupun kabupaten.

‘’Melalui langkah-langkah tersebut, Bank Indonesia meyakini inflasi tahun 2024 tetap akan terjaga dan terkendali dalam rentang sasaran 2,5±1%,’’ pungkasnya. (gs/bi)

Advertisements
iklan sman 1 dps
Advertisements
gelombang 4b
Advertisements
waisak dprd badung
Advertisements
idul fitri dprd bali
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca