Gianyar, baliilu.com – Di tengah pandemi Covid-19 yang menimbulkan
dampak ekonomi di berbagai sektor, tak terkecuali para jurnalis yang
sehari-hari mewartakan Covid-19 dengan penuh resiko terjangkit virus Corona, Kaori Group yang mengawali
merintis di bisnis dupa tergerak menyisihkan sedikit dananya untuk berbagi
dengan para jurnalis.
Kaori Group berbagi
dengan para jurnalis dengan memberikan paket sembako yang diserahkan langsung
Direktur Utama Kaori Group Ni Kadek Winie Kaori IM, SE,MM di Graha Kaori Group di Jalan Raya Mas 60X Ubud Gianyar, Senin
(1/6-2020).
Ni Kadek Winie Kaori di depan jurnalis yang sedang meninjau dapur kerja
Kaori Group mengungkapkan sengaja mengundang dan berbagi dengan para jurnalis.
Karena Winie Kaori merasakan betul para pewarta itu sudah bekerja keras siang
dan malam meski dalam kondisi pandemi Covid-19.
BANTUAN SEMBAKO: Para jurnalis menerima bantuan sembako dari Kaori Group, Senin (1/6-2020)
Para jurnalis tidak pernah putus menginformasikan tentang perkembangan Covid-19, tentang penanganan PMI, informasi tentang karyawan yang di-PHK atau dirumahkan dll. Jika mereka tetap bekerja di tengah pandemi dengan konsekuensi terjangkit terlebih lagi ikut terdampak, maka sudah sepatutnya Kaori Group menyisihkan dananya untuk para jurnalis agar tetap bisa bekerja, memberikan informasi yang transparan kepada masyarakat.
Pada perjumpaan itu, Winie
Kaori juga secara panjang lebar mengisahkan bisnis dupa yang dirintisnya sejak
tahun 2010 silam yang kemudian berkembang hingga kini dengan berbagai produk di
antaranya air minum kemasan, beras sehat Bali, kopi Bali, body parfum, souvenir.
Dan tiga pekan lalu saat pandemi Covid-19, Kaori Group meluncurkan produk pasepan.
Winie Kaori memaparkan
produk pasepan yang diluncurkan selain berfungsi sebagai sarana persembahyangan
juga bermanfaat sebagai terapi kesehatan. Ide munculnya produk pasepan ini tidak terlepas dari
informasi yang didapat dari lontar-lontar usada yang diperoleh di griya.
Beberapa bahan pasepen diramu dalam satu paket yang
cukup untuk kebutuhan sepekan. Di antara bahan yang digunakan yakni kayu gaharu,
tembakau, garam wuku, menyan, sindrong jangket yang isinya mesuwi, jebug harum,
cengkeh dll yang merupakan bahan obat rempah-rempah, berisi juga bawang merah dan
bawang putih yang merupakan bagian dari triketuka yang berfungsi menyomya triloka. Bahan dari pasepan ini merupakan bahan obat yang
berfungsi menetralisir sesuatu yang tidak kelihatan atau kasat mata seperti
bakteri atau virus.
Karena itu, Winie Kaori
mengatakan menggunakan pasepan Kaori tidak
harus di Bali, di manapun bisa dan siapa pun dibolehkan selama mendapatkan
kasiat dan bermanfaat untuk kesehatan dan keluarga.
Ketika informasi pasepan kaori diluncurkan di medsos
seperti di IG, FB, twitter dan grup WA, Winie Kaori mengaku mendapat apresiasi
dari netizen. Permintaan terus mengalir. ‘’Di saat pandemi ini, pembeli tidak
perlu ke gerai, tetapi bisa melalui online dan barang siap diantar tanpa
dipungut ongkir,’’ ucap Winie Kaori yang mengaku selama pandemi Corona sama
sekali tidak merumahkan karyawan. Bahkan Kaori Group mengajak para usahawan
yang cukup bermodal handphone siap bergabung sebagai resseler dengan keuntungan
yang menjanjikan.
Kaori Group memulai
usaha dupa tahun 2010 di sebuah garase rumah. Tahun
2010-2013 merupakan masa pengembangan usaha dupa Kaori. Kaori Grup tidak hanya berkiprah
di usaha dupa,
juga merambah usaha air minum kemasan, beras sehat, gula, parfum, dan suvenir dll. “Dari baru bangun
sampai tidur banyak peluang usaha yang bisa ditekuni. Segala keperluan
masyarakat inilah yang kami sediakan. Dari lima divisi usaha Kaori, dupa
pasupati merupakan produk unggulannya karena punya kelebihan dari dupa lain.
Tidak hanya untuk sembahyang, tapi untuk manfaat lain,” tegas peraih
penghargaan Enterpreneur Muda 2018 dari OJK Regional 8 Bali dan Nusa
Tenggara ini.
Untuk proses produksi dupa, Kaori menjelaskan
dilakukan di dua tempat. Pabrik 1 di Banjar Kutuh, Ubud khusus mengemas
dupa Kaori dan pabrik 2 di Desa Mas khusus untuk memproses dupa dari bahan
baku, adonan, proses cetak dupa serta menjemurnya.
Kaori juga
membuka program visit
factory. Ketika meng-share
bagaimana proses
produksi
dupa, ternyata ada yang
lihat dan tertarik. Akhirnya ada sekolah dan kampus yang datang untuk melihat
langsung. Waktu visit
factory dibuka Selasa
dan Jumat pukul 9.00-11.00 atau 15.00-17.00. (gs)
Denpasar, baliilu.com – Perkembangan inflasi Provinsi Bali berdasarkan rilis BPS Provinsi Bali tanggal 1 April 2026 mencatatkan bahwa secara bulanan Provinsi Bali pada Maret 2026 mengalami inflasi sebesar 0,50% (mtm), lebih rendah dibandingkan bulan Februari sebesar 0,70% (mtm).
Beberapa catatan peristiwa seperti perayaan HBKN Nyepi dan Idulfitri, kenaikan harga cabai, serta kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) nonsubsidi mendorong dinamika pergerakan inflasi secara bulanan. Sementara itu, inflasi Provinsi Bali secara tahunan menurun dari 3,89% (yoy) pada Februari 2026 menjadi 2,81% (yoy). Secara spasial, seluruh Kabupaten/Kota IHK di Bali mengalami inflasi bulanan pada Maret 2026.
Singaraja mengalami inflasi bulanan tertinggi sebesar 0,90% (mtm) atau inflasi tahunan sebesar 3,40 % (yoy), diikuti Kabupaten Tabanan dengan inflasi bulanan sebesar 0,63% (yoy) atau inflasi tahunan sebesar 2,67% (yoy), selanjutnya Kabupaten Badung mengalami inflasi bulanan sebesar 0,50% (mtm) atau inflasi tahunan sebesar 2,09% (yoy). Lebih lanjut Kota Denpasar mengalami inflasi bulanan sebesar 0,42% (mtm) atau inflasi tahunan sebesar 3,02% (yoy).
Berdasarkan komoditas, secara bulanan inflasi pada Maret 2026 bersumber dari kenaikan harga cabai rawit, bensin, tarif air minum PAM, canang sari, dan cabai merah. Sementara itu, inflasi yang lebih tinggi tertahan oleh penurunan harga tarif angkutan udara, emas, bawang putih, beras dan kangkung.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali Erwin Soeriadimadja mengapresiasi berbagai langkah strategis TPID se-Bali, salah satunya melalui penguatan koordinasi bersama dalam High Level Meeting (HLM) menjelang HBKN Idulfitri dan Nyepi sehingga capaian inflasi Provinsi Bali dapat terjaga pada rentang sasaran.
“Ke depan, beberapa risiko yang perlu diperhatikan antara lain ketidakpastian cuaca pada peralihan musim hujan ke kemarau yang disertai potensi El Nino, potensi kenaikan harga minyak dan komoditas dunia di tengah ketidakpastian global, serta peningkatan permintaan HBKN Galungan Kuningan,” ujarnya.
Untuk memperkuat pengendalian inflasi ke depan, Bank Indonesia Provinsi Bali terus bersinergi dan berinovasi bersama Pemerintah Provinsi dan Kabupaten/Kota se-Bali, yang difokuskan pada tiga pilar utama, yaitu menjaga stabilitas pasokan, meningkatkan efisiensi distribusi, serta memperkuat aspek regulasi. Strategi tersebut diimplementasikan utamanya melalui intensifikasi operasi pasar dengan kaidah 3T (tepat waktu, tepat lokasi, dan tepat sasaran), penguatan kerja sama antar daerah baik intra-Bali maupun luar Bali, dan perluasan ekosistem ketahanan pangan hulu-hilir yang inklusif dengan melibatkan BUMDes, Perumda pangan, dan koperasi, yang diperkuat melalui regulasi pemanfaatan produk pangan lokal oleh pelaku usaha di daerah. Dengan langkah-langkah strategis tersebut, inflasi tahun 2026 diprakirakan terjaga dalam sasaran 2,5%±1%. (gs/bi)
KINERJA POSITIF: Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara melaporkan kinerja positif pendapatan negara hingga akhir Februari 2026 di Aula Mezzanine Kemenkeu, Jakarta pada Rabu (11/3). (Foto: kemenkeu.go.id)
Jakarta, baliilu.com – Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara melaporkan kinerja positif pendapatan negara hingga akhir Februari 2026. Dalam paparan APBN KiTa, Suahasil menyoroti pertumbuhan neto penerimaan pajak yang mencapai 30,4% (yoy), didorong kuat oleh tingginya aktivitas transaksi ekonomi masyarakat.
Hingga 28 Februari 2026, realisasi penerimaan pajak mencapai Rp 245,1 triliun. Secara khusus, Suahasil memberikan catatan pada pertumbuhan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) yang melonjak hingga 97%.
“PPN dan PPnBM dibayar jika ada transaksi. (Lonjakan) ini menunjukkan bahwa di perekonomian kita transaksi berjalan terus, kegiatan ekonomi, aktivitas ekonomi itu berjalan terus.,” ujar Suahasil di Aula Mezzanine Kemenkeu, Jakarta pada Rabu (11/3).
Empat sektor utama, yakni industri pengolahan, perdagangan, keuangan dan asuransi, serta pertambangan, tercatat masih menjadi kontributor mayoritas dengan sumbangan mencapai 74% dari total penerimaan pajak.
Sejalan dengan pendapatan yang kuat, pemerintah melakukan akselerasi belanja negara guna mendorong pertumbuhan ekonomi di kuartal I-2026. Realisasi belanja negara hingga akhir Februari mencapai Rp 493,8 triliun, tumbuh signifikan 41,9 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Salah satu pendorong utama kenaikan belanja adalah program Makan Bergizi Gratis (MBG). Hingga 9 Maret 2026, program ini telah menjangkau 61,6 juta penerima yang terdiri dari 50 juta siswa dan 10,5 juta nonsiswa (ibu hamil, menyusui, dan lansia) dengan total serapan anggaran mencapai Rp 44 triliun.
Selain itu, Kemenkeu juga melaporkan realisasi pembayaran THR ASN, TNI, dan Polri tahun 2026. Hingga 10 Maret, pemerintah telah menyalurkan Rp 24,7 triliun atau sekitar 45 persen dari total alokasi Rp 55 triliun. “Kami mendorong seluruh K/L dan Pemerintah Daerah segera menuntaskan pembayaran THR agar tuntas sebelum hari raya,” tambahnya.
Di sisi lain, pemerintah terus memantau pergerakan harga minyak mentah dunia (ICP) akibat konflik di Timur Tengah. Meskipun sempat menyentuh angka di atas US$100 per barel, harga minyak menunjukkan tren volatilitas tinggi. Suahasil menegaskan bahwa APBN akan terus berfungsi sebagai peredam kejut (shock absorber) melalui skema subsidi dan kompensasi energi untuk melindungi daya beli masyarakat dari fluktuasi harga global.
Dalam bidang kepabeanan, terdapat peningkatan signifikan pada frekuensi penindakan rokok ilegal, dari 1.993 kali pada tahun lalu menjadi 2.872 kali penindakan di tahun 2026. Jumlah rokok ilegal yang disita naik dua kali lipat menjadi 369 juta batang.
Sementara itu, Transfer ke Daerah (TKD) telah terealisasi sebesar Rp 147,7 triliun. Pemerintah juga memberikan atensi khusus pada daerah terdampak bencana di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat dengan mengalokasikan tambahan dana sebesar Rp 10,65 triliun yang disalurkan dalam tiga tahap mulai Februari hingga April 2026. (gs/bi)
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali Erwin Soeriadimadja. (Foto: dok)
Denpasar, baliilu.com – Penjualan eceran di Provinsi Bali pada bulan Februari 2026 masih terus bertumbuh secara tahunan. Hal ini tercermin dari Indeks Penjualan Riil (IPR) Bali sebesar 124,3 atau secara tahunan tumbuh 6,4% (yoy), dan masih berada di level optimis (>100). Meski demikian, IPR Bali secara bulanan melambat sebesar 0,1% (mtm) seiring dengan periode low season wisatawan. Selain karena dampak musiman setelah libur tahun baru pada Januari 2026, terdapat periode puasa dan lebaran yang mendorong wisatawan domestik untuk memilih destinasi liburan ke kampung halaman selain Bali.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali Erwin Soeriadimadja mengatakan dari sisi masyarakat Bali, pelaku usaha melihat adanya kecenderungan masyarakat untuk menahan pengeluaran di bulan Februari sebagai langkah persiapan dana lebih untuk HBKN pada bulan Maret. “Survei Penjualan Eceran (SPE) Bali merupakan survei bulanan terhadap 100 penjual eceran/pengecer di Kota Denpasar dan sekitarnya yang bertujuan untuk memperoleh informasi dini mengenai arah pergerakan pertumbuhan ekonomi dari sisi konsumsi,” ujar Erwin Soeriadimadja.
Berdasarkan komponen pembentuknya, 5 (lima) sub-sektor pembentuk IPR dengan pertumbuhan bulanan tertinggi pada kategori Peralatan Informasi dan Komunikasi dengan penurunan sebesar 2,8% (mtm); Sandang dengan penurunan sebesar 2,4% (mtm); Suku Cadang dan Aksesori dengan penurunan sebesar 1,7% (mtm); Bahan Bakar Kendaraan Bermotor dengan penurunan sebesar 1,6% (mtm); serta Makanan, Minuman dan Tembakau dengan penurunan sebesar 0,2% (mtm).
Data Angkasapura menunjukkan penurunan wisatawan domestik sebesar 15% (mtm), di mana faktor-faktor yang berpengaruh terhadap laju kunjungan wisatawan domestik yaitu adanya periode Ramadhan dan musim mudik. Meskipun terjadi efek penurunan akibat faktor musiman, pelaku usaha masih memiliki optimisme kinerja ritel di masa depan. Hal tersebut terlihat dari data Laporan Umum Bank Terintegrasi pada Lapangan Usaha (LU) Perdagangan per Januari 2026 dengan pertumbuhan sebesar 1,83% (yoy), lebih tinggi dari Desember 2025 sebesar 1,44% (yoy).
“Kinerja IPR di Bali yang bertumbuh menunjukkan tingkat konsumsi masyarakat di Bali masih dalam tren positif. Selaras dengan pertumbuhan kredit, prospek penjualan ritel di Bali yang tercermin dari Indeks Ekspektasi Penjualan (IEP) diperkirakan meningkat,“ ujarnya.
IEP menggambarkan keyakinan pelaku usaha terhadap kinerja penjualan dalam jangka pendek hingga menengah. Para responden memperkirakan penjualan dalam 3 bulan yang tercermin dari IEP April 2026 sebesar 170, lebih tinggi dari IEP Maret 2026 sebesar 126. Di sisi lain, prakiraan penjualan dalam 6 bulan ke depan, tepatnya pada Juli 2026 sebesar 184, sama seperti IEP Juni 2026. Kedua IEP berada di zona optimis (IEP > 100).
Untuk mendukung stabilitas ekonomi domestik, Bank Indonesia masih mempertahankan suku bunga kebijakan di bulan Februari 2026. Dari sisi fiskal, Pemerintah turut menggelontorkan insentif promo tiket kapal laut dan pesawat untuk mendukung geliat perekonomian masyarakat. Lebih lanjut, Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) se-Provinsi Bali terus mengakselerasi operasi pasar murah menjelang libur Nyepi dan Idulfitri untuk komoditas strategis. Bank Indonesia Provinsi Bali bersama TPID baik di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota terus berupaya untuk menjaga kestabilan harga, melindungi daya beli masyarakat, dan memastikan agar perekonomian Bali tetap tumbuh berkelanjutan. (gs/bi)