Tuesday, 16 July 2024
Connect with us
https://www.baliviralnews.com/wp-content/uploads/2022/06/stikom-juni-25-2022.jpg

EKONOMI & BISNIS

Di Tengah Pandemi Covid-19, Kaori Group Berbagi Sembako dengan Jurnalis

BALIILU Tayang

:

de
WINIE KAORI: Direktur Utama Kaori Group.

Gianyar, baliilu.com – Di tengah pandemi Covid-19 yang menimbulkan dampak ekonomi di berbagai sektor, tak terkecuali para jurnalis yang sehari-hari mewartakan Covid-19 dengan penuh resiko terjangkit virus Corona, Kaori Group yang mengawali merintis di bisnis dupa tergerak menyisihkan sedikit dananya untuk berbagi dengan para jurnalis.

Kaori Group berbagi dengan para jurnalis dengan memberikan paket sembako yang diserahkan langsung Direktur Utama Kaori Group Ni Kadek Winie Kaori IM, SE,MM di Graha Kaori Group di Jalan Raya Mas 60X Ubud Gianyar, Senin (1/6-2020).

Ni Kadek Winie Kaori di depan jurnalis yang sedang meninjau dapur kerja Kaori Group mengungkapkan sengaja mengundang dan berbagi dengan para jurnalis. Karena Winie Kaori merasakan betul para pewarta itu sudah bekerja keras siang dan malam meski dalam kondisi pandemi Covid-19.

de
BANTUAN SEMBAKO: Para jurnalis menerima bantuan sembako dari Kaori Group, Senin (1/6-2020)

Para jurnalis tidak pernah putus menginformasikan tentang perkembangan Covid-19, tentang penanganan PMI, informasi tentang karyawan yang di-PHK atau dirumahkan dll. Jika mereka tetap bekerja di tengah pandemi dengan konsekuensi terjangkit terlebih lagi ikut terdampak, maka sudah sepatutnya Kaori Group menyisihkan dananya untuk para jurnalis agar tetap bisa bekerja, memberikan informasi yang transparan kepada masyarakat.

Pada perjumpaan itu, Winie Kaori juga secara panjang lebar mengisahkan bisnis dupa yang dirintisnya sejak tahun 2010 silam yang kemudian berkembang hingga kini dengan berbagai produk di antaranya air minum kemasan, beras sehat Bali, kopi Bali, body parfum, souvenir. Dan tiga pekan lalu saat pandemi Covid-19, Kaori Group meluncurkan produk pasepan.

Winie Kaori memaparkan produk pasepan yang diluncurkan selain berfungsi sebagai sarana persembahyangan juga bermanfaat sebagai terapi kesehatan. Ide munculnya produk pasepan ini tidak terlepas dari informasi yang didapat dari lontar-lontar usada yang diperoleh di griya.

Baca Juga  Dua Mahasiswa FH Unud Lolos IISMA Sarjana 2023

Beberapa bahan pasepen diramu dalam satu paket yang cukup untuk kebutuhan sepekan. Di antara bahan yang digunakan yakni kayu gaharu, tembakau, garam wuku, menyan, sindrong jangket yang isinya mesuwi, jebug harum, cengkeh dll yang merupakan bahan obat rempah-rempah, berisi juga bawang merah dan bawang putih yang merupakan bagian dari triketuka yang berfungsi menyomya triloka. Bahan dari pasepan ini merupakan bahan obat yang berfungsi menetralisir sesuatu yang tidak kelihatan atau kasat mata seperti bakteri atau virus.

Karena itu, Winie Kaori mengatakan menggunakan pasepan Kaori tidak harus di Bali, di manapun bisa dan siapa pun dibolehkan selama mendapatkan kasiat dan bermanfaat untuk kesehatan dan keluarga.

Ketika informasi pasepan kaori diluncurkan di medsos seperti di IG, FB, twitter dan grup WA, Winie Kaori mengaku mendapat apresiasi dari netizen. Permintaan terus mengalir. ‘’Di saat pandemi ini, pembeli tidak perlu ke gerai, tetapi bisa melalui online dan barang siap diantar tanpa dipungut ongkir,’’ ucap Winie Kaori yang mengaku selama pandemi Corona sama sekali tidak merumahkan karyawan. Bahkan Kaori Group mengajak para usahawan yang cukup bermodal handphone siap bergabung sebagai resseler dengan keuntungan yang menjanjikan.

Kaori Group memulai usaha dupa tahun 2010 di sebuah garase rumah. Tahun 2010-2013 merupakan masa pengembangan usaha dupa Kaori. Kaori Grup tidak hanya berkiprah di usaha dupa, juga merambah usaha air minum kemasan, beras sehat, gula, parfum, dan suvenir dll. “Dari baru bangun sampai tidur banyak peluang usaha yang bisa ditekuni. Segala keperluan masyarakat inilah yang kami sediakan. Dari lima divisi usaha Kaori, dupa pasupati merupakan produk unggulannya karena punya kelebihan dari dupa lain. Tidak hanya untuk sembahyang, tapi untuk manfaat lain,” tegas peraih penghargaan Enterpreneur Muda 2018 dari OJK Regional  8 Bali dan Nusa Tenggara ini.

Baca Juga  Beasiswa BI untuk Mahasiswa Berprestasi, Cok Ace: Harapkan Generasi Muda Bali jadi Kunci Wujudkan Bali yang Unggul

Untuk proses produksi dupa, Kaori menjelaskan dilakukan di dua tempat.  Pabrik 1 di Banjar Kutuh, Ubud khusus mengemas dupa Kaori dan pabrik 2 di Desa Mas khusus untuk memproses dupa dari bahan baku, adonan, proses cetak dupa serta menjemurnya.

Kaori juga membuka program visit factory. Ketika meng-share bagaimana proses produksi dupa, ternyata ada yang lihat dan tertarik. Akhirnya ada sekolah dan kampus yang datang untuk melihat langsung. Waktu visit factory dibuka Selasa dan Jumat pukul 9.00-11.00 atau 15.00-17.00. (gs)

Advertisements
iklan sman 1 dps
Advertisements
gelombang 4b
Advertisements
waisak dprd badung
Advertisements
idul fitri dprd bali
Advertisements
iklan
Advertisement
Klik untuk Komentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

EKONOMI & BISNIS

Panen Raya di Bulan Mei Picu Bali Alami Deflasi

Published

on

By

bali deflasi
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali Erwin Soeriadimadja. (Foto: dok baliilu)

Denpasar, baliilu.com – Berdasarkan rilis BPS Provinsi Bali, perkembangan harga Provinsi Bali pada Mei 2024 secara bulanan mengalami deflasi sebesar -0,10% (mtm), lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya yang mengalami inflasi sebesar 0,32% (mtm) dan lebih dalam dibandingkan deflasi nasional sebesar -0,03% (mtm).

Namun secara tahunan, inflasi Provinsi Bali sebesar 3,54% (yoy), masih lebih tinggi dibandingkan inflasi nasional sebesar 2,84% (yoy). Secara spasial, Singaraja mengalami deflasi paling dalam yaitu sebesar -0,33% (mtm) atau 2,92% (yoy), diikuti Tabanan mengalami deflasi sebesar -0,28% (mtm) atau 3,56% (yoy), Badung mengalami deflasi sebesar -0,09% (mtm), atau 4,01% (yoy), dan Denpasar mengalami inflasi sebesar 0,05% (mtm), atau 3,52% (yoy).

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali Erwin Soeriadimadja melalui keterangan pers mengatakan berdasarkan komoditasnya, deflasi terutama bersumber dari penurunan harga beras, tomat, daging ayam ras, sawi hijau, dan cabai rawit. Penurunan harga beras dan cabai rawit didorong oleh melimpahnya pasokan sehubungan dengan masuknya musim panen raya di Provinsi Bali.

‘’Penurunan harga tomat dan sawi hijau sejalan dengan meningkatnya pasokan dari Jawa dan membaiknya cuaca. Selanjutnya, penurunan daging ayam ras didorong oleh meningkatnya pasokan dari Jawa dan menurunnya harga jagung sebagai bahan baku utama pakan ternak,’’ ujar Erwin.

Sementara itu, lanjut Erwin, laju deflasi yang lebih dalam tertahan oleh peningkatan harga bawang merah dan tarif parkir. Pada Juni 2024, terdapat beberapa risiko yang perlu diwaspadai antara lain kenaikan harga minyak kelapa sawit global yang berpotensi merambat ke harga minyak goreng dan bahan bakar di dalam negeri, ketidakpastian cuaca memengaruhi kesuburan tanaman, termasuk tanaman gumitir yang menjadi salah satu komponen canang sari, serta adanya konflik global yang berpotensi berpengaruh pada harga komoditas global yang dapat merambat ke harga-harga dalam negeri.

Baca Juga  Rapid Test Massal akan Akhiri Pandemi, Dewa Indra: Pemprov Siap Dukung Rapid Test Massal di Bali

‘’Namun, terdapat beberapa faktor yang berpotensi menahan kenaikan inflasi lebih tinggi, diantaranya peningkatan alokasi pupuk bersubsidi dari pemerintah pusat dan penurunan harga jagung global sebagai bahan baku ternak, khususnya daging ayam ras dan telur ayam ras,’’ ujarnya.

TPID Provinsi dan Kabupaten/Kota di Bali secara konsisten melakukan pengendalian inflasi dalam kerangka kebijakan 4K antara lain: (i) Pelaksanaan kegiatan operasi pasar murah dan pemantauan harga terus diintensifkan, terutama untuk komoditas bahan pangan strategis; (ii) Imbauan Penjabat Gubernur Bali kepada jajaran di kabupaten/kota untuk memanfaatkan lahan pemerintah provinsi untuk ditanami tanaman bahan pokok sebagai salah satu langkah pengendalian inflasi; (iii) Mendorong kerja sama antardaerah dan pemberian benih unggul di beberapa kabupaten, seperti Badung dan Tabanan; serta (iv) Pelaksanaan High Level Meeting (HLM) TPID, baik di tingkat provinsi maupun kabupaten.

‘’Melalui langkah-langkah tersebut, Bank Indonesia meyakini inflasi tahun 2024 tetap akan terjaga dan terkendali dalam rentang sasaran 2,5±1%,’’ pungkasnya. (gs/bi)

Advertisements
iklan sman 1 dps
Advertisements
gelombang 4b
Advertisements
waisak dprd badung
Advertisements
idul fitri dprd bali
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca

EKONOMI & BISNIS

Hasil Survei Triwulan I 2024, Harga Properti Residensial di Bali Meningkat

Published

on

By

survei harga properti di bali
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali, Erwin Soeriadimadja. (Foto: gs)

Denpasar, baliilu.com – Hasil Survei Harga Properti Residensial (SHPR) Bank Indonesia Provinsi Bali mengindikasikan harga properti residensial di pasar primer (saat pertama kali rumah diperjual-belikan) mengalami peningkatan. SHPR merupakan survei triwulanan terhadap sampel pengembang proyek perumahan (developer) di Provinsi Bali.

Peningkatan harga properti residensial tercermin dari perkembangan Indeks Harga Properti Residensial (IHPR) triwulan I 2024 tumbuh sebesar 1,48% (yoy) dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Kenaikan ini lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan triwulan sebelumnya yang tercatat sebesar 0,43% (yoy). Peningkatan IHPR pada periode laporan terutama didorong oleh kenaikan harga di 3 (tiga) tipe properti yaitu kecil (luas bangunan ≤36 m2 ), menengah (luas bangunan antara 36 m2 sampai dengan 70 m2) dan besar (luas bangunan > 70 m2) yang masing-masing meningkat sebesar 1,77% (yoy); 2,13% (yoy); dan 1,07% (yoy), atau lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya yang masing-masing meningkat sebesar 0,90% (yoy), 0,19% (yoy) dan 0,33% (yoy).

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali, Erwin Soeriadimadja menyampaikan bahwa peningkatan harga properti residensial pada triwulan I 2024 diperkirakan dipengaruhi oleh kenaikan harga bahan bangunan. Selain itu, kenaikan harga properti residensial juga dipengaruhi oleh peningkatan penjualan rumah di pasar primer selama triwulan I 2024 yang masih tumbuh sebesar 14% (yoy) terutama ditopang oleh penjualan tipe rumah kecil dan besar, meskipun melambat dibandingkan triwulan sebelumnya yang tumbuh 21% (yoy).

Lebih lanjut, Erwin menyampaikan bahwa meskipun penjualan properti residensial terus tumbuh, namun terdapat sejumlah faktor-faktor utama yang menghambat pengembangan maupun penjualan properti residensial primer di Bali antara lain: (i) Kenaikan harga bangunan (23,62%); (ii) Masalah perizinan (14,91%); (iii) Suku bunga KPR (13,48%); dan (iv) Proporsi uang muka yang tinggi dalam pengajuan KPR (10,89%).

Baca Juga  Cegah Klaster Baru dari Pekerja Pers, Puluhan Wartawan Lakukan Rapid Test

Delain itu, SHPR juga menunjukan bahwa pembiayaan pembangunan properti residensial di Bali bersumber dari dana perbankan sebesar 45,00%; dana internal pengembang sebesar 43,75%; dan sisanya dari dana konsumen. Sementara itu, dari sisi konsumen, skema pembiayaan dalam pembelian rumah primer mayoritas menggunakan Kredit Pemilikan Rumah (KPR) dengan pangsa sebesar 76,92% dari total penjualan. (gs/bi)

Advertisements
iklan sman 1 dps
Advertisements
gelombang 4b
Advertisements
waisak dprd badung
Advertisements
idul fitri dprd bali
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca

EKONOMI & BISNIS

Survei April 2024, Penjualan Eceran Bali Diprakirakan Terus Tumbuh

Published

on

By

penjualan eceran bali
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali, Erwin Soeriadimadja. (Foto: Hms BI Bali)

Denpasar, baliilu.com – Kinerja penjualan eceran di Provinsi Bali pada April 2024 diprakirakan melanjutkan peningkatan dari bulan sebelumnya. Hal ini tercermin dari Indeks Penjualan Riil (IPR) Bali pada April 2024 yang diprakirakan sebesar 110,7 atau meningkat 9,6% (yoy) dibandingkan bulan April 2023.  Hal ini mencerminkan kinerja penjualan eceran di Provinsi Bali masih tetap terjaga atau berada di level optimis (>100).

Peningkatan IPR ini didorong oleh kegiatan konsumsi masyarakat pada periode Bulan Ramadhan hingga Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Idul Fitri. IPR Bali terus dalam tren peningkatan selama 14 (empat belas) bulan terakhir. Survei Penjualan Eceran (SPE) Bali merupakan survei bulanan terhadap 100 pengecer di Kota Denpasar dan sekitarnya yang bertujuan untuk memperoleh informasi dini mengenai arahan pergerakan pertumbuhan ekonomi dari sisi konsumsi.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali, Erwin Soeriadimadja, menyampaikan meningkatnya penjualan eceran tersebut didorong oleh pertumbuhan Sub Kelompok Sandang yang meningkat sebesar 4,7% (mtm), Kelompok Barang Lainnya sebesar 3,4% (mtm) dan Kelompok Barang Budaya dan Rekreasi sebesar 3,1% (mtm). Hal ini sejalan dengan peningkatan kegiatan masyarakat pada saat periode HKBN Idul Fitri dan kuatnya daya beli karena adanya tambahan tunjangan hari raya (THR) bagi para pekerja dan banyaknya program potongan harga menjelang Lebaran.

Sementara itu, terdapat kelompok barang yang terkontraksi menahan penguatan penjualan eceran yakni pada Kelompok Barang Peralatan Informasi dan Komunikasi sebesar -3,5% (mtm) dan kelompok barang Suku Cadang dan Aksesori sebesar -1,4% (mtm). Dari sisi harga, tekanan inflasi pada Juni 2024 diprakirakan menurun, tercermin dari Indeks Ekspektasi Harga Umum (IEH) 3 bulan mendatang tercatat sebesar 198,0 lebih rendah dari IEH bulan sebelumnya sebesar 200,0.

Baca Juga  Tingkatkan SDP, Badung Gelar Pelatihan Manajemen Homestay/Pondok Wisata

Dalam menjaga kinerja penjualan eceran dan tingkat konsumsi masyarakat, Bank Indonesia bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Provinsi Bali senantiasa berkoordinasi erat dalam menjaga stabilitas harga komoditas agar daya beli masyarakat tetap terjaga dan ekonomi Bali tetap tumbuh kuat. (gs/bi)

Advertisements
iklan sman 1 dps
Advertisements
gelombang 4b
Advertisements
waisak dprd badung
Advertisements
idul fitri dprd bali
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca