Connect with us
https://www.baliviralnews.com/wp-content/uploads/2022/06/stikom-juni-25-2022.jpg

SENI

Terinspirasi Pandemi, Namsore Launching Album ‘’Punkdemick’’ di Twice Bar Kuta

BALIILU Tayang

:

de
Band Namsore saat perfoma. (Foto: Ist)

Denpasar, baliilu.com – Pandemi Covid-19 yang meluluhlantakkan sendi kehidupan ternyata tidak membuat grup band Namsore kehilangan daya kreativitasnya. Justru pandemi Covid menginspirasi album anyarnya bertajuk Punkdemic yang akhirnya resmi dilaunching di Twice Bar, Kuta, Sabtu, 23 April 2022.

Wira, salah satu personel Namsore mengungkapkan, Namsore secara global mengusung aliran musik Punk walaupun beberapa lagunya bernuansa pop dan slow rock. Dalam perjalanan proses pembuatan album terdapat beberapa kendala dan halangan, karena saat proses album ini dunia sedang dalam kondisi pandemi Covid-19. ‘’Meski di masa pandemi, album kami terselesaikan juga dalam bentuk rilisan fisik. Oleh  sebab   itu   kami   memilih   untuk   menggabungkan   kedua   kata   tersebut Punk + Pandemi menjadi satu yaitu Punkdemic yang kami luncurkan hari ini di Twice Bar Kuta. Segera akan kami luncurkan juga di semua platform music streaming,’’ terang Wira pemetik gitar yang didampingi Tom pemegang bass/vokal dan Dopel penggebuk drum sekaligus back vokal.

Pada kesempatan launching kali ini, Namsore juga resmi merilis Video Clip ke-4 yang diambil dari track No. 10 di album, yang berjudul “Nona Muda”. Lagu ini menceritakan fenomena yang terjadi di jaman sekarang yaitu Sugar Daddy. Diartikan seorang pria yang kaya, menghabiskan uangnya demi memanjakan dan memberikan semua kebutuhan untuk kekasih atau simpanannya, baik itu merupakan biaya tagihan, uang bulanan belanja pribadi, perhiasan, sewa rumah dan kebutuhan lainnya.

Album Punkdemic

Selain itu, juga sudah bisa streaming 7 lagu Namsore, yang sudah bisa didengarkan di iTunes, Amazon Music, Spotify, Deezer, iHeart Radio, Reverbnation, Soundcloud. Untuk informasi lebih lanjut dan lengkap mengenai Namsore, silahkan langsung cek di Instagram @namsore_official atau email: namsore18@gmail.com  Bisa juga order melalui Tokopedia: https://www.tokopedia.com/vins-records/cd-namsore-band?extParam=ivf%3Dfalse%26src%3Dsearch

Baca Juga  Unud Launching Program Wirausaha Merdeka Angkatan 2
Personel Namsore: Wira, Tom dan Dopel. (Foto: Ist)

Wira mengatakan, Namsore yang lahir 18 Juli 2018 berhome base di Vin’z Studio Jl. Dewi Supraba II, No. 3, Antasura, Denpasar ini memulai perform sebagai band pembuka, band penutup atau apapun pengisi acara dan juga mengikuti parade-parade serta festival musik. Namun untuk selanjutnya tidak menutup kemungkinan juga menjadi bintang tamu dalam event-event musik baik di dalam maupun luar Bali.

Namsore hadir di tengah-tengah blantika musik tanah air ingin ikut memberikan hiburan yang menyenangkan pada setiap event/acara dengan harapan ke depan bisa menjadi salah satu band indie Bali yang berhasil di balantika musik tanah air.

Wira (gitar/led vokal)

Namsore diambil dari singkatan Enam Sore, yang beranggotakan Wira (ex Postman & Chick Magnet) Guitar/Vocal, Tom (Chick Magnet) Bass/Vocal, dan Dopel (Snap Rawks) Drum/Back Voc. Namsore berawal dari keisengan Wira yang membuatkan studio latihan untuk Kevin, anaknya. Setelah melihat anaknya bertumbuh kembang dalam bermusik, tergugah rasa keinginan untuk kembali membentuk sebuah band. Wira pun mengajak Tom dan Dopel untuk kembali membuat band, yang jenis musiknya tidak jauh dari band mereka terdahulu.

Namsore berasal dari singkatan kata “Enam Sore”, yang memilliki beberapa arti: pertama, Bali sangat identik dengan Sunset, kedua, jadwal Namsore latihan yang selalu pukul 6 sore. Arti lain adalah Bali yang mayoritas penduduknya umat Hindu, juga melaksanakan persembahyangan Tri Sandya pada pukul 6 sore.

Tom (bass/vokal)

Meski terbilang band baru, namun Namsore sudah menjajal beberapa panggung di Bali. Ini berawal dari pertemanan yang sangat baik antara Tom dengan Koter, Bass/Vocal dari Racun Timur Menggoda, yang akhirnya Koter banyak membantu Namsore mencarikan panggung, seperti: Twice Bar, Gimme Shelter, Lingkara Space, Locally Session at Boshe VVIP Bali, Stel Peleng, dan acara lainnya. Salah satu acara besar untuk Namsore adalah pada 22 Februari 2019, turut serta memeriahkan acara Total Chaos World Tour 2019, bertempat di Pantai Mertasari, Sanur-Bali.

Baca Juga  Bupati Giri Prasta Launching Operasional Truck Compactor
Dopel (drumer/back vokal). (Foto: Ist)

Awalnya Namsore hanya meng-cover lagu band Punk dari Washington, America, MXPX, seperti: Let’s Ride, Doing Time, Responsibility, Chick Magnet. ‘’Seiring berjalannya waktu kami mencoba untuk menciptakan lagu sendiri. Sampai saat ini tercipta 1 instrumen/ intro dan 11 lagu berbahasa Indonesia, yaitu: Bergegas, Terdepan, Muak, Bosan, Sampai Mati, Dia, Damaikan Suasana, Wanita Gelap, Nona Muda, Ulang Tahun, Ambaudenda Nyakrawati, yang sudah kami rekam di 49wreckchord milik Dimas, Instant Karma pada awal bulan Desember 2018. Kami telah meluncurkan 3 Video Clip, yaitu: Muak, Bergegas dan Terdepan. Bisa ditonton di channel youtube @NAMSOREband Official,’’ ujar Wira seraya berharap

semoga dengan adanya lagu-lagu dari Namsore ini bisa memberi nafas baru untuk industri musik tanah air. Kami akan terus berusaha berkarya dan membuat yang terbaik. (gs/bi)

Loading

Advertisements
itb sikom bali 2a
Advertisements
nyepi dan idulfitri dprd badung
Advertisements
Nyepi DPRD Bali
Advertisements
iklan
Advertisement
Klik untuk Komentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

SENI

Parade Baleganjur Bebarongan, Tampilkan Seni Sarat Makna Spiritual dan Nilai Budaya

Published

on

By

Parade Baleganjur gianyar
BALEGANJUR BEBARONGAN: Salah satu penampilan parade baleganjur bebarongan pada Pekan Budaya Gianyar di Open Stage Balai Budaya Gianyar, Kamis (9/4) malam. (Foto: Hms Gianyar)

Gianyar, baliilu.com – Pemerintah Kabupaten Gianyar menggelar Parade Baleganjur Bebarongan Kecamatan se-Kabupaten Gianyar sebagai rangkaian Pekan Budaya Gianyar di Open Stage Balai Budaya Gianyar, Kamis (9/4) malam. Kegiatan ini menampilkan kekayaan seni tradisional Bali yang sarat akan makna spiritual dan nilai-nilai budaya.

Dalam parade, masing-masing kecamatan di Kabupaten Gianyar menampilkan kreativitas dan ciri khasnya dalam mengemas seni baleganjur babarongan yang berpadu dengan unsur tradisi serta kearifan lokal.

Penampilan diawali oleh Sekaa Gong Satya Jnana dari Kecamatan Gianyar yang mempersembahkan garapan berjudul “Nyapuh”. Dilanjutkan dengan penampilan Yowana Kembang Swara Banjar Juga bersama Komunitas Seni Pitha Mahaswara, dari Kecamatan Ubud, yang membawakan garapan “Gerinsing”, Pengayah Gong Sekaa Teruna Dharma Adnyana dari Kecamatan Tegallalang melalui garapan “Bwah Rong”, disusul oleh Sanggar Seni Gita Lestari dari Kecamatan Blahbatuh dengan sajian berjudul “Swara Raksa”.

Penampilan berikutnya Pesraman Satya Kumara Shanti, Kecamatan Payangan, yang menghadirkan garapan “Ruwat Mala”, kemudian dilanjutkan oleh Sekeha Gong Sila Pertipa dari Kecamatan Sukawati dengan garapan “Sida Arsa”. Penampilan ditutup oleh Sekaa Balaganjur Gandara Shanti dari Kecamatan Tampaksiring melalui garapan berjudul “Lawat Liwat”.

Kepala Dinas Kebudayaan Kabupaten Gianyar, I Wayan Adi Parbawa, menyampaikan bahwa perhelatan Pekan Budaya Gianyar, salah satunya menampilkan parade baleganjur bebarongan, merupakan upaya nyata pemerintah daerah dalam menjaga dan melestarikan nilai-nilai budaya yang hidup di desa adat.

Lebih lanjut, Adi Parbawa menegaskan bahwa estetika baleganjur bebarongan harus tetap ajeg dan lestari sebagai bagian dari kearifan lokal di masing-masing kecamatan.

Tak hanya itu, dirinya juga menambahkan bahwa baleganjur bebarongan telah menjadi salah satu identitas masyarakat Gianyar yang hadir hampir dalam setiap kegiatan keagamaan. “Kita ingin lebih menunjukkan cita karya kearifan lokal masing-masing, sehingga esensinya tetap terjaga, tradisinya tetap, dan spiritnya tetap,” tambahnya.

Baca Juga  Dekatkan Pelayanan ke Masyarakat, Pemkot Denpasar ‘’Launching’’ Pelayanan Cetak Adminduk di Desa/Lurah

Sementara itu, tokoh seniman, Dr. I Wayan Sudirana, S.Sn., M.A., Ph.D., mengapresiasi pelaksanaan Pekan Budaya Gianyar yang dinilai mampu memberikan ruang bagi para seniman untuk menuangkan kreativitas. Ia berharap parade baleganjur bebarongan tidak hanya berlangsung tahun ini, tetapi dapat terus berlanjut pada tahun-tahun mendatang. Menurutnya, kegiatan ini juga menjadi langkah awal dalam mempersiapkan diri menuju ajang Pesta Kesenian Bali (PKB).

“Saya ingin kegiatan ini tidak hanya tahun ini, melainkan terus berlanjut di tahun-tahun berikutnya,” ungkapnya.

Terlebih, baleganjur bebarongan sendiri memiliki keterkaitan erat dengan tradisi ngunya atau Ngiring Ida Bhatara, yakni prosesi mengarak Sesuhunan berupa Barong dan Rangda mengelilingi desa sebagai bagian dari ritual keagamaan. (gs/bi)

Loading

Advertisements
itb sikom bali 2a
Advertisements
nyepi dan idulfitri dprd badung
Advertisements
Nyepi DPRD Bali
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca

SENI

AA Istri Rai Setyawati, Seniman Tangguh yang Menjaga Nyala Tari dari Generasi ke Generasi

Published

on

By

Rai Setyawati
KASANGA FESTIVAL: Di tengah riuhnya pagelaran seni dalam rangkaian Kasanga Festival di Lapangan Puputan Badung I Gusti Ngurah Made Agung, Minggu (8/3), sosok AA Istri Rai Setyawati, SST (kebaya biru) tampak berdiri di antara anak-anak yang bersiap tampil. (Foto: Hms Dps)

Denpasar, baliilu.com – Di tengah riuhnya pagelaran seni dalam rangkaian Kasanga Festival di Lapangan Puputan Badung I Gusti Ngurah Made Agung, Minggu (8/3), sosok AA Istri Rai Setyawati, SST tampak berdiri di antara anak-anak yang bersiap tampil. Dengan tatapan lembut namun penuh ketegasan, perempuan berusia 73 tahun itu membimbing gerak demi gerak, memastikan setiap anak menari dengan percaya diri.

