Connect with us
https://www.baliviralnews.com/wp-content/uploads/2022/06/stikom-juni-25-2022.jpg

NEWS

Tradisi Temu Teknologi: Pameran Inovasi Teknologi Tradisional di Serangan

BALIILU Tayang

:

Temu Teknologi di serangan
TRADISI TEMU TEKNOLOGI : 10 inovator terpilih bersama Co-Founder Pratisara Bumi Foundation (PBF), Fab Lab Bali dan Culture Art Science Technology (CAST Foundation), berfoto bersama saat melaksanakan program ‘’Traditional Technology Innovators Residence & Hackathon’’ yang bermitra dengan Lingkar Temu Kabupaten Lestari dan Women’s Earth Alliance yang dilaksanakan di Bale Desa Serangan, pada Minggu, 18 Mei 2025. (Foto: gs)

Denpasar, baliilu.com – Pratisara Bumi Foundation (PBF), Fab Lab Bali dan Culture Art Science Technology (CAST Foundation), melaksanakan program Traditional Technology Innovators Residence & Hackathon yang bermitra dengan Lingkar Temu Kabupaten Lestari dan Women’s Earth Alliance. Sebuah program yang telah bergulir sejak bulan Desember 2024. Tradisi Temu Teknologi dilaksanakan di Bale Desa Serangan yang lokasinya berhadapan dengan Wantilan Pura Desa Puseh Lan Bale Agung, Serangan, Denpasar, Bali, pada Minggu, 18 Mei 2025.

Program Traditional Technology Innovators Residence & Hackathon dimulai dari semangat mengajak generasi muda Indonesia usia 17-35 tahun untuk kembali mengembangkan pengetahuan lokal yang aplikatif di tempat asalnya melalui inovasi teknologi tradisional. Di mana pada praktiknya, teknologi tradisional secara turun temurun bisa memenuhi empat dasar filosofi kebutuhan hidup dasar yaitu sandang (fashion), pangan (food), papan (shelter), sadar (wellness).

Setelah mengikuti seleksi cerita, tahapan berikutnya yaitu pemilihan 10 inovator dari 10 kabupaten berbeda yang lolos ke tahap Hackathon. Tahapan ini lebih intensif karena mempertemukan proses inovasi secara langsung. Seluruh inovator mengembangkan idenya menjadi prototipe low-fi, terhitung sejak 09 hingga 17 Mei 2025 bersama tim Fab Lab Bali dan mahasiswa Fakultas Teknik Elektro, Politeknik Negeri Bali.

Para inovator saat mengikuti pelatihan. (Foto: ist)

Puncak dari program ini adalah acara Tradisi Temu Teknologi: Pameran Inovasi Teknologi Tradisional, dengan mengajak khalayak luas untuk ikut menyaksikan cerita dan inovasi teknologi tradisional secara langsung di Desa Serangan, Bali.

Lokasi ini dipilih bukan hanya karena berada di dalam desa adat yang kental dengan berbagai tradisi dan kebudayaan Bali, namun juga karena ada benih-benih lahirnya teknologi modern yang akan dikembangkan oleh Fab Lab Bali, dengan mendirikan Kios Utak-Atik, yang lokasinya dekat dengan Bale Desa ini. Kios Utak Atik merupakan wadah terbuka bagi masyarakat Desa Serangan untuk mengakses berbagai bentuk teknologi modern, yang diharapkan dapat memberikan dampak bagi peningkatan kemandirian dan kesejahteraan hidup masyarakat sekitar sekaligus tetap menjaga warisan adat, kebudayaan dan kearifan lokal yang sudah tertanam sebelumnya.

Para inovator saat mengikuti pelatihan. (Foto: ist)

Hadirnya Fab Lab Bali di Desa Serangan dinaungi oleh CAST Foundation sebagai bagian dari Koalisi Bali Emisi Nol Bersih (Koalisi Bali ENB) 2045 yang di dalamnya juga ada anggota lain yaitu World Resources Institute (WRI) Indonesia, Institute for Essential Services Reform (IESR), dan New Energy Nexus (NEX) Indonesia.

Baca Juga  Koalisi Bali Emisi Nol Bersih Menekankan Pentingnya Pendekatan Akar Rumput dalam Adaptasi dan Mitigasi Iklim di Bali

Saniy Amalia Priscilla, Co-Founder Pratisara Bumi Foundation menuturkan, program ini dilaksanakan berawal dari keprihatinan atas ketidakseimbangannya ekosistem bumi. Padahal, masyarakat Indonesia secara turun-temurun memiliki warisan pengetahuan lokal dan teknologi tradisional yang selaras dengan alam.

‘’Kami ingin membangkitkan kembali minat generasi muda terhadap pengetahuan, alat, metode ini agar tetap lestari. Dengan mengumpulkan dan mengembangkan cerita teknologi tradisional dari berbagai daerah, dan menginovasikan teknologi tradisional, kami ingin menunjukkan bahwa teknologi dapat menghubungkan komunitas, bekerja dalam batasan alam dan minim jejak emisi. Kami percaya ini adalah kunci untuk menjawab tantangan krisis iklim dan pelestarian kearifan lokal,” tuturnya.

Pratisara Bumi Foundation telah memberikan kesempatan penutur pemuda untuk mengikuti kelas-kelas peningkatan kapasitas dalam memahami konsep teknologi tradisional dari para praktisi, membuat konten lokal melalui platform digital, riset dan pemetaan ide inovasi untuk masa depan yang berkelanjutan.

‘’Berangkat dari pemahaman adanya kebutuhan solusi lokal, kami bersama mengajak generasi muda agar terlibat perannya dalam mengurangi dampak krisis iklim. Kita bisa melestarikan cara hidup tertuang ke dalam teknik-teknik yang diperantarai sebuah teknologi tradisional yang relevan di masa kini,’’ katanya seraya berharap program ini menjadi katalis untuk merevitalisasi pengetahuan lokal pada teknologi sebagai bagian penting dari inovasi baru yang berdampak bagi masyarakat daerah dalam mengembangkan solusi lokal, menyeimbangkan pelestarian dan teknologi masa depan.

Sementara pada saat media briefing tersebut, Wan Zaleha Radzi, Co-Founder CAST Foundation menambahkan, “Teknologi tradisional sangat erat dengan wawasan keilmuan yang menjadi perhatian utama kami, yaitu Culture, Arts, Science, and Technology. Selain itu teknologi tradisional warisan masyarakat adat kita pada umumnya adalah teknologi yang selaras dengan alam sekitarnya. Ini adalah salah satu sebab mengapa program ini menjadi penting karena kami di CAST Foundation selalu aktif mendorong lahirnya inovasi teknologi ramah lingkungan yang memberikan dampak bagi peningkatan keselarasan alam dengan kesejahteraan hidup manusia di dalamnya.”

Baca Juga  Peluang Asia Tenggara Percepat Transisi Energi dan Capai NZE 2050

“Bagi CAST Foundation, teknologi tradisional bukan sekadar peninggalan masa lalu, melainkan benih masa depan—lahir dari kearifan lokal yang hidup dalam harmoni dengan alam. Program ini penting bagi kami karena mempertemukan pengetahuan leluhur dengan teknologi masa kini untuk melahirkan inovasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga selaras dengan bumi, bukan malah merusak dan menguasainya. Sebab dalam banyak budaya kita, manusia bukanlah pemilik alam, tapi bagian darinya,” kata Wan Zaleha Radzi.

Taffia Sabila, Lab Expert, Design Research-Biomaterials, Fab Lab Bali, sebagai salah satu mentor utama di program ini juga memberikan penjelasan terkait teknis pembelajaran untuk para inovator. “Program residensi dan hackathon ini dirancang dengan pendekatan bertahap untuk mendampingi para inovator dalam mengembangkan ide inovasi berbasis pengetahuan ekologi tradisional (Traditional Ecological Knowledge/TEK). Program diawali dengan pelatihan untuk para local enabler (penggerak lokal) sebagai pendamping bagi para inovator selama proses residensi berlangsung di desa masing-masing. Selama program residensi, para inovator dibekali dengan materi pembelajaran yang terstruktur, mulai dari metode riset lapangan berbasis etnografi, pemetaan tantangan lokal, hingga analisis dan sintesis data untuk merumuskan peluang inovasi. Pendekatan meaningful design digunakan untuk memastikan bahwa solusi yang dikembangkan tetap berakar pada konteks budaya dan ekologis setempat,” ucap Taffia Sabila.

“Di tahap hackathon, para inovator dibimbing dalam proses pembuatan purwarupa (prototyping), mulai dari pengembangan low-fidelity prototype hingga high-fidelity prototype menggunakan teknologi fabrikasi digital. Materi yang diberikan juga mencakup dasar-dasar desain produk, teknik kolaboratif, serta strategi presentasi untuk menyampaikan ide inovasi secara efektif,” tambah Tafia menjelaskan.

Ni Komang Ayu Trisna Dewi dengan inovasi Bagi Chakra, yang memberikan dampak positif berupa diversifikasi produk serat gebang yang berkualitas. (Foto: gs)

Adapun 10 inovator yang terpilih dalam program Indigenous Technology Innovators Residence & Hackathon yakni 1). Abdul Muiz: Salamun Tujuh Living Heritage, Mempawah, Kalimantan Barat; 2). Akhmad Rizaldi: Pemecah Cangkang Buah Tengkawang, Sanggau, Kalimantan Tengah; 3). Deviani Gustia Reski: Pengeringan Eungkot Kayee, Banda Aceh, Aceh; 4). Neno Andreas Salukh: Ume kbub Leko Timor Tengah Selatan NTT; 5). Ni Komang Ayu Trisna Dewi: Bagi Chakra, Karangasem, Bali; 6). Putri Handayani: Eduwisata SITTPLBG, Banyuwangi, Jawa Timur; 7). Rani Dwi Andriani: Pengeringan Ragi Tempe Tradisional, Ponorogo, Jawa Timur; 8). Sintia: Palet Warna Kain Jumputan Gambo, Musi Banyuasin, Sumatera Selatan; 9). Saiyidal Muhammad Nor: Perangkap Ikan Tradisional ‘Pengilar’, Kota Waringin Barat, Kalimantan Tengah; dan 10). Viedela Aricahyani Kodirin: Sepeda Pemarut Singkong, Banjarnegara, Jawa Tengah. (gs/bi)

Baca Juga  Akademisi Ungkap Pemanfaatan PLTS, akan Mampu Kejar Target Bauran Energi Terbarukan 23% pada 2025

Loading

galungan dan kuningan dprd bali
Advertisements
iklan stikom
Advertisements
waisak
Advertisements
galungan dprd kabupaten badung
Advertisements
iklan

NEWS

Pansus TRAP DPRD Bali Bakal Evaluasi Total Aset Pemprov Bali Buat ICCB Renon Mangkrak 22 Tahun

Published

on

By

iccb
Ketua Panitia Khusus Tata Ruang, Aset Daerah dan Perizinan (Pansus TRAP) DPRD Provinsi Bali Dr. (C) I Made Supartha, S.H., M.H., saat diwawancarai awak media di Wantilan DPRD Provinsi Bali, Denpasar, Rabu, 3 Juni 2026. (Foto: bi)

Denpasar, baliilu.com – Panitia Khusus Tata Ruang, Aset Daerah dan Perizinan (Pansus TRAP) DPRD Provinsi Bali mulai menyoroti serius aset-aset milik Pemerintah Provinsi Bali di kawasan Renon, Denpasar. Salah satunya, proyek India Cultural Centre Bali (ICCB) yang diketahui mangkrak selama lebih dari 22 tahun.

Ketua Pansus TRAP DPRD Bali, I Made Supartha, menegaskan pihaknya akan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap aset strategis Pemprov Bali yang dinilai bermasalah maupun belum dimanfaatkan secara optimal.

Sorotan aset Pemprov Bali untuk ICCB Renon, muncul setelah aset daerah tersebut diketahui mangkrak selama lebih dari dua dekade tanpa kepastian penyelesaian. Bahkan, kini Pansus TRAP DPRD Bali mulai mendalami berbagai laporan masyarakat terkait dugaan penguasaan aset yang tidak sesuai regulasi.

“Nanti evaluasi, banyak aset-aset kita yang kemudian dikuasai dengan cara tidak benar. Ya, seluruhnya dievaluasi wilayah Renon ke depan akan diperdalam. Itu banyak Dumas dan banyak laporan,” kata Ketua Panitia Khusus Tata Ruang, Aset Daerah dan Perizinan (Pansus TRAP) DPRD Provinsi Bali Dr. (C) I Made Supartha, S.H.,.M.H., saat diwawancarai awak media di Wantilan DPRD Provinsi Bali, Denpasar, Rabu, 3 Juni 2026.

Hal itu disampaikan usai menerima Forum Pemerhati Pembangunan (FOR HATI) Bali mendatangi Kantor DPRD Provinsi Bali. Dari unsur tokoh agama hadir Ida Shri Bhagawan Yogananda, sementara dari kalangan tokoh masyarakat tampak mantan anggota MPR RI utusan Bali Jro Gede Sudibya. Turut hadir Ketua Prajaniti Hindu Indonesia Provinsi Bali dr. Wayan Sayoga, akademisi Universitas Udayana Prof. Dr. Ir. Putu Rumawan Salain, M.Si.

Dukungan generasi muda terhadap upaya pengawasan pembangunan Bali juga tampak kuat. Sejumlah Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) dari berbagai perguruan tinggi hadir dalam audiensi tersebut, di antaranya BEM Universitas Udayana, Universitas Warmadewa, Universitas Mahasaraswati, Universitas Dwijendra, Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa, Universitas Hindu Indonesia, Universitas Mahadewa Indonesia, Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar, hingga Universitas Saraswati.

Baca Juga  Mengakselerasi Pemanfaatan Hidrogen Hijau Melalui Penyusunan Peta Jalan Hidrogen Nasional yang Komprehensif

Made Supartha menilai persoalan aset daerah di Bali tidak bisa lagi dibiarkan berlarut-larut. Menurutnya, pengelolaan aset pemerintah harus memberikan manfaat nyata bagi daerah dan masyarakat, bukan justru terbengkalai selama puluhan tahun. Namun, aset tersebut diketahui belum dimanfaatkan secara optimal dan masih berstatus belum tuntas sejak awal perencanaan pada 2004.

Keberadaan aset mangkrak tersebut kini menjadi perhatian serius DPRD Bali, terutama setelah Pansus TRAP melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke sejumlah titik aset daerah dan menemukan berbagai persoalan tata ruang, aset, serta perizinan.

Made Supartha memastikan evaluasi tidak hanya menyasar satu lokasi, tetapi seluruh aset strategis Pemprov Bali yang dinilai bermasalah atau belum dimanfaatkan secara optimal. “Selain melakukan pendalaman terhadap laporan masyarakat, kami juga mendorong adanya kepastian kebijakan dari pihak eksekutif terkait status aset yang hingga kini masih menggantung,” tegasnya.

Sementara itu, Ketua DPRD Provinsi Bali, Dewa Made Mahayadnya yang akrab disapa Dewa Jack mengaku baru mengetahui soal tersebut. Untuk itu, pihaknya akan menelusuri permasalahan tersebut.

“Baru juga tau.”..!! Ayo nanti sama-sama telusuri,” jawab Dewa Jack secara singkat di Denpasar, Rabu, 3 Juni 2026.

Untuk diketahui, rencana pembangunan proyek ICCB atau Pusat Kebudayaan India tersebut sempat diresmikan Gubernur Bali (1998-2008), Dewa Beratha, Dubes India, Hemant Krishan Singh dan DG ICCR, Rakesh Kumar, hingga saat ini justru diketahui proyek tersebut mangkrak dan tidak ada tanda-tanda progress keberlanjutan, sehingga menjadi kewajaran publik mempertanyakan nasib aset Pemprov Bali yang dipergunakan untuk proyek tersebut.

Ketua Fraksi Partai Demokrat-NasDem DPRD Provinsi Bali, Dr. Somvir menilai persoalan aset tersebut perlu segera mendapatkan kepastian hukum dan kebijakan agar tidak terus terbengkalai selama puluhan tahun.

Baca Juga  Peluang Asia Tenggara Percepat Transisi Energi dan Capai NZE 2050

Dr. Somvir yang juga selaku Wakil Sekretaris Panitia Khusus Tata Ruang, Aset Daerah, dan Perizinan (Pansus TRAP) DPRD Bali menegaskan bahwa penggunaan aset daerah harus memberikan kejelasan bagi semua pihak. Ia juga mendukung penuh Ketua Pansus TRAP DPRD Bali melakukan evaluasi di Kawasan Renon.

Pansus TRAP DPRD Bali akan membuka aset Pemprov Bali secara transparan baik yang sudah atau terbengkalai. Evaluasi mulai dilakukan dari pusat kota atau jantung pemerintahan. Upaya itu agar aset jelas dan tata kota tertib. (gs/bi)

Loading

galungan dan kuningan dprd bali
Advertisements
iklan stikom
Advertisements
waisak
Advertisements
galungan dprd kabupaten badung
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca

NEWS

Jelang Galungan dan Kuningan, PHDI dan Bakesbangpol Denpasar Bagikan 300 Paket Daging Babi kepada Masyarakat

Published

on

By

phdi denpasar
BAGIKAN DAGING BABI: Ketua DPRD Kota Denpasar, I Gusti Ngurah Gede saat membagikan daging babi kepada para pecalang, bendesa adat, dan masyarakat, di halaman Kantor Bakesbangpol Kota Denpasar, Senin (15/6). (Foto: Hms Dps)

Denpasar, baliilu.com – Jelang hari Raya Galungan dan Kuningan, Persatuan Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kota Denpasar bersama Pemerintah Kota Denpasar melalui Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol), membagikan 300 paket daging babi kepada para pecalang, bendesa adat, dan masyarakat, di halaman Kantor Bakesbangpol Kota Denpasar, Senin (15/6).

Hadir saat itu, Ketua DPRD Kota Denpasar, I Gusti Ngurah Gede, Kepala Bakesbangpol Kota Denpasar, Anak Agung Ngurah Gede Darma Putra Atmadja, Ketua PHDI Kota Denpasar, I Made Arka, dan pihak terkait lainnya.

Ketua PHDI Kota Denpasar, I Made Arka mengatakan, kegiatan pembagian daging babi ini diharapkan akan dapat memberikan kemanfaatan bagi umat yang akan merayakan hari Raya Galungan dan Kuningan.

“Tentu harapannya ini akan membawa kemanfaatan bagi umat yang akan menyambut Hari Suci Galungan dan Kuningan,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Bakesbangpol Kota Denpasar, Anak Agung Ngurah Gede Darma Putra Atmadja, menyampaikan, program ini merupakan implementasi dari spirit Vasudhaiva Kutumbhakam yang bermakna kita semua bersaudara atau menyama braya.

Sehingga diharapkan mampu menghadirkan semangat sagilik, saguluk, salunglung subayantaka dalam menyambut Hari Suci Galungan dan Kuningan di tengah masyarakat.

“Pembagian daging babi ini juga merupakan salah satu implementasi dari semangat Vasudhaiva Kutumbhakam,” katanya. (eka/bi)

Loading

galungan dan kuningan dprd bali
Advertisements
iklan stikom
Advertisements
waisak
Advertisements
galungan dprd kabupaten badung
Advertisements
iklan
Baca Juga  Koalisi Bali Emisi Nol Bersih Menekankan Pentingnya Pendekatan Akar Rumput dalam Adaptasi dan Mitigasi Iklim di Bali
Lanjutkan Membaca

NEWS

Gubernur Koster Dorong Percepatan Penguatan Aksesibilitas Transportasi Keluar Masuk Bandara Ngurah Rai

Published

on

By

aksesibilitas Bandara Ngurah Rai
FGD: Gubernur Bali Wayan Koster saat menghadiri Forum Group Discussion (FGD) Penguatan Aksesibilitas Transportasi dari dan menuju Bandara I Gusti Ngurah Rai yang berlangsung di Hotel Discovery Kartika Plaza, Kuta, Senin (15/6). (Foto: bi)

Badung, baliilu.com – Gubernur Bali Wayan Koster mendukung dan mendorong percepatan upaya penguatan aksesibilitas transportasi keluar masuk Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai.

Menurutnya, penguatan aksesibilitas merupakan kebutuhan mendesak mengingat strategisnya posisi Bandara Ngurah Rai sebagai gerbang utama masuk ke Pulau Dewata.

Dukungan Gubernur Wayan Koster disampaikan dalam arahan saat menghadiri Forum Group Discussion (FGD) Penguatan Aksesibilitas Transportasi dari dan menuju Bandara I Gusti Ngurah Rai yang berlangsung di Hotel Discovery Kartika Plaza, Kuta, Senin (15/6).

Mengawali paparannya, Gubernur Koster menyambut baik pelaksanaan FGD sebagai bagian penting dari upaya penguatan aksesibilitas transportasi kaluar masuk bandara. Ia berpendapat, penguatan aksesibilitas transportasi keluar masuk bandara menjadi perhatian urgen karena berkaitan dengan isu kemacetan. Jika tidak diantisipasi, ia khawatir persoalan ini dapat mempengaruhi citra pariwisata Bali.

Selanjutnya, Gubernur Koster memberi gambaran tentang strategisnya posisi Bandara Ngurah Rai dalam pembangunan bidang kepariwisataan.

“Pada tahun 2025, wisatawan manca negara yang masuk ke Bali melalui Bandara Ngurah Rai tercatat sebanyak 7 juta 50 ribu orang. Ditambah wisatawan domestik yang mencapai 9,2 juta. Jadi kalau ditotal, mencapai 16 juta lebih,” urainya.

Mencermati data tersebut, menurutnya penguatan aksesibilitas transportasi keluar masuk bandara dan kawasan sekitarnya menjadi kebutuhan yang sangat mendesak.

Ia berharap, FGD menghasilkan rumusan yang komprehensif dalam upaya mengantisipasi kemacetan keluar masuk bandara dan kawasan sekitar khususnya Badung dan Denpasar.

“Petakan betul setiap titiknya. Ini tak bisa fokus di satu titik saja, alur kendaraan harus benar-benar dipetakan,” pintanya.

Ia berharap, seluruh komponen mendukung upaya ini agar segera bisa dikerjakan. Jika tidak ada hal yang sangat krusial, ia berharap FGD kali ini menghasilkan hal yang konkrit agar bisa segera dikerjakan. Masih dalam arahannya, Gubernur Bali dua periode ini juga menyinggung rencana perluasan parkir dan terminal. Ia berharap, pihak pengelola bandara segera merealiasikan rencana tersebut.

Baca Juga  Kenaikan Emisi Bayangi Ambisi Pertumbuhan Ekonomi 8 Persen

Sementara itu, Direktur Strategi dan Pengembangan Teknologi PT. Angkasa Pura Indonesia Ferry Kusnowo mengatakan, kegiatan kali ini merupakan tindak lanjut pelaksanaan FGD tahun lalu. Ia menyampaikan, kegiatan kali ini bertujuan untuk memperoleh masukan dari berbagai komponen sehingga menghasilkan kajian yang lebih komprehensif. Menurutnya, upaya penguatan aksesibilitas transportasi keluar masuk bandara membutuhkan pendekatan integrasi, bertahap dan kolaboratif. FGD diisi penyampaian kajian dari akademisi Universitas Udayana Prof. Ir. Putu Alit Suthanaya yang mendapat masukan dari sejumlah pihak untuk penyempurnaan. (gs/bi)

Loading

galungan dan kuningan dprd bali
Advertisements
iklan stikom
Advertisements
waisak
Advertisements
galungan dprd kabupaten badung
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca