Denpasar, baliilu.com
– Gubernur Bali Wayan Koster menyatakan Provinsi Bali merupakan provinsi
pertama yang melaksanakan acara Bulan Bung Karno di Indonesia. Diadakannya
Bulan Bung Karno untuk mengenang sosok Bapak Pendiri Bangsa sekaligus mengimplementasikan
ideologi dan gagasannya selama ini.
Demikian sambutan Gubernur Koster saat menutup acara Bulan
Bung Karno di Wiswa Sabha Utama, Kantor Gubernur Bali, Denpasar, Selasa (30/6-2020).
Pada kesempatan tersebut, turut hadir Ketua Tim Penggerak PKK Provinsi Bali Ny.
Putri Suastini Koster, Wakil Gubernur Bali Tjokorda Oka Artha Ardana Sukawati, Sekda
Provinsi Bali Dewa Made Indra, serta pimpinan OPD dan perwakilan berbagai
lapisan masyarakat.
Gubernur Koster melanjutkan, kenapa Bulan Bung Karno perlu
dilaksanakan, karena Bung Karno memiliki peranan yang penting dan sangat fundamental
bagi sejarah kebangsaan dan negara Indonesia. Bung Karno adalah satu pemimpin
yang memiliki keberanian dalam memimpin gerakan ketika Indonesia dijajah bangsa
lain. Dengan kegigihan, keuletan dan kesabaran akhirnya mengantarkan Indonesia ke
pintu gerbang kemerdekaan pada 17 Agustus 1945 dan menjadikannya presiden pertama
Republik Indonesia.
Selain menjadi pemimpin pergerakan, Bung Karno juga pemimpin
yang melahirkan sejumlah gagasan, konsep dengan ajaran-ajaran sangat penting
buat bangsa. Tidak saja berkaitan dengan dasar negara, ideologi negara, pandangan
hidup bangsa yaitu Pancasila juga ajaran yang sangat terkenal dengan Tri Sakti
Bung Karno. Yaitu, Berdaulat Secara Politik, Berdikari Secara Ekonomi dan
Berkepribadian dalam Kebudayaan.
Menurut Gubernur, selain relevan dengan perkembangan zaman,
ajaran Bung Karno mengandung nilai-nilai yang tembus zaman, bisa diaplikasikan
oleh penerus bangsa untuk membangun negara, menyejahterakan masyarakat serta
memberikan landasan untuk eksistensi bangsa.
“Alasan itulah yang menyebabkan saya tanpa ragu di Bali
untuk melaksanakan Bulan Bung Karno di Bali dengan membuatkan payung hukum
berupa Peraturan Gubernur Nomor 19 Tahun 2019 tentang Bulan Bung Karno di
Provinsi Bali sehingga bisa diterapkan juga kabupaten/kota,” jelasnya.
Pemikiran Bung Karno tersebut, juga menurut Koster sangat
cocok serta sinkron dengan visi misi Pemprov Bali, yakni Nangun Sat Kerthi Loka Bali. “Tri Sakti Bung Karno sangat ideal diimplementasikan
di tingkat desa adat karena mempunyai ketiganya,” imbuhnya. Berdaulat secara
politik menurutnya di desa adat sudah ada awig-awig dan perarem yang benar-benar dipatuhi oleh kramanya. Berdikari secara
ekonomi bisa didorong lagi karena desa adat mempunyai LPD yang membantu
menggerakkan perekonomian masyarakat.
SERAHKAN HADIAH, Gubernur Koster didampingi Ketua TP PKK Provinsi Bali Ny. Putri Koster menyerahkan hadiah kepada para pemenang lomba.
“Bahkan dalam Perda Nomor 24 Tahun 2019 tentang Desa Adat di Bali, desa adat juga sudah dilengkapi dengan struktur ekonomi yang baru,” jelasnya. Sementara desa adat juga adalah tempatnya memelihara adat istiadat seni dan budaya sehingga menjaga pribadi Bali yang berbudaya sangat cocok diterapkan di desa adat.
Lebih jauh ia juga mengatakan bahwa kita harus bersyukur
akan peninggalan gagasan Bung Karno demi menjaga bangsa dan negara tercinta
ini. “Jadi Bulan Bung Karno ini bukan hanya sebatas seremonial untuk
memperingati Bung Karno, tapi harus ambil makna nyata dalam mendorong
masyarakat kita untuk menerapkan ajaran Bung Karno dalam kehidupan
sehari-hari,” tambah Gubernur yang juga menjabat sebagai Ketua DPD PDIP
Provinsi Bali ini.
Gubernur Koster selanjutnya juga mengapresiasi lomba-lomba
yang telah dilaksanakan untuk memperingati Bulan Bung Karno ini yaitu lomba
Vlog Satgas Covid Tingkat Desa Adat dan Lomba Video Pemanfaatan Pekarangan
Rumah oleh Tim Penggerak PKK.
“Seperti lomba inovasi pemanfaatan pekarangan rumah ini,
saya kira sangat baik sekali untuk mewujudkan kedaulatan pangan di tingkat
rumah tangga. Bayangkan jika semua masyarakat Bali bisa mengimplementasikannya,
terlebih bisa memanfaatkan pekarangan di jalan-jalan desa atau halaman pura bisa
dimanfaatkan dengan baik, maka kedaulatan pangan untuk masyarakat bisa
tercapai. Apalagi program ini telah digerakkan dari tahun lalu oleh Ketua Tim
Penggerak PKK Provinsi Bali,” jelasnya.
Dia juga mengaku sedang mengecek apakah lahan di Bali cukup
untuk memenuhi kebutuhan pokok masyarakat Bali demi menuju kepada kedaulatan
pangan masyarakat. Ia mengaku tidak ingin terbuai dengan sektor pariwisata
saja, sumber pendapatan di Bali harus disokong oleh sektor riil lainnya,
sehingga bisa menopang kehidupan masyarakat. “Tidak seperti sekarang terkena
Covid-19 sektor pariwisata tidak berjalan, maka pereknomian Bali juga mandeg.
Saya ingin ke depan harus ada sektor lainnya juga yang bisa menopang dan
pertanian adalah jawabannya,” tandasnya.
Sebelumnya Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Provinsi
Bali, Gusti Agung Ngurah Sudarsana, berkesempatan membaca laporan Sekda
Provinsi Bali Dewa Made Indra. Dalam laporan tersebut disebutkan dasar
pelaksanaan kegiatan Bulan Bung Karno adalah Pergub Bali Nomor 19 tahun 2019
tentang Bulan Bung Karno serta acuan penyelenggaraan Bulan Bung Karno
tertanggal 22 Mei 2020.
Tujuan pelaksanaan Bulan Bung Karno adalah
mengimplementasikan ajaran Tri Sakti Bung Karno. Yaitu, Berdaulat Secara Politik, Berdikari Secara
Ekonomi dan Berkepribadian dalam Kebudayaan, untuk mewujudkan keharmonisan
alam, manusia dan kebudayaan Bali dalam menyongsong Bali Era Baru sesuai visi
“Nangun Sat Kerthi Loka Bali”.
PARA PEMENANG LOMBA, Dalam rangka Bulan Bung Karno.
Adapun rangkaian kegiatan untuk memeriahkan Bulan Bung Karno adalah: Apel hari Pancasila 1 Juni 2020, Wibminart dengan Tema Aktualisasi Tri Sakti Bung Karno dalam menyongsong Bali Era Baru pada 6 Juni 2020 di Gedung Gajah, Jaya Sabha, Lomba Vlog Satgas Covid-19 berbasis Desa Adat yang dilaksanakan dari 6-28 Juni 2020 dengan jumlah peserta 65 Satgas, lomba video dokumenter Inovasi Pemanfaatan Lahan Pekarangan dalam Mewujudkan Kedaulatan Pangan di Desa dari 6 – 27 Juni 2020, pertunjukan seni virtual yang diikuti oleh 11 kelompok seniman, sastrawan dan budayawan pada hari Minggu, 21 Juni 2020 dan Penutupan Bulan Bung Karno pada 30 Juni 2020.
Dalam kesempatan itu juga dilaksanakan penyerahan hadiah
kepada pemenang lomba sebagai berikut: Lomba Vlog Satgas Gotong-Royong
Pencegahan Covid-19 berbasis Desa Adat juara 1 Desa Adat Mas, Ubud, Gianyar,
juara 2 Desa Adat Banjarangkan, Klungkung, juara 3 Desa Adat Beng, Gianyar.
Sementara untuk lomba Dokumenter Pemanfaatan Pekarangan Rumah, juara 1 TP PKK
Desa Adat Paksebali, Kecamatan Dawan, Klungkung, juara II TP PKK Desa Budeng,
Kecamatan Jembrana dan juara III I Komang Suryawan. (*/gs)
Brigjen Pol. Dr. Aries Syahbudin, S.I.K., S.H., M.Hum. dipercaya menjabat sebagai Kepala Korps Lalu Lintas (Kakorlantas) Polri. (Foto: Hms Polri)
Jakarta, baliilu.com – Tongkat kepemimpinan Korps Lalu Lintas (Korlantas) Polri resmi berganti. Brigjen Pol. Dr. Aries Syahbudin, S.I.K., S.H., M.Hum. dipercaya menjabat sebagai Kepala Korps Lalu Lintas (Kakorlantas) Polri menggantikan Irjen Pol. Wibowo, S.I.K., M.Hum.
Pergantian pimpinan Korlantas Polri tersebut tertuang dalam Surat Telegram Kapolri Nomor ST/2251/X/KEP/2026 tertanggal 10 Oktober 2026.
Brigjen Pol. Dr. Aries Syahbudin, S.I.K., S.H., M.Hum pun dilantik sebagai Kakorlantas Polri oleh Kapolri Jenderal Polisi Dr. (H.C) Suyudi Ario Seto di Mabes Polri, Senin (12/10/2026).
Usai pelantikan, prosesi serah terima jabatan (sertijab) dilanjutkan di Lapangan NTMC Korlantas Polri, Jakarta, pada hari yang sama. Prosesi tersebut menandai pergantian kepemimpinan di lingkungan Korlantas Polri. Kegiatan tersebut dihadiri jajaran pejabat utama dan personel Korlantas Polri.
Pergantian ini menjadi awal bagi Brigjen Pol. Aries Syahbudin untuk melanjutkan berbagai agenda strategis Korlantas Polri.
Brigadir Jenderal Polisi Dr. Aries Syahbudin merupakan Perwira lulusan Akademi Kepolisian tahun 1994, dengan pengalaman panjang yang mempertemukan pemahaman strategis dan kecakapan operasional.
Saat menjabat Direktur Lalu Lintas Polda Kalimantan Tengah dan Polda Sulawesi Selatan, ia menghadapi beragam karakter wilayah dan persoalan lalu lintas. Pengalaman yang memperkaya pemahamannya tentang kebutuhan masyarakat, kondisi jalan, serta tantangan personel dalam menjalankan tugas.
Di lingkungan Korlantas Polri, tanggung jawabnya berkembang melalui jabatan Kasubdit Audit dan Inspeksi Ditkamsel, Kepala Bagian Operasi, hingga Penata Kebijakan Kapolri Utama Tingkat II Korlantas Polri.
Rangkaian posisi tersebut memberinya sudut pandang yang luas: mengenali potensi risiko, menyiapkan langkah antisipasi, dan mengawal kebijakan agar dapat dilaksanakan secara tepat.
Ketika menjabat Kabag Ops, perannya terlihat dalam kesiapan berbagai operasi besar. Dari pengamanan Natal dan Tahun Baru hingga arus mudik dan balik Lebaran, ia terlibat dalam penguatan sistem kendali, kesiapan komunikasi, serta pengarahan personel. Seluruhnya menjadi bagian dari upaya menyatukan perencanaan dengan kebutuhan pelaksanaan.
Dalam persiapan Operasi Ketupat 2025, ia menjabarkan pemetaan titik rawan, antisipasi kepadatan, dan kesiapan rekayasa lalu lintas. Pemantauan berbasis data dan teknologi mendukung respons petugas terhadap perubahan situasi. Keterlibatannya dalam pengaturan langsung di lapangan turut melengkapi pengalaman tersebut.
Pada periode itu, Operasi Ketupat 2025 menorehkan capaian penting. Evaluasi Korlantas mencatat penurunan angka kecelakaan sebesar 31 persen dan jumlah korban meninggal dunia sebesar 53 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Presiden Prabowo Subianto mengapresiasi penyelenggaraan mudik tahun tersebut sebagai yang terbaik sepanjang sejarah.
Sebagai Kabag Ops, Aries Syahbudin menjadi bagian penting dalam mengawal keberhasilan bersama tersebut. Sebuah capaian yang memperlihatkan arti kesiapan operasional, koordinasi lintas instansi, dan keputusan yang sesuai dengan kondisi di lapangan.
Perannya juga hadir dalam persiapan menuju Zero ODOL. Sejak 2025, ia menjelaskan penanganan bertahap melalui sosialisasi, peringatan, dan penegakan hukum, disertai pendekatan kepada pengemudi, pemilik kendaraan, serta pelaku usaha. Dalam persiapan Zero ODOL 2027, ia menekankan keterlibatan seluruh fungsi lalu lintas dan konsistensi kerja sama lintas sektor.
Langkah-langkah tersebut diarahkan untuk membangun angkutan barang yang lebih tertib dan melindungi keselamatan setiap pengguna jalan.
Kini, tanggung jawab sebagai Kepala Korps Lalu Lintas Polri dipercayakan kepadanya. Pengalaman dari kewilayahan hingga tingkat nasional menjadi landasan untuk menghadapi tantangan yang semakin kompleks, memperkuat pelayanan, dan menjaga kesinambungan berbagai agenda strategis Korlantas Polri. (gs/bi)
ASESMEN: Kepala Dinas Kesehatan Buleleng, dr. Sucipto, saat membuka kegiatan Asesmen Implementasi PHBS bekerja sama dengan Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Republik Indonesia untuk Pencegahan Zoonosis dan Penyakit Infeksi Emerging (PIE) tingkat provinsi dan kabupaten/kota di Aula Dinas Kesehatan Buleleng, Selasa (13/10). (Foto: Hms Buleleng)
Buleleng, baliilu.com – Kasus gigitan hewan penular rabies (GHPR) di Kabupaten Buleleng, cukup tinggi hingga September 2026. Dalam periode yang sama, tiga orang meninggal dunia akibat rabies. Kondisi ini menjadi perhatian serius Dinas Kesehatan Kabupaten Buleleng untuk memperkuat pencegahan melalui Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) serta meningkatkan kewaspadaan masyarakat.
Hal tersebut disampaikan Kepala Dinas Kesehatan Buleleng, dr. Sucipto, saat membuka kegiatan Asesmen Implementasi PHBS bekerja sama dengan Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Republik Indonesia untuk Pencegahan Zoonosis dan Penyakit Infeksi Emerging (PIE) tingkat provinsi dan kabupaten/kota di Aula Dinas Kesehatan Buleleng, Selasa (13/10).
Kadis Sucipto menjelaskan dua dari tiga korban meninggal akibat rabies tidak melaporkan diri ke fasilitas pelayanan kesehatan (fasyankes). Sementara itu, satu korban tidak kembali ke fasyankes untuk mendapatkan Vaksin Antirabies (VAR).
Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan bahwa pemahaman dan kewaspadaan masyarakat terhadap risiko rabies masih perlu ditingkatkan. Padahal, penanganan yang cepat dan sesuai prosedur medis sangat penting setelah seseorang mengalami gigitan hewan yang berisiko menularkan rabies.
“Kurangnya pemahaman dan kurangnya kewaspadaan masyarakat terhadap kasus gigitan hewan menjadi perhatian serius bagi kita semua,” ujarnya.
Berbagai langkah penanganan rabies telah dilakukan dibuleleng melalui koordinasi lintas sektor dan lintas program. Sebanyak 74 Tim Siaga Rabies (TISIRA) telah dibentuk di sejumlah desa. Selain itu, terdapat 129 peraturan desa (Perdes) dari 129 desa serta 33 perarem yang mendukung penanganan rabies.
Namun, berbagai upaya tersebut dinilai belum maksimal dalam menekan risiko penularan. Karena itu, penguatan pencegahan perlu disertai peningkatan kesadaran masyarakat untuk segera mencari pertolongan medis setelah mengalami gigitan hewan penular rabies.
Pihaknya menambahkan, rabies merupakan salah satu penyakit zoonosis, yakni penyakit yang dapat menular dari hewan ke manusia. Selain rabies, zoonosis dan Penyakit Infeksi Emerging (PIE) juga menjadi ancaman kesehatan masyarakat yang dapat berdampak pada aspek sosial dan ekonomi.
Risiko penularan dapat meningkat akibat interaksi manusia dengan hewan, perubahan lingkungan, pola hidup, serta mobilitas masyarakat. Oleh sebab itu, pencegahan tidak cukup hanya mengandalkan pelayanan kesehatan, tetapi juga membutuhkan perubahan perilaku masyarakat dan kerja sama berbagai sektor.
“Pencegahan zoonosis dan PIE memerlukan pendekatan One Health yang mengintegrasikan kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan serta melibatkan lintas sektor,” ungkap kadis Sucipto
Pendekatan tersebut perlu diterapkan melalui penguatan higiene dan sanitasi, keamanan pangan, penanganan hewan secara aman, serta pengelolaan lingkungan. Pelaksanaannya juga perlu didukung kebijakan dan program yang terkoordinasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, perguruan tinggi, mitra pembangunan, dan pemangku kepentingan terkait.
Melalui kegiatan asesmen ini, Kadis Sucipto berharap kegiatan yang melibatkan tim dari Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Republik Indonesia tersebut dapat memberikan manfaat bagi penguatan upaya pencegahan penyakit dan perlindungan kesehatan masyarakat di Kabupaten Buleleng. (gs/bi)
LEPAS KONTINGEN: Wakil Walikota Denpasar, I Kadek Agus Arya Wibawa, yang juga menjabat Ketua Kwartir Cabang (Kwarcab) Pramuka Kota Denpasar, secara resmi melepas Kontingen Kwarcab Gerakan Pramuka Kota Denpasar untuk mengikuti Lomba Tingkat IV Kwartir Daerah (Kwarda) Bali Tahun 2026 yang berlangsung di halaman Kantor Walikota Denpasar, Selasa (13/10). (Foto: bi)
Denpasar, baliilu.com – Wakil Walikota Denpasar, I Kadek Agus Arya Wibawa, yang juga menjabat Ketua Kwartir Cabang (Kwarcab) Pramuka Kota Denpasar, secara resmi melepas Kontingen Kwarcab Gerakan Pramuka Kota Denpasar untuk mengikuti Lomba Tingkat IV Kwartir Daerah (Kwarda) Bali Tahun 2026. Pelepasan berlangsung di halaman Kantor Wali Kota Denpasar, Selasa (13/10), ditandai dengan penyerahan bendera kontingen dan penyematan jaket kontingen secara simbolis. Sebanyak 19 orang diberangkatkan, terdiri atas 16 peserta, satu pimpinan kontingen, serta masing-masing satu pembina pendamping putra dan putri.
Turut hadir dalam kegiatan tersebut Ketua Harian Kwarcab Gerakan Pramuka Kota Denpasar, Dr. I Gusti Lanang Jelantik, beserta jajaran pengurus Kwarcab dan perwakilan organisasi perangkat daerah (OPD) terkait di lingkungan Pemerintah Kota Denpasar.
Wawali Arya Wibawa menyampaikan apresiasi kepada seluruh peserta yang telah mempersiapkan diri untuk membawa nama Kota Denpasar pada ajang kepramukaan tingkat Provinsi Bali. Arya Wibawa menyebutkan, keikutsertaan kontingen ini merupakan kelanjutan dari keberhasilan Pramuka Penggalang Denpasar meraih predikat Regu Berprestasi Tinggi pada Lomba Tingkat III Kwarcab Kota Denpasar, Juli 2026 lalu.
Arya Wibawa berpesan agar seluruh peserta mengikuti 21 mata lomba dengan penuh semangat, menjunjung tinggi sportivitas, serta menunjukkan kemampuan terbaik. Ada keterampilan kepramukaan, ketangkasan, kreativitas, pengetahuan, kerja sama, dan berbagai tantangan lainnya. Di samping itu Arya Wibawa juga berharap kontingen Denpasar mampu meraih prestasi tertinggi sekaligus memperoleh tiket menuju Lomba Tingkat V tingkat nasional pada 2027. Namun, menurutnya, prestasi harus diraih melalui usaha yang jujur dan terhormat. Selain itu, peserta diingatkan untuk menjaga kesehatan, keselamatan, kedisiplinan, serta nama baik Kota Denpasar selama mengikuti perlombaan di Bumi Perkemahan I Gusti Ngurah Rai, Margarana, Tabanan.
Lebih lanjut, Arya Wibawa menekankan pentingnya menjaga kekompakan dan persaudaraan dengan seluruh peserta dari kabupaten lain di Bali. Semangat Vasudhaiva Kutumbakam, yang bermakna bahwa semua adalah satu keluarga besar, diharapkan menjadi landasan bagi para Pramuka untuk menjunjung kebersamaan, toleransi, gotong royong, dan sikap saling menghormati. Selebihnya Arya Wibawa juga menitipkan pesan kepada pimpinan kontingen dan pembina pendamping agar senantiasa memberikan perhatian terhadap kesehatan, keselamatan, kebutuhan, serta kondisi psikologis peserta selama kegiatan berlangsung.
“Berprestasi dengan kemampuan, menang dengan kehormatan, dan bersaudara dalam kebersamaan,” ujar Arya Wibawa.
Sementara itu, Ketua Harian Kwarcab Gerakan Pramuka Kota Denpasar, Dr. I Gusti Lanang Jelantik, menjelaskan bahwa kontingen telah menjalani pembinaan secara intensif selama dua bulan terakhir. Pembinaan tersebut meliputi materi dan keterampilan kepramukaan, penguatan pengetahuan, serta wawasan sebagai bekal menghadapi berbagai tantangan dalam perlombaan. Sebanyak 16 peserta yang tergabung dalam dua regu, masing-masing beranggotakan delapan orang, merupakan Pramuka Penggalang terpilih yang berhasil meraih predikat Regu Berprestasi Tinggi pada Lomba Tingkat III Kwarcab Kota Denpasar.
Kontingen dijadwalkan berangkat menuju Bumi Perkemahan I Gusti Ngurah Rai, Margarana, Tabanan, pada Rabu (14/10) dan mengikuti Lomba Tingkat IV selama kurang lebih empat hari hingga Minggu (18/10). Lanang Jelantik berharap seluruh peserta dapat menunjukkan kualitas Pramuka Penggalang Kota Denpasar yang berkarakter, berprestasi, disiplin, dan menjunjung tinggi sportivitas.
“Kami memohon doa restu serta menyampaikan terima kasih atas dukungan Pemerintah Kota Denpasar, khususnya Wakil Wali Kota Arya Wibawa, sehingga kontingen dapat mengikuti perlombaan dengan persiapan yang optimal,” ujarnya. (eka/bi)