Usia boleh menua, namun semangat berkesenian dalam dirinya tetap menyala. Perempuan kelahiran Sayan, Gianyar ini telah menetap di Denpasar sejak menempuh pendidikan seni di Kokar. Sejak saat itu, hidupnya tak pernah jauh dari dunia tari Bali.

Bagi Rai Setyawati, seni tari bukan sekadar warisan budaya, tetapi juga napas kehidupan yang terus ia rawat hingga kini. Ia dikenal sebagai bagian dari generasi seniman tari yang tumbuh bersama maestro tari Bali, I Nyoman Suarsa, yang akrab disapa Pak Yang Pung.

Kini, sebagian besar rekan seangkatannya telah berpulang. Namun bagi Rai Setyawati, perjalanan pengabdian pada seni belum pernah benar-benar selesai.

“Semangat saya masih tetap berkobar dalam mengabdikan diri di bidang seni. Saat ini saya juga dipercaya menjadi pendidik di PAUD Saraswati 3,” ujarnya dengan senyum hangat.

Di tempat itulah ia menanamkan kecintaan pada seni kepada generasi paling muda. Dengan kesabaran dan ketelatenan, ia membimbing anak-anak usia dini mempelajari dasar-dasar gerak tari Bali—mulai dari gerakan tangan, sorot mata, hingga langkah kaki yang diajarkan perlahan.

Selain mengajar di PAUD Saraswati 3 Denpasar, Rai Setyawati juga rutin membimbing anak-anak di Sanggar Tari Rimantaka yang ia kelola bersama putrinya. Dari ruang-ruang latihan sederhana itu, lahir keberanian anak-anak untuk tampil dalam berbagai agenda budaya dan pertunjukan seni di Kota Denpasar.

Baca Juga  ‘’Launching’’ Vaksinasi Merdeka Anak, Kapolri: Upaya Menjaga Generasi Penerus Bangsa

Bagi Rai Setyawati, melihat anak-anak menari dengan penuh semangat merupakan kebahagiaan tersendiri. Baginya, itu adalah tanda bahwa tradisi terus menemukan ruang hidupnya di tengah generasi baru.

Di balik ketekunannya sebagai seniman, Rai Setyawati juga merupakan ibu dari empat anak, tiga putra dan satu putri. Nilai kerja keras dan pengabdian yang ia tanamkan sejak lama turut membentuk perjalanan hidup anak-anaknya.

Salah satu putranya, Dedy Sutrisna Agung, SE, M.Ec.Dev., kini mengabdi di salah satu perangkat daerah di Kota Denpasar serta aktif dalam kepengurusan adat di Desa Adat Penatih Puri. Menurut Dedy, kecintaan ibunya pada seni menjadi sumber kekuatan dalam perjalanan hidup keluarga mereka.

“Saya dibesarkan dari perjuangan ibu saat berkesenian. Beliau tidak hanya berkarya, tetapi juga mampu membiayai kebutuhan hidup keluarga dari dunia seni,” ujarnya. Ia juga menambahkan bahwa berkesenian seolah menjadi obat bagi sang ibu.

“Jika ibu diberi waktu dan kesempatan untuk terus berkesenian, sakitnya seperti hilang. Keluhan sebagai orang tua terasa berkurang ketika beliau bisa mengajarkan anak-anak menari,” katanya.

Bagi Rai Setyawati, seni tari bukan sekadar aktivitas. Ia adalah ruang pengabdian, tempat menyalurkan cinta pada budaya sekaligus sumber semangat untuk tetap berkarya.

Di usia yang semakin senja, ia masih setia berdiri di ruang latihan, mengajarkan gerak demi gerak kepada generasi penerus. Selama tubuh masih mampu bergerak dan ada anak-anak yang ingin belajar, baginya seni tari Bali harus terus hidup dan berkembang.

Dari tangan seorang guru seni seperti Rai Setyawati, nyala tradisi itu terus dijaga agar tetap menari dalam perjalanan waktu dan diwariskan kepada generasi berikutnya. (eka/bi)

Loading

Advertisements
itb sikom bali 2a
Advertisements
nyepi dan idulfitri dprd badung
Advertisements
Nyepi DPRD Bali
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca

SENI

Pecah! 10 Tahun Vakum, Dentuman Jegog Suar Agung Kembali Guncang Jepang

Published

on

By

Jegog Suar Agung
TUR BUDAYA: Sekaa Jegog Suar Agung sukses mengawali rangkaian tur budaya mereka dengan pementasan perdana yang spektakuler di Toyota City, Jepang, Kamis (19/2/2026) malam. (Foto: Hms Jembrana)

Jembrana, baliilu.com – Dentuman instrumen bambu raksasa khas Jembrana akhirnya kembali mengguncang publik Negeri Sakura.

Setelah “puasa” selama 10 tahun, Sekaa Jegog Suar Agung sukses mengawali rangkaian tur budaya mereka dengan pementasan perdana yang spektakuler di Toyota City, Jepang, Kamis (19/2/2026) malam.

Ribuan pasang mata dibuat tak berkedip oleh resonansi nada rendah dan ritme eksplosif dari Bumi Makepung.

Kehadiran delegasi seni ini seolah menjadi obat rindu sekaligus bukti nyata bahwa Jegog tetap memiliki tempat istimewa di kancah internasional meski sempat absen selama satu dekade.

Penampilan sekaa Jegog Suar Agung dipimpin oleh I Gede Oka Artha Negara, sosok pimpinan Jegog Suar Agung yang dikenal sebagai konseptor dan pencipta komposisi musikal bambu berkarakter kuat dan dinamis.

Ia merupakan putra maestro almarhum I Ketut Suwentra, sosok legendaris yang dijuluki “Pekak Jegog” dan berjasa besar membawa Jegog ke panggung internasional. Pada pementasan kali ini, Gede Oka juga mengajak putra-putrinya Okky Junior Sadewa dan Ikko Suar Agung Dewi sebagai penari Jegog Suar Agung untuk regenerasi kesenian Jegog Suar Agung.

“Antusiasme penonton di Toyota City luar biasa. Ini membuktikan bahwa resonansi bambu Jembrana memiliki tempat spesial di hati warga Jepang,” ujar pimpinan Suar Agung, I Gede Oka Artha Negara.

Disisi lain, bagi Ikko Suar Agung Dewi, pementasan di Jepang kali ini memiliki tantangan tersendiri mengingat untuk pertama kalinya ia ikut mendampingi dan turun langsung dalam pertunjukan besar Jegog Suar Agung.

“Tur ini bukan sekadar agenda pementasan, melainkan bagian dari komitmen jangka panjang untuk melestarikan dan mengembangkan Jegog Suar Agung,” ungkap Ikko Suar Agung Dewi.

Baca Juga  Dokter Sahadewa Launching ‘’Siwanggama’’ di Puri Langon Ubud

Ia menegaskan pentingnya regenerasi, pembinaan generasi muda, serta penguatan jejaring internasional agar musikal bambu khas Jembrana tetap hidup dan relevan di tengah perkembangan zaman.

Melalui Jegog Suar Agung ini, Ikko Dewi bertekad menjaga warisan leluhur agar tidak hanya bertahan sebagai tradisi, tetapi terus bertumbuh sebagai kebanggaan budaya yang mendunia terlebih Kakek merupakan Sang Maestro Jegog.

Rombongan yang sebelumnya dilepas oleh Bupati Jembrana, I Made Kembang Hartawan ini, dijadwalkan akan berkeliling ke sejumlah kota besar di Jepang selama 12 hari ke depan. Misi ini diharapkan tidak hanya menjadi tontonan seni, tetapi juga memperkuat hubungan diplomatik Indonesia-Jepang lewat jalur kebudayaan.

Dentuman bambu dari Desa Sangkar Agung akan kembali menggema di Negeri Sakura—menegaskan bahwa Jegog Suar Agung bukan sekadar pertunjukan seni, melainkan duta budaya yang mempererat hubungan Indonesia dan Jepang dari generasi ke generasi. (gs/bi)

Loading

Advertisements
itb sikom bali 2a
Advertisements
nyepi dan idulfitri dprd badung
Advertisements
Nyepi DPRD Bali
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca