Connect with us
https://www.baliviralnews.com/wp-content/uploads/2022/06/stikom-juni-25-2022.jpg

EKONOMI & BISNIS

Ny. Putri Koster: Penguasaan Teknologi Informasi sebuah Keharusan untuk Bersaing Rebut Pasar di Masa Pandemi Covid

BALIILU Tayang

:

de
KETUA DEKRANASDA PROVINSI BALI NY. PUTRI SUASTINI KOSTER

Denpasar, baliilu.com – Ketua Dekranasda Provinsi Bali Ny. Putri Suastini Koster mengatakan menguasai informasi melalui teknologi adalah sebuah keharusan yang dimiliki setiap insan di muka bumi untuk bersaing merebut pasar terutama di masa pandemi Covid-19 yang kita semua belum tahu kapan wabah ini akan berakhir.

‘’Kita harus tetap harus survive dan harus tetap berusaha. Seberapa kuatnya kita untuk bertahan, dan seberapa mampu kita bersaing secara sehat dan paten dalam mempromosikan produk kerajinan yang kita miliki dengan penguasaan teknologi dan informasi, sehingga memudahkan pengusaha/perajin untuk memasarkan produknya. Dengan kata lain, setiap pengusaha memanfaatkan kecerdasannya untuk berkembang dan mengepakkan sayap secara online dan tidak menjadikan wabah Covid-19 sebagai alasan untuk menyerah,’’ terang Ny. Putri Suastini Koster ketika didaulat sebagai narasumber dalam Dialog Dekranasda Bali yang mengangkat tema “Pemasaran Melalui Pasar Online di Masa Pandemi Covid-19” di sebuah TV lokal Bali, Selasa (14/7-2020). Hadir juga narasumber Ni Wayan Sri Ariyani, direktur PT Bali Unggul Sejahtera.

Ny. Putri Koster lebih lanjut memaparkan penyebaran Covid-19 yang cepat memang telah mengubah pola interaksi antara pengusaha dan pelanggan. Banyak perajin/pengusaha mulai merasakan penurunan penjualan yang drastis atau bahkan tidak memiliki pelanggan sama sekali karena pelanggan sudah mulai beraktivitas di rumah mereka masing-masing.

“Beberapa pelaku usaha mungkin berpikir untuk menghentikan usahanya di masa pandemi Covid-19 ini, namun sebaiknya jangan jadikan Covid-19 sebagai alasan untuk menyerah. Sebaliknya perajin/pengusaha lebih baik bisa memanfaatkan situasi sekarang ini untuk merancang strategi branding produk yang lebih baik,’’ ujar Ny. Putri Koster menyarankan.

Branding adalah usaha untuk membangun citra yang baik pada sebuah produk atau usaha. Branding sangat penting untuk dibangun oleh para perajin Bali, untuk memperkenalkan dan memasarkan produk kerajinan Bali kepada khalayak yang lebih luas. Branding yang dirancang khusus dengan strategi pemasaran online merupakan solusi terbaik yang bisa dilakukan di tengah pandemi Covid-19.

Baca Juga  Ketua TP PKK Bali Sapa Kader PKK Se-Bali, Senin 25 Januari

Ny. Putri Koster mengatakan, saat ini sedang terjadi perubahan perilaku masyarakat secara besar-besaran. Penyebaran virus Corona yang dapat menular melalui kontak fisik, membuat sebagian besar masyarakat dunia memilih berinteraksi secara online. Salah satu kenyataan yang harus perajin Bali terima adalah, saat ini sebagian besar konsumen akan melakukan riset terhadap produk yang ingin mereka beli melalui pencarian online.

“Lewat Google misalnya, konsumen akan melakukan riset terhadap sebuah produk di pencarian Google sebelum memutuskan untuk membeli suatu produk tertentu. Jadi, jika produk kerajinan Bali mudah ditemukan di internet, kemungkinan besar produk kerajinan Bali akan diraih oleh konsumen yang potensial,” kata seniman multitalenta ini.

Beberapa cara untuk mempromosikan produk melalui media online, misalnya membuat blog toko online, atau melalui akun media sosial seperti Facebook, Twitter atau Instagram. Pemasaran produk kerajinan melalui media sosial masih menjadi sarana yang ampuh untuk membangun brand dan memasarkan sebuah produk. Perajin Bali dapat memanfaatkan platform media sosial seperti Instagram atau Facebook dalam memasarkan produk kerajinan Bali.

Tingginya aktivitas di rumah saat ini, telah membuat konsumen mendapatkan kesempatan mengakses internet lebih banyak. Konsumen akan lebih sering membaca blog, mengunjungi website, menonton YouTube, dan segala sesuatunya dilakukan secara online. Itulah mengapa produk yang dipasarkan secara online cenderung mendapatkan perhatian lebih dari konsumen. Memasarkan produk melalui media online sangatlah efektif. Selain murah, cara ini juga lebih efektif dan efisien untuk mempromosikan produk yang dijual.

Perajin Bali dapat memanfaatkan platform media sosial seperti Instagram atau Facebook dalam memasarkan produk kerajinan Bali dengan cara menuliskan deskripsi dari produk yang dipasarkan, misalnya jenis bahan baku produk, harga, dan lain sebagainya. Perajin Bali juga dapat memasarkan produknya melalui pasar online (online marketplace), dengan bergabung melalui platform digital. Namun akan lebih bagus lagi apabila perajin dapat membuat website ecommerce sendiri untuk meningkatkan brand awareness produk kerajinan yang dihasilkannya.

Baca Juga  Manfaatkan Pekarangan Rumah, Ny. IA Selly Mantra Serahkan 5.000 Bibit

Di samping itu, yang harus dijaga para perajin/IKM dalam promosi di dunia digital adalah kualitas produk. Ketika costumer membeli produk yang dilihat fotonya bagus di ranah online, namun saat produknya datang ternyata kualitasnya tidak memuaskan dan tidak sesuai dengan foto yang dipajang, maka akan mengecewakan konsumen. Untuk itu, menjaga kepercayaan masyarakat konsumen sangat penting saat bergerak dalam promosi digital. Dalam menjalankan usaha, kepercayaan sangat memegang peranan penting bagi semua pihak, sehingga dengan landasan kejujuran dalam penjualan adalah kunci bagi suksesnya sebuah pemasaran produk. 

Dalam rangka mendorong promosi produk IKM secara digital, Presiden Joko Widodo telah meresmikan Gerakan Nasional #BanggaBuatanindonesia pada 14 Mei 2020. Gerakan Nasional tersebut melibatkan beberapa filatform digital yang ada di Indonesia. Gerakan nasional ini bertujuan untuk mendukung partisipasi masyarakat akan dampak Covid-19. Di mana memasuki era New Normal dapat mengubah pola belanja masyarakat yang tadinya konvensional beralih ke digital.

Setelah virus Corona mereda, Dekranasda Provinsi Bali akan kembali menggeber upaya promosi produk kerajinan lokal Bali, yang mengkhusus pada produk tradisional, warisan para leluhur. Begitupun dengan UMKM yang baru berkembang, juga akan dipromosikan lebih banyak lagi.

Agar lebih leluasa memperkenalkan produk kerajinan Bali, Dekranasda Provinsi Bali akan aktif melaksanakan pameran produk kerajinan di daerah Bali dan mengundang buyer agar datang langsung ke Bali untuk mengenal serta melihat langsung proses produksi kerajinan Bali.

de
JADI NARASUMBER, Ny. Putri Koster bersama Ni Wayan Sri Ariyani, direktur Bali Mall menjadi narasumber Dialog Dekranasda Bali yang mengangkat tema “Pemasaran Melalui Pasar Online di Masa Pandemi Covid-19” di sebuah TV lokal Bali, Selasa (14/7-2020).

Sementara itu, narasumber Ny. Sri Ariyani menyatakan para pengusaha dituntut untuk mampu meningkatkan kecerdasan dan harus survive, karena mau tidak mau, suka atau tidak suka, kita wajib memanfaatkan teknologi informasi untuk pemasaran secara online.

“Di Bali saat ini sudah ada e_markertis (tempat berkumpulnya orang-orang yang ingin melakukan upaya jual beli secara virtual),” ungkap Ny. Sri Ariyani selaku Direktur Bali Mall.

Baca Juga  Update Covid-19 (8/7) di Bali, Pasien Sembuh semakin Meningkat mencapai 45 Orang

Bali Mall menjadi wadah promosi virtual saat ini yang menjual barang-barang kerajinan para perajin Bali secara virtual. Bagi perajin Bali yang sudah memenuhi syarat akan bisa masuk dan bergabung di dalamnya.

Bali Mall dibuka setelah munculnya pandemi dan dengan 12 kategori dengan 60 merchand. Untuk memudahkan promosi dan pemasaran, Bali Mall menerapkan transaksi Business to Customer, Business to Coorporate, Business to Business dan Business to Government.

Karena kondisi semesta yang mengharuskan kita tidak terlalu banyak bersentuhan fisik dan berkerumun, maka berbelanja online akan menjadi pilihan bagi mereka yang ingin aman. Untuk menjaga kepercayaan pembeli, maka masing-masing penjual wajib mencantumkan deskripsi barang, alamat produksi dan nomor kontak aktif perajin atau UMKM serta pencantuman call center. Jangan lupa untuk melengkapi dengan foto produk serta caption yang memuat informasi produk, serta caption yang memuat informasi mengenai produk yang dipasarkan. Sehingga jaminan barang untuk tidak terkirim akan sangat minim bahkan tidak ada.

Sebagai jembatan bagi perajin UMKM, salah satunya hanya memudahkan transaksi penjualan tanpa harus keluar rumah, sehingga Bali Mall ini bukan pesaing bagi pasar tradisional. (*/gs)

Loading

Advertisements
dprd bali
Advertisements
hut pemprov dprd badung
Advertisements
iklan

EKONOMI & BISNIS

September 2026, Inflasi Bali Melandai

Published

on

By

BI Bali
Infografis inflasi Provinsi Bali per September 2026. (Foto: Hms BI Bali)

Denpasar, baliilu.com – Berdasarkan rilis BPS Provinsi Bali tanggal 1 Oktober 2026, Provinsi Bali secara bulanan pada September 2026 mengalami inflasi sebesar 0,32% (mtm), lebih rendah dibandingkan bulan Agustus yang mengalami inflasi sebesar 0,61% (mtm). Inflasi bulanan Provinsi Bali dipengaruhi oleh meningkatnya biaya produksi, khususnya harga pakan, yang mendorong kenaikan harga ayam ras di tingkat Konsumen, serta kemarau berkepanjangan yang diiringi oleh El Nino dan serangan Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) yang mempengaruhi harga cabai dan beras. Sementara itu, inflasi Provinsi Bali secara tahunan meningkat dari 3,45% (yoy) pada Agustus 2026 menjadi 3,79% (yoy). Capaian tersebut lebih tinggi dibandingkan inflasi nasional sebesar 3,28% (yoy).

Kepala Perwakilan Kantor Bank Indonesia Provinsi Bali Achris Sarwani dalam keterangan tertulisnya mengatakan bahwa secara spasial, seluruh kabupaten/kota IHK di Bali mencatat inflasi bulanan pada September 2026. Kabupaten Badung mengalami inflasi tertinggi sebesar 0,55% (mtm), diikuti Kabupaten Tabanan sebesar 0,46% (mtm), Kota Denpasar sebesar 0,21% (mtm), dan Singaraja sebesar 0,19% (mtm). Sementara secara tahunan, inflasi tertinggi tercatat di Kabupaten Tabanan sebesar 4,54% (yoy), diikuti Kabupaten Badung sebesar 3,95% (yoy), Singaraja sebesar 3,87% (yoy), dan Kota Denpasar sebesar 3,42% (yoy).

Berdasarkan komoditas, lanjut Achris Sarwani, secara bulanan inflasi pada September 2026 bersumber dari peningkatan harga daging ayam ras, cabai rawit, air kemasan, biaya akademik/perguruan tinggi, jeruk, bahan bakar rumah tangga, dan beras. Inflasi yang lebih tinggi tertahan oleh penurunan harga angkutan udara, canang sari, cabai merah, bawang putih, sawi hijau, ketimun, emas perhiasan, bawang merah, terong, dan kangkung.

Achris Sarwani menegaskan bahwa Bank Indonesia Provinsi Bali terus mendukung berbagai langkah strategis TPID se-Bali, salah satunya melalui penguatan pemantauan harga dan intensifikasi operasi pasar agar capaian inflasi Provinsi Bali pada akhir tahun dapat terjaga pada rentang sasaran 2,5±1%. Ke depan, beberapa risiko inflasi yang perlu dicermati antara lain berlanjutnya fenomena El Niño dan mundurnya awal musim hujan yang berpotensi mengganggu produksi pangan, khususnya komoditas hortikultura. Selain itu, potensi gangguan distribusi pangan antardaerah termasuk melalui jalur penyeberangan Ketapang-Gilimanuk, serta masih tingginya biaya angkutan barang global juga perlu menjadi perhatian. Di sisi lain, meredanya aktivitas kunjungan wisatawan setelah periode puncak liburan diprakirakan dapat mengurangi tekanan inflasi dari sisi permintaan.

Baca Juga  Ni Putu Putri Suastini Koster Mengucapkan Selamat Hari Anak Nasional

Dalam memperkuat pengendalian inflasi ke depan, kata Achris Sarwani, Bank Indonesia Provinsi Bali terus memperkuat sinergi dan inovasi bersama Pemerintah Provinsi dan Kabupaten/Kota se-Bali dengan upaya TPID yang berfokus pada 4K, yaitu keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, dan komunikasi yang efektif. Adapun langkah-langkah implementasinya diantaranya melalui Rakor Inflasi TPIP-TPID, intensifikasi Gerakan Pangan Murah (GPM), pemantauan harga secara berkala, fasilitasi distribusi pangan dan optimalisasi kerja sama antardaerah melalui Perumda Pangan, pemberian bantuan sarpras kepada kelompok tani, serta penguatan koordinasi dan penyebarluasan informasi kepada masyarakat. Dengan dukungan sinergi yang kuat antara Bank Indonesia dan Pemerintah Daerah melalui TPID se-Bali, inflasi Bali pada tahun 2026 diprakirakan tetap terjaga dalam kisaran sasaran nasional sebesar 2,5%±1%, sehingga dapat mendukung stabilitas perekonomian dan daya beli masyarakat. (gs/bi)

Loading

Advertisements
dprd bali
Advertisements
hut pemprov dprd badung
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca

EKONOMI & BISNIS

Survei Agustus 2026, Penjualan Eceran Bali Tetap Kuat

Published

on

By

Penjualan Eceran Bali Tetap Kuat pada Agustus 2026
Infografis indeks penjualan riil Provinsi Bali bulan Agustus 2026. (Foto: Hms BI Bali)

Denpasar, baliilu.com – Kinerja penjualan eceran Bali tetap menunjukkan tren positif pada Juli 2026. Hal tersebut tercermin dari Indeks Penjualan Riil (IPR) Bali yang berada pada level 128,6 dan meningkat 1,7% (mtm), sekaligus mempertahankan level optimis (indeks >100). Peningkatan kinerja tersebut terutama didorong oleh meningkatnya permintaan pada kategori sandang sebesar 7,9% (mtm), kategori makanan, minuman, dan tembakau sebesar 3,9% (mtm), serta kategori barang budaya dan rekreasi sebesar 3,5% (mtm). Penguatan tersebut mencerminkan tetap kuatnya permintaan ritel pada periode libur sekolah serta meningkatnya aktivitas pariwisata Bali yang memasuki periode peak season. Kinerja penjualan eceran yang tetap kuat juga sejalan dengan membaiknya fundamental perekonomian Bali. Pertumbuhan ekonomi Bali pada Triwulan II 2026 tercatat sebesar 5,78% (yoy), didukung oleh peningkatan konsumsi rumah tangga, investasi, dan aktivitas sektor pariwisata yang tetap kuat. Di sisi lain, inflasi Bali pada Juli 2026 tercatat sebesar 2,42% (yoy), menurun dibandingkan bulan sebelumnya dan tetap berada dalam rentang sasaran inflasi nasional. Kondisi ini mendorong terjaganya daya beli masyarakat. Selain itu, aktivitas pariwisata Bali yang memasuki periode puncak kunjungan pada Juli-September 2026 turut mendorong permintaan barang dan jasa serta menjaga momentum konsumsi rumah tangga sebagai motor utama perekonomian daerah.

Kepala Perwakilan BI Provinsi Bali Achris Sarwani melalui siaran pers mengungkapkan bahwa kinerja penjualan eceran pada Agustus 2026 diprakirakan tetap kuat. Hal ini tercermin dari IPR Agustus 2026 yang diprakirakan berada pada level 129,2, atau meningkat 0,5% (mtm), ditopang oleh peningkatan penjualan pada kategori bahan bakar kendaraan bermotor, barang budaya dan rekreasi, serta suku cadang dan aksesori. Perkembangan tersebut terutama didukung oleh berlanjutnya aktivitas pariwisata selama periode peak season, meningkatnya mobilitas masyarakat pada momentum Hari Kemerdekaan RI, serta tingginya kegiatan sosial dan adat yang mendorong permintaan berbagai komoditas ritel.

Baca Juga  Sebelas Ekspresi Budaya Tradisional Komunal di Badung Terima Sertifikat

Sementara itu, Achris Sarwani menegaskan bahwa ekspektasi harga umum tiga dan enam bulan yang akan datang, yaitu Oktober 2026 dan Januari 2027 diprakirakan meningkat. Hal ini tercermin dari Indeks Ekspektasi Harga Umum (IEH) Oktober 2026 dan Januari 2027 masing-masing sebesar 198 dan 200. Meskipun meningkat dibandingkan bulan sebelumnya, inflasi Bali pada Agustus 2026 sebesar 3,45% (yoy) masih berada dalam rentang sasaran inflasi nasional 2,5±1%. Kondisi tersebut mendukung terjaganya daya beli masyarakat dan memberikan ruang bagi konsumsi rumah tangga untuk tetap tumbuh.

Optimisme pelaku usaha tetap terjaga meskipun mengalami moderasi dibandingkan survei sebelumnya. Hal tersebut tercermin pada Indeks Ekspektasi Penjualan (IEP) yang masih berada pada level optimis (indeks >100), baik untuk tiga bulan maupun enam bulan mendatang. IEP enam bulan mendatang (Januari 2027) lebih rendah menjadi 188 dari 198 pada survei sebelumnya.

Sementara itu, Achris Sarwani menyampaikan bahwa IEP tiga bulan mendatang (Oktober 2026) tercatat sebesar 180, sedikit lebih rendah dibandingkan ekspektasi sebelumnya sebesar 184. Meskipun mengalami moderasi jangka pendek, pelaku usaha tetap meyakini prospek penjualan ritel Bali akan meningkat, terutama didukung aktivitas pariwisata dan konsumsi rumah tangga yang masih kuat. Keyakinan pelaku usaha tersebut turut didukung oleh pertumbuhan kredit Lapangan Usaha Perdagangan yang hingga Juli 2026 tercatat tumbuh 1,86% (yoy).

Ke depan, Bank Indonesia Provinsi Bali akan terus memperkuat sinergi dengan Pemerintah Daerah, Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID), Tim Percepatan Pertumbuhan Ekonomi Daerah (TP2ED), pelaku usaha, dan seluruh pemangku kepentingan guna menjaga stabilitas harga, memperkuat daya beli masyarakat, serta mendukung pertumbuhan ekonomi Bali yang inklusif dan berkelanjutan. Sejalan dengan itu, implementasi strategi 4K (Keterjangkauan Harga, Ketersediaan Pasokan, Kelancaran Distribusi, dan Komunikasi Efektif) akan terus diperkuat untuk menjaga inflasi tetap terkendali dan menopang momentum pertumbuhan ekonomi daerah. (gs/bi)

Baca Juga  Satgas Ubung Kaja Berikan Sembako kepada Keluarga Karantina Mandiri

Loading

Advertisements
dprd bali
Advertisements
hut pemprov dprd badung
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca

EKONOMI & BISNIS

Optimisme Konsumen Bali Tetap Kuat di Tengah Normalisasi Aktivitas Ekonomi

Published

on

By

Infografis Indeks Keyakinan Konsumen Bali Agustus 2026
Infografis indeks keyakinan konsumen di Provinsi Bali. (Foto; Hms BI Bali)

Denpasar, baliilu.com – Pada Agustus 2026, Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Bali tetap berada pada level optimis sebesar 123,1 (indeks >100), serta lebih tinggi dibandingkan IKK nasional yang tercatat sebesar 118,5. Sejalan dengan proses normalisasi aktivitas ekonomi pasca periode libur sekolah dan tingginya basis keyakinan pada bulan sebelumnya, IKK Bali mengalami penyesuaian terbatas dari 126,3 pada Juli 2026 menjadi 123,8 pada Agustus 2026. Optimisme konsumen tetap terjaga terutama pada kelompok masyarakat dengan pengeluaran lebih dari Rp 8 juta, Rp 6-7 juta, dan Rp 3-4 juta per bulan.

Selain itu, optimisme juga tercermin pada pekerja di sektor formal (128,3) dan sektor informal (116,8). Optimisme yang terjaga didukung oleh membaiknya kinerja pariwisata dan tetap kuatnya aktivitas sektor jasa.

Lebih detail, penurunan IKK pada periode Agustus 2026 turut dipengaruhi oleh penurunan pada Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) dan Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK). Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) mengalami penurunan dari 122,3 pada Juli 2026 menjadi 118,0 pada Agustus 2026 atau turun sebesar 3,5% (mtm). Penurunan IKE bersumber dari ketersediaan lapangan kerja saat ini dibandingkan 6 bulan yang lalu (128,0), penghasilan saat ini dibandingkan 6 bulan yang lalu (124,5), serta konsumsi barang tahan lama saat ini dibandingkan 6 bulan yang lalu (101,5). Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) turut mengalami penurunan dari 130,3 pada Juli 2026 menjadi 128,2 pada Agustus 2026 atau turun sebesar 1,7% (mtm). Penurunan terutama terjadi pada komponen perkiraan penghasilan (127,0), perkiraan ketersediaan lapangan kerja (129,5) dan perkiraan kegiatan usaha (128,0).

Kepala kantor Perwakilan BI Provinsi Bali Achris Sarwani melalui keterangan tertulis mengatakan bahwa meskipun mengalami penyesuaian, tingkat keyakinan konsumen Bali masih berada pada zona optimis. Perkembangan tersebut mencerminkan proses normalisasi pasca periode libur sekolah dan tingginya aktivitas konsumsi pada bulan sebelumnya. Di sisi lain, masyarakat tetap menunjukkan optimisme terhadap kondisi ekonomi ke depan seiring dengan masih kuatnya aktivitas sektor pariwisata, perdagangan, dan jasa yang menjadi penggerak utama perekonomian Bali.

Baca Juga  Kelurahan Penatih Gencar Sidak Duktang, Antisipasi Penyebaran Covid-19

Tetap terjaganya optimisme konsumen juga sejalan dengan berbagai indikator ekonomi Bali yang masih menunjukkan kinerja positif. Aktivitas pariwisata yang memasuki periode peak season pada Juli-September 2026 turut mendorong peningkatan mobilitas wisatawan dan permintaan barang serta jasa di Bali. Di sisi lain, inflasi Bali pada Agustus 2026 tercatat sebesar 3,45% (yoy) dan masih berada dalam rentang sasaran inflasi nasional, sehingga daya beli masyarakat tetap terjaga. Kondisi tersebut menjadi faktor penopang keyakinan konsumen terhadap prospek perekonomian Bali ke depan.

Ke depan, Bank Indonesia Provinsi Bali akan terus memperkuat sinergi dengan Pemerintah Daerah, TP2ED, TPID, pelaku usaha, dan seluruh pemangku kepentingan guna menjaga stabilitas harga, memperkuat daya beli masyarakat, serta mendorong pertumbuhan ekonomi Bali yang inklusif dan berkelanjutan. Di tengah dinamika perekonomian global, sinergi tersebut diharapkan dapat menjaga optimisme masyarakat dan memperkuat ketahanan ekonomi Bali ke depan. (gs/bi)

Loading

Advertisements
dprd bali
Advertisements
hut pemprov dprd badung
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca