Connect with us
https://www.baliviralnews.com/wp-content/uploads/2022/06/stikom-juni-25-2022.jpg

NEWS

Update Covid-19 Selasa (21/4) Positif Bertambah 10 Orang Imported Case 82,67%, Dewa Indra: Komposisi Tentukan Strategi Penanganan

BALIILU Tayang

:

de
KETUA HARIAN GUGUS TUGAS COVID-19 BALI DEWA MADE INDRA

Denpasar, baliilu.com – Sampai Selasa petang (21/4) kasus positif Covid-19 di Bali didominasi 82,67 persen dari imported case dan daerah terjangkit. Komposisi ini menentukan strategi yang dilakukan Pemerintah Provinsi Bali melalui Tim Gugus Tugas Covid-19.

‘’Karena sumber resiko di Bali adalah imported case, maka strategi yang diutamakan adalah melakukan screening dan pemeriksaan yang sangat ketat, baik di Bandara Ngurah Rai, Pelabuhan Benoa dan Gilimanuk. Tak ada orang yang masuk atau bisa masuk ke tengah masyarakat kalau dia positif Covid-19,’’ terang Ketua Harian Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19  Provinsi Bali Dewa Made Indra saat video conference, Selasa petang (21/4-2020) di Kantor Dinas Kominfos Provinsi Bali Renon, Denpasar.

Oleh karena itu, kata Dewa Indra yang juga Sekda Bali, proses pemeriksaan dilakukan seketat mungkin. Baik melalui serangkaian pemeriksaan seperti suhu tubuh dan rapid test. Agar setiap orang diketahui segera, positif, reaktif terhadap Covid-19 atau tidak.

Dewa Indra lanjut menginformasikan perkembangan update Covid-19 sampai Selasa petang dimana ada pertambahan kasus positif sebanyak 10 orang dari warga negara Indonesia. 10 orang ini terdiri dari 7 orang punya riwayat perjalanan ke luar negeri (PMI), transmisi local 2 orang dan dari daerah terjangkit 1 orang. Jumlah akumulatif positif sampai sore ini sebanyak 150 orang. Untuk yang sembuh belum mendapat laporan, dengan kata lain masih tetap 42 orang, yang meninggal masih tetap 3 orang.

Selanjutnya pasien yang masih dalam perawatan baik di rumah sakit dan karantina sebanyak 105 orang. Dari jumlah akumulatif positif 150 orang terdiri dari 8 orang WNA dan 142 WNI. Sedangkan 142 orang WNI menurut sumber dimana terinfeksi, dari imported case sebanyak 99 orang, dari daerah terjangkit 17 orang, dan transmisi lokal 26 orang.

Baca Juga  Sekda Dewa Indra: Insentif Tenaga Covid-19 Juli Ini Terbayar

Sementara itu, jika dipersentasekan antara yang terjangkit melalui transmisi lokal dan imported case sebagai berikut. Positif transmisi lokal sebanyak 26 orang sama dengan 17,33% dari akumulatif positif sebanyak 150 orang. Positif dari imported case (baik dari luar negeri dan daerah terjangkit) sebanyak 124 orang sama dengan 82,67%.

 Artinya, kata Dewa Indra, dari 150 orang terkonfirmasi ini yang terjadi melalui transmisi lokal 17,33% dan imported case 82,67%. Angka ini penting untuk bisa memahami strategi apa yang dilakukan Pemerintah Provinsi Bali. Karena strategi yang diterapkan tidak harus persis sama dengan daerah lain. Pendekatannya sangat tergantung pada sumber resikonya.

Kalau di ibukota Jakarta kasus positif banyak terjadi karena transmisi local, maka strategi penanganan penyebaran Covid-19 melalui pembatasan aktivitas penduduk, untuk membatasi ruang gerak warga masyarakat.

Namun sumber resiko di Bali adalah imported case, tegas Dewa Indra, maka strategi yang diutamakan adalah melakukan screening dan pemeriksaan yang sangat ketat, baik di Bandara Ngurah Rai, Pelabuhan Benoa dan Gilimanuk. ‘’Tak ada orang yang masuk atau bisa masuk ke tengah masyarakat kalau dia positif Covid-19,’’ ujar Dewa Indra.

Oleh karena itu, proses pemeriksaan dilakukan sangat ketat. Baik melalui serangkaian pemeriksaan suhu tubuh dan rapid test. Pemeriksaan yang seketat mungkin ini agar setiap orang bisa segera diketahui apakah positif, reaktif terhadap Covid-19 atau tidak.

Jika setelah melalui rapid test dinyatakan positif maka diambil oleh Pemprov Bali untuk dirawat di RS PTN Unud, RSUP Sanglah atau karantina Pemprov Bali agar benar-benar tidak masuk ke tengah-tengah masyarakat. Jika hasilnya negatif maka akan dikarantina pemerintah kabupaten/kota selama 14 hari.  

Meskipun yang positif terkonfirmasi melalui transmisi lokal 17,33% bukan berarti Tim Gugus Tugas mengabaikan cara pencegahan melalui transmisi lokal. Pada prioritas, angka 17,33 persen ini tentu juga angka yang penting. ‘’Kita berharap angka ini tidak naik. Strategi untuk mengendalikan agar transmisi lokal tidak bertambah lagi tentu berbeda dengan strategi untuk menghadapi imported case,’’ ujar Dewa Indra.

Baca Juga  Bakti Sosial Satgas Covid-19 MGPSSR Bali di Denpasar, Distribusikan Sembako dan APD Donasi Semeton

Untuk mencegah transmisi local naik, Dewa Indra menyatakan kita harus disiplin betul untuk menerapkan, semua warga Bali menggunakan masker terutama di luar rumah, berinteraksi dengan orang lain, rajin mencuci tangan dengan sabun di air yang mengalir, harus berusaha terus menjaga jarak aman dengan orang lain, kita semua berupaya menghindari tempat ramai, berinteraksi dengan banyak orang. Karena kita tidak pernah tahu apakah yang diajak berinteraksi positif atau tidak, mengingat banyak orang yang positif tidak menunjukkan gejala seperti demam, batuk atau sesak napas dll.

‘’Oleh karena itu, untuk mengendalikan kasus transmisi lokal tidak berkembang terus, saya tidak pernah berhenti untuk mengajak masyarakat disiplin dalam menjalankan upaya-upaya pencegahan. Karena kunci utama untuk mencegah penyebaan Covid-19 melalui transmisi lokal adalah menggunakan masker, mencuci tangan, menjaga jarak dan menghindari kerumunan, keramaian. Jika itu bisa dilakukan oleh seluruh masyarakat Bali maka kasus transmisi lokal tidak akan bertambah,’’ ujar Dewa Indra optimis.

Sedangkan kasus imported case agak sulit dikendalikan. Mengapa, karena masih banyak warga masyarakat Bali yang merupakan PMI sedang pulang ke Bali. Karena mereka menghadapi persoalan di perusahaan tempat bekerja di luar negeri. ‘’Jadi tidak mungkin kita mengambil kebijakan menghambat atau mencegah, atau mengerem imported case ini dengan kita mengambil kebijakan tidak mempersilakan pulang, itu tidak mungkin kita lakukan karena PMI yang pulang ini adalah warga masyarakat kita sendiri,’’ ungkap Dewa Indra.

Yang terpenting adalah meskipun terus pulang, terus berdatangan, Tim Gugus Tugas memastikan melakukan screening, pemeriksaan yang sangat ketat di bandara dan pelabuhan sebagai pintu masuk Bali. Meski kasus ini bertambah angkanya, mereka tidak kita lepas di tengah masyarakat, sehingga mereka tidak menginfeksi orang lain di masyarakat.

Baca Juga  Update Covid-19 Kamis (14/5), Dewa Indra: Banyak Warga Tak Disiplin, Gubernur Bali Keluarkan Imbauan Gunakan Masker

‘’Mudah-mudahan melalui upaya kita bersama maka Covid-19 ini dapat kita kendalikan bersama di Bali dan penyebarannya bisa kita tekan sampai pada titik yang rendah sehingga kehidupan masyarakat bisa pulih kembali dan aktivitas perekonomian bergerak, berputar lagi dan kehidupan masyarakat menjadi normal. (*/gs)

Loading

Advertisements
dprd bali
Advertisements
hut pemprov dprd badung
Advertisements
iklan
Advertisement
Klik untuk Komentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

NEWS

Sarkofagus Berusia Ribuan Tahun Ditemukan di Desa Bengkel, Jadi Jejak Kehidupan Prasejarah

Published

on

By

Sarkofagus Peninggalan Megalitikum di Desa Bengkel
Sarkofagus yang ditemukan sekitar tahun 2006 di Banjar Salin, Desa Bengkel. (Foto: Hms Buleleng)

Buleleng, baliilu.com – Desa Bengkel, Kecamatan Busungbiu, Kabupaten Buleleng, menyimpan peninggalan bersejarah dari era prasejarah berupa sarkofagus atau peti kubur batu. Benda purbakala berbentuk menyerupai telur tersebut menjadi salah satu bukti adanya kehidupan masyarakat pada masa megalitikum di kawasan itu.

Sarkofagus tersebut ditemukan sekitar tahun 2006 di Banjar Salin, Desa Bengkel. Penemuan bermula saat aktivitas pengerukan dan perataan tanah dilakukan di lahan milik warga untuk rencana pembangunan perumahan serta pembuatan batu bata merah.

Jro Made Widiasa menuturkan, awalnya pekerja menemukan batu cadas berukuran besar ketika menggali dan meratakan gundukan tanah. Setelah dilakukan penggalian lebih lanjut, barulah terlihat bentuk benda yang diketahui sebagai sarkofagus.

“Awalnya ada gundukan tanah yang diratakan untuk perumahan. Ketika digali, pekerja menemukan batu cadas berukuran besar. Setelah terus digali, barulah terlihat wujud sarkofagus tersebut,” ujar Jro Made Widiasa selaku Tetua dan Tokoh Adat setempat, saat ditemui, Sabtu 7 November 2026.

Sarkofagus tersebut memiliki panjang sekitar 1,5 meter dengan bentuk bulat polos tanpa ukiran maupun motif hiasan. Karakteristiknya disebut menyerupai sarkofagus yang sebelumnya ditemukan di kawasan Gilimanuk.

Dalam tradisi megalitikum, sarkofagus merupakan wadah pemakaman yang umumnya dikaitkan dengan tokoh-tokoh penting dalam kelompok masyarakat, seperti pemimpin komunitas maupun orang yang dihormati.

Keberadaan peninggalan tersebut pun menjadi petunjuk penting untuk menelusuri kehidupan masyarakat prasejarah di Desa Bengkel. Temuan ini membuka peluang penelitian lebih lanjut mengenai keberadaan komunitas serta perkembangan kehidupan sosial masyarakat pada masa lampau.

“Temuan ini menjadi dasar bagi kami untuk melakukan eksplorasi dan penelitian lebih lanjut. Hal ini membuktikan bahwa ada kehidupan dan komunitas masyarakat yang berkembang di Desa Bengkel sejak zaman prasejarah, perkiraannya berasal dari tradisi megalitikum,” tambahnya.

Baca Juga  Update Covid-19 di Denpasar, 1 Orang Pasien Corona Meninggal dengan Penyakit Bawaan Asma

Namun, proses pengungkapan sejarah peninggalan tersebut tidak sepenuhnya berjalan mudah. Saat pertama kali ditemukan, sejumlah pecahan tembikar yang berada di sekitar lokasi sempat terbuang sebelum sempat diteliti lebih lanjut.

Selain itu, berkembangnya cerita mistis di tengah masyarakat, termasuk adanya warga yang mengalami kerauhan atau kesurupan, turut memengaruhi proses penelitian mendalam terhadap temuan tersebut.

Penelitian kemudian mulai direalisasikan dengan melibatkan tim ahli dan kalangan akademisi untuk menggali informasi mengenai nilai sejarah serta konteks keberadaan sarkofagus tersebut.

Hingga kini, peninggalan purbakala itu masih disimpan dan dilestarikan di lokasi asalnya di Banjar Salin, Desa Bengkel. Keberadaannya menjadi bagian dari kekayaan sejarah desa yang perlu dijaga sekaligus diteliti lebih lanjut. (gs/bi)

Loading

Advertisements
dprd bali
Advertisements
hut pemprov dprd badung
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca

NEWS

Wagub Giri Prasta Serahkan Bantuan Rp 98 Juta kepada Tiga Korban Kebakaran di Jembrana

Pemprov Bali Juga Salurkan Bantuan Penguatan Ekonomi Rp 206 Juta kepada 27 Penerima

Loading

Published

on

By

Wagub Giri Prasta Serahkan Bantuan untuk Korban Kebakaran
SERAHKAN BANTUAN: Wakil Gubernur Bali, I Nyoman Giri Prasta, menyerahkan bantuan sosial senilai total Rp 98 juta kepada tiga warga terdampak bencana kebakaran di Kabupaten Jembrana, Kamis (5/11/2026). (Foto: Hms Pemprov Bali)

Jembrana, baliilu.com – Wakil Gubernur Bali, I Nyoman Giri Prasta, menyerahkan bantuan sosial senilai total Rp 98 juta kepada tiga warga terdampak bencana kebakaran di Kabupaten Jembrana, Kamis (5/11/2026). Bantuan tersebut diperuntukkan bagi perbaikan rumah warga yang mengalami kerusakan akibat kebakaran.

Dalam kegiatan tersebut, Wagub Giri Prasta didampingi Bupati Jembrana, I Made Kembang Hartawan; mantan Bupati Jembrana periode 2000–2010, I Gede Winasa; serta Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Bali, I Gede Agung Teja Bhusana Yadnya.

Bantuan sosial diserahkan secara simbolis kepada tiga penerima dengan nilai yang disesuaikan berdasarkan kondisi kerusakan bangunan akibat kebakaran.

Ketiga penerima tersebut yakni I Ketut Sumerta, warga Banjar Ketiman, Desa Manistutu, Kecamatan Melaya, yang menerima bantuan Rp 23 juta untuk perbaikan rumah dengan kategori rusak sedang.

Selanjutnya, I Kadek Dwi Loka Wijaya, warga Banjar Dauh Pangkung, Desa Pekutatan, Kecamatan Pekutatan, menerima bantuan Rp 50 juta untuk perbaikan rumah dan balai sari yang mengalami kerusakan berat.

Sementara itu, Ahmad Kurniawan, warga Banjar Anyar, Desa Air Kuning, Kecamatan Jembrana, menerima bantuan Rp 25 juta untuk perbaikan rumah yang mengalami kerusakan sedang.

Dalam kesempatan tersebut, Wagub Giri Prasta menyampaikan keprihatinan mendalam atas musibah kebakaran yang menimpa warga. Ia menegaskan bahwa Pemerintah Provinsi Bali terus berupaya hadir membantu masyarakat yang menghadapi kesulitan akibat bencana.

“Ini adalah wujud implementasi program Bapak Gubernur Bali, salah satunya dalam penanganan bencana. Atas nama Pemerintah Provinsi Bali, kami memberikan bantuan sesuai dengan kerugian yang dialami masyarakat akibat bencana,” ujar Wagub Giri Prasta.

Ia berharap bantuan yang diberikan dapat meringankan beban masyarakat sekaligus mendukung pemulihan tempat tinggal agar warga dapat kembali menjalankan aktivitas sehari-hari dengan aman dan nyaman.

Baca Juga  Bakti Sosial Satgas Covid-19 MGPSSR Bali di Denpasar, Distribusikan Sembako dan APD Donasi Semeton

“Bantuan ini sudah dipergunakan untuk membangun kembali rumah yang sebelumnya terkena bencana. Semoga rumah yang dibangun ini bisa dijadikan tempat beraktivitas yang aman dan nyaman,” imbuhnya.

Pada kesempatan yang sama, Wagub Giri Prasta juga menyerahkan bantuan tambahan senilai Rp 2 juta kepada salah satu korban kebakaran, I Ketut Sumerta.

Selain bantuan perbaikan rumah bagi korban kebakaran, Pemerintah Provinsi Bali juga menyalurkan bantuan sosial berupa penguatan ekonomi kepada 27 penerima manfaat di Kabupaten Jembrana dengan total nilai mencapai Rp 206 juta.

Berdasarkan data BPBD Provinsi Bali, penyaluran kedua jenis bantuan tersebut mencapai Rp 304 juta, terdiri atas bantuan perbaikan rumah sebesar Rp 98 juta kepada tiga penerima dan bantuan penguatan ekonomi sebesar Rp 206 juta kepada 27 penerima.

Bantuan ini merupakan bagian dari upaya Pemerintah Provinsi Bali dalam mendukung pemulihan masyarakat yang terdampak bencana atau musibah, baik dari aspek tempat tinggal maupun kondisi ekonomi.

Berdasarkan data BPBD Provinsi Bali, penyerahan bantuan pada 5 November 2026 merupakan penyerahan bantuan yang kesepuluh di Kabupaten Jembrana sejak awal tahun 2026.

Sebelumnya, Pemerintah Provinsi Bali telah melaksanakan sembilan kali penyerahan bantuan serupa dengan nilai keseluruhan mencapai Rp 507,5 juta.

Dengan tambahan bantuan sebesar Rp304 juta yang diserahkan pada 5 November 2026, total bantuan sosial yang telah disalurkan kepada masyarakat Kabupaten Jembrana hingga November 2026 mencapai Rp 811,5 juta.

Penyaluran bantuan secara berkelanjutan tersebut menjadi salah satu bentuk kehadiran Pemerintah Provinsi Bali dalam membantu masyarakat yang terdampak bencana atau musibah serta mendukung percepatan pemulihan kehidupan sosial dan ekonomi warga. (gs/bi)

Loading

Advertisements
dprd bali
Advertisements
hut pemprov dprd badung
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca

NEWS

Wagub Giri Prasta Serahkan Bantuan kepada 27 Petani Terdampak Gagal Panen di Jembrana

Dorong Konservasi Sumber Air dan Perlindungan Harga Hasil Pertanian untuk Menjaga Kesejahteraan Petani

Loading

Published

on

By

Wagub Giri Prasta Serahkan Bantuan untuk Petani Jembrana
SERAHKAN BANTUAN: Wakil Gubernur Bali, I Nyoman Giri Prasta, menyerahkan bantuan sosial penguatan ekonomi kepada 27 petani terdampak kekeringan dan gagal panen di Kecamatan Negara, Kabupaten Jembrana, Kamis (5/11/2026). (Foto: Hms Pemprov Bali)

Jembrana, baliilu.com – Wakil Gubernur Bali, I Nyoman Giri Prasta, menyerahkan bantuan sosial penguatan ekonomi kepada 27 petani terdampak kekeringan dan gagal panen di Kecamatan Negara, Kabupaten Jembrana, Kamis (5/11/2026). Bantuan diserahkan di Balai Subak Pangkung Buluh, didampingi Bupati Jembrana, I Made Kembang Hartawan.

Sebanyak 27 petani penerima bantuan berasal dari tiga subak, yakni Subak Peh, Subak Pangkung Buluh, dan Subak Tegal Jati. Mereka mengalami kerugian akibat keterbatasan pasokan air irigasi selama musim kemarau yang berdampak terhadap produktivitas pertanian.

Dalam kegiatan tersebut, Wagub Giri Prasta menyerahkan bantuan secara simbolis kepada empat perwakilan petani, yakni I Ketut Kaler sebesar Rp 20 juta, I Ketut Waca sebesar Rp 15,6 juta, I Ketua Malya sebesar Rp 8,9 juta, dan I Made Winata sebesar Rp 8,4 juta.

“Ini program dari Pemerintah Provinsi Bali. Semoga bantuan ini dapat mengurangi beban masyarakat petani yang terdampak gagal panen,” ujar Giri Prasta.

Ia menegaskan bahwa Pemerintah Provinsi Bali memberikan perhatian terhadap kondisi petani yang mengalami kerugian akibat kekeringan. Bantuan tersebut diharapkan dapat mendukung pemulihan usaha pertanian, memperkuat ekonomi keluarga, serta menjaga keberlanjutan aktivitas pertanian.

Wagub Giri Prasta mengapresiasi kerja keras para petani yang terus berupaya mempertahankan produktivitas pertanian di tengah keterbatasan ketersediaan air. Menurutnya, petani memiliki peran strategis dalam menjaga ketahanan dan kedaulatan pangan.

Ia menyampaikan bahwa Gubernur Bali memberikan perhatian terhadap kondisi petani yang mengalami gagal panen agar mereka tidak harus menanggung kerugian tanpa adanya dukungan pemerintah.

“Pemerintah hadir untuk membantu meringankan kerugian yang dialami petani. Kita tidak ingin para petani yang sudah bekerja keras justru menghadapi kesulitan tanpa mendapatkan perhatian,” ungkapnya.

Baca Juga  Tandatangani Prasasti, Bupati Giri Prasta Komit Tingkatkan Pendapatan Desa Adat

Dalam dialog bersama Wagub Giri Prasta, sejumlah petani menyampaikan berbagai persoalan yang dihadapi, mulai dari menurunnya debit air irigasi, kerusakan saluran pengairan, hingga harga jual hasil pertanian yang dinilai belum menguntungkan petani.

I Ketut Kaler mengeluhkan semakin berkurangnya debit air irigasi yang berdampak terhadap produktivitas dan pendapatan krama subak. Ia juga berharap pemerintah memberikan perhatian terhadap stabilitas harga hasil pertanian.

Sementara itu, I Ketut Waca menyampaikan persoalan kebocoran saluran irigasi yang menyebabkan distribusi air ke lahan pertanian tidak optimal. Ia juga mengusulkan perbaikan sumur bor serta penggantian pompa berbahan bakar solar menjadi pompa bertenaga listrik.

“Kami berharap sumur bor yang ada dapat diperbaiki dan menggunakan tenaga listrik. Selama ini penggunaan bahan bakar solar menjadi kendala karena sulit diperoleh,” ujar I Ketut Waca.

Menanggapi persoalan menurunnya debit air irigasi, Wagub Giri Prasta menekankan pentingnya langkah konservasi sumber daya air secara berkelanjutan. Ia mengajak pemerintah daerah, pemangku kepentingan, dan krama subak bersinergi menjaga kawasan hulu bendungan melalui penghijauan dan penanaman pohon.

Secara khusus, Giri Prasta menyoroti pentingnya pelestarian kawasan hulu Bendungan Benel dan Bendungan Palasari sebagai bagian dari upaya menjaga ketersediaan air bagi sektor pertanian.

“Di sini ada Bendungan Benel dan Bendungan Palasari. Kita harus mulai melakukan penanaman pohon yang mendukung kelestarian sumber air di kawasan hulu bendungan. Ini untuk kepentingan jangka panjang, bagi anak cucu dan generasi mendatang,” tegasnya.

Menurutnya, konservasi kawasan hulu menjadi langkah penting untuk menjaga keberlanjutan pasokan air irigasi sekaligus mengurangi ketergantungan petani terhadap penggunaan sumur bor.

Ia juga mengaitkan upaya pelestarian lingkungan tersebut dengan nilai kearifan lokal Bali melalui perayaan Tumpek Uduh yang mengajarkan penghormatan dan pemuliaan tumbuh-tumbuhan sebagai sumber kehidupan.

Baca Juga  Sekda Dewa Indra: Insentif Tenaga Covid-19 Juli Ini Terbayar

Selain persoalan ketersediaan air, Wagub Giri Prasta turut menyoroti pentingnya perlindungan harga hasil pertanian agar para petani memperoleh pendapatan yang layak, terutama saat memasuki musim panen.

Ia menyampaikan bahwa persoalan harga hasil pertanian telah dikoordinasikan dengan tim pengendalian inflasi daerah sebagai bagian dari upaya menjaga stabilitas harga pasar dan melindungi kepentingan petani.

Menurutnya, upaya menjaga harga hasil pertanian merupakan bagian dari tanggung jawab pemerintah dalam memperkuat ketahanan dan kedaulatan pangan sebagaimana menjadi prioritas pemerintah pusat.

“Ini tanggung jawab pemerintah untuk menjaga kedaulatan pangan, sesuai arahan Bapak Presiden Republik Indonesia. Kami akan berupaya menjaga agar harga hasil pertanian tidak jatuh saat musim panen,” tegas Giri Prasta.

Melalui penyerahan bantuan sosial penguatan ekonomi tersebut, Pemerintah Provinsi Bali berharap para petani terdampak gagal panen dapat kembali menjalankan aktivitas pertanian sekaligus mempertahankan perekonomian keluarga.

Selain bantuan langsung, perhatian terhadap keberlanjutan sektor pertanian juga diarahkan pada upaya pelestarian sumber air, perbaikan sistem irigasi, serta stabilisasi harga hasil pertanian agar kesejahteraan petani dapat terus ditingkatkan.

Turut mendampingi dalam kegiatan tersebut Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Bali, I Gede Agung Teja Bhusana Yadnya. (gs/bi)

Loading

Advertisements
dprd bali
Advertisements
hut pemprov dprd badung
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca