Saturday, 13 July 2024
Connect with us
https://www.baliviralnews.com/wp-content/uploads/2022/06/stikom-juni-25-2022.jpg

SENI

Pesona Utsawa Busana Adat 2024 PKB XLVI, Ny. Rai Wahyuni Sanjaya Dukung Peragaan Busana Ciri Khas Tabanan

BALIILU Tayang

:

utsawa busana adat PKB XLVI
HADIRI UTSAWA BUSANA ADAT: Ny. Rai Wahyuni Sanjaya, Ketua Tim Penggerak PKK dan Ketua Dekranasda Kabupaten Tabanan, turut hadir dalam acara Utsawa Busana Adat Khas Kabupaten/Kota PKB XLVI Tahun 2024, Sabtu (6/7). (Foto: Hms Tbn)

Tabanan, baliilu.com – Sebagai wujud komitmen dalam mendukung pelestarian adat, seni, dan budaya, Ny. Rai Wahyuni Sanjaya, Ketua Tim Penggerak PKK dan Ketua Dekranasda Kabupaten Tabanan, turut hadir dalam acara Utsawa Busana Adat Khas Kabupaten/Kota PKB XLVI Tahun 2024. Acara yang digelar di Gedung Ksirarnawa Taman Budaya Art Centre Denpasar pada Sabtu (6/7) ini merupakan ajang tahunan yang mempertemukan beragam kekayaan budaya dari seluruh penjuru Bali.

Acara yang dihadiri oleh perwakilan dari setiap Kabupaten dan Kota di Provinsi Bali ini menampilkan berbagai busana adat yang kaya akan makna dan sejarah. Setiap busana adat yang dipamerkan menceritakan cerita dan nilai-nilai yang mendalam dari masing-masing daerah, menjadikan Utsawa Busana Adat sebagai platform penting untuk memperkenalkan dan mempromosikan keberagaman budaya Bali kepada dunia. Saat itu Ny Rai Wahyuni didampingi oleh Para Anggota TP PKK mulai dari Kecamatan hingga Kabupaten Tabanan.

Bagi Bunda Rai, penting untuk menjaga dan mempromosikan kekayaan budaya sebagai bagian dari identitas dan warisan yang harus dilestarikan untuk generasi mendatang. “Partisipasi dalam Utsawa Busana Adat kali ini adalah bentuk nyata dari keseriusan kami dalam mendukung inisiatif pelestarian budaya, yang mana merupakan pondasi kuat dalam membangun identitas lokal yang kuat dan berkelanjutan,” ujarnya dengan penuh semangat.

Tampil dengan nomor undi 4, Tabanan memamerkan ragam parade busana, mulai dari Parade Busana Khas Desa Adat Paiketan Krama Istri/Pakis Bali dilanjutkan dengan Parade Busana Kerja Adat ke Kantor (Berpasangan) yang memiliki judul Spirit of Sevanam di mana makna yang diangkat ialah semangat dari dalam diri untuk pelayanan yang terbaik terhadap sesama manusia atau masyarakat.

Baca Juga  Sanggar Asti Pradnyaswari Tampilkan Prosesi ‘’Melukat’’ di PKB XLVI

Berikutnya adalah Parade Busana Khas Desa Adat Pecalang Batukau (Berpasangan), dan diteruskan dengan Parade Busana Adat Upacara Daur Hidup Payas Agung Tabanan (Berpasangan) yang menampilkan sepasang peraga dalam balutan Busana Adat Payas Agung Tabanan yang biasanya digunakan dalam setiap upacara pawiwahan di Tabanan yang sekaligus busana adat ini juga menjadi pusat daya tarik pariwisata Bali khususnya di Kabupaten Tabanan.

Penampilan selanjutnya adalah parade Busana Adat Upacara Daur Hidup ‘’Ngeraja Swala dan Ngeraja Singa Tabanan’’ (Berpasangan) yang menampilkan sepasang peraga remaja dalam balutan wastra wali Busana Adat Ngeraja Swala dan Ngeraja Singa yang masuk dalam kategori salah satu upacara proses daur hidup Manusa Yadnya di Bali. Dan dilanjutkan dengan Parade Busana Adat Ke Pura Upacara Pujawali Berpasangan, di mana peragaan ini menampilkan sepasang peraga anak-anak dalam balutan busana Adat Ke Pura Upacara Pujawali yang masuk dalam kategori Panca Yadnya yaitu Dewa Yadnya.

Bunda Rai berharap, melalui acara seperti Utsawa Busana Adat ini, kekayaan budaya Bali khususnya yang ada di Tabanan dapat terus dilestarikan dan dikembangkan, serta menjadi inspirasi bagi generasi mendatang untuk mencintai dan menghargai warisan nenek moyang kita. “Kami juga percaya, bahwa pelestarian budaya tidak hanya memperkaya pengalaman estetika, tetapi juga memperkokoh pondasi sosial dan ekonomi masyarakat lokal, khususnya dalam pelestarian budaya melalui busana yang ditampilkan pada malam hari ini,” pungkasnya. (gs/bi)

Advertisements
iklan sman 1 dps
Advertisements
gelombang 4b
Advertisements
waisak dprd badung
Advertisements
idul fitri dprd bali
Advertisements
iklan

SENI

Disaksikan Pj. Gubernur Mahendra Jaya, Pergelaran Drama Gong Lawas Pukau Penonton PKB Ke-46

Published

on

By

drama gong lawas
DRAMA GONG LAWAS: Pj. Gubernur Bali S.M. Mahendra Jaya berfoto bersama usai menyaksikan pergelaran drama gong lawas yang dibawakan Paguyuban Peduli Seni Drama Gong Lawas (Padsmagol) Provinsi Bali, Puri Gandapura, Desa Kesiman Kertalangu, Kota Denpasar, di Panggung Terbuka Ardha Chandra Taman Budaya Provinsi Bali serangkaian PKB ke-46, Kamis (11/7/2024) malam. (Foto: Hms Pemporv Bali)

Denpasar, baliilu.com – Pj. Gubernur Bali S.M. Mahendra Jaya menyaksikan rekasadana (pergelaran) drama gong lawas yang dibawakan Paguyuban Peduli Seni Drama Gong Lawas (Padsmagol) Provinsi Bali, Puri Gandapura, Desa Kesiman Kertalangu, Kota Denpasar, Kamis (11/7/2024) malam.

Drama gong yang mengangkat judul “Manik Kilat Bumi” itu dipertunjukkan di Panggung Terbuka Ardha Chandra Taman Budaya Provinsi Bali serangkaian memeriahkan Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-46 Tahun 2024. Penampilan sederet bintang drama gong kawakan memukau penonton yang memadati Panggung Terbuka Ardha Candra.

Penampilan I Nyoman Subrata yang berperan sebagai Petruk masih mampu mengocok perut penonton dengan guyonannya yang segar dan spontan. Bahkan di tengah pertunjukan, Petruk, Perak dan punakawan lainnya mengundang Pj. Gubernur Mahendra Jaya dan Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Bali Prof. Dr. I Gede Arya Sugiartha naik ke atas panggung untuk berinteraksi dan membagikan hadiah berupa kaos kepada dua penonton.

Naskah drama yang ditulis Jro Dasaran Suyadnya dibawakan secara apik oleh jajaran pemain drama gong senior. Manik Kilat Bumi berkisah tentang Waringin Sungsang, raja angkuh dan sombong yang ingin menguasai kerajaan di sekitarnya seperti Ratna Dwipa, Windu Pura dan lainnya. Dari sekian banyak wilayah yang ingin dikuasai, hanya Kerajaan Merta Buana yang belum bisa ditaklukkan hingga ia pun menggunakan cara kotor dengan menggunakan ilmu hitam.

Diah Mertawati, putri satu-satunya kerajaan Merta Buana diteluh hingga sakit tanpa ada yang bisa mengobati. Karena kebingungan, putra-putra raja sepakat mencarikan orang pintar demi kesembuhan sang putri.

Kabar itu didengar Patih Agung yang melapor kepada Raja Waringin Sungsang. Lalu, sang raja memerintahkan Patih Agung mencegat putra dari Kerajaan Merta Buana. Karena tipu daya kelompok Waringin Sungsang, Raden Wira Jaya hampir kehilangan calon istri. Ia nyaris saling bunuh dengan Wira Darma karena memperebutkan Galuh Liku (Putri Raja Waringin Sungsang).

Baca Juga  Bupati Giri Prasta Hadiri Pembukaan Pesta Kesenian Bali XLVI 2024

Setelah serangkaian tipu daya, hari naas Raja Waringin Sungsang tiba dan ia akhirnya terkena tusukan keris Wira Jaya dan Wira Darma. Kematian Raja Waringin Sungsang membuat suasana menjadi gaduh. Atas restu Dukuh Banyu Biru yang memberikan Pusaka Manik Kilat Bumi, seluruh putra dari Kerajaan Merta Buana terselamatkan termasuk kesembuhan putri raja. (gs/bi)

Advertisements
iklan sman 1 dps
Advertisements
gelombang 4b
Advertisements
waisak dprd badung
Advertisements
idul fitri dprd bali
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca

SENI

“Dalem Batu Putih Dalem Batu Selem”, Kisah Mengharukan dari Sanggar Surya Art di PKB Ke-46

Published

on

By

Sanggar Seni Surya Art
TOPENG: Topeng "Dalem Batu Putih Dalem Batu Selem" dari Sanggar Seni Surya Art, duta Kabupaten Badung saat tampil di PKB ke-46, Rabu (10/7/2024), di Kalangan Ayodya, Art Center, Denpasar. (Foto: Hms Diskominfo Badung)

Denpasar, baliilu.com – Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-46 kembali menjadi ajang unjuk bakat bagi para seniman dari berbagai kabupaten di Bali. Salah satu penampilan yang mencuri perhatian publik kali ini adalah Topeng “Dalem Batu Putih Dalem Batu Selem” dari Sanggar Seni Surya Art, Kabupaten Badung, Rabu (10/7/2024). Pertunjukan ini digelar di Kalangan Ayodya, Art Center, Denpasar dan berhasil memikat hati para pengunjung dengan cerita yang penuh makna.

Topeng “Dalem Batu Putih Dalem Batu Selem” mengisahkan Hyang Pasupati yang beryoga hingga manik sinarnya jatuh ke sungai dan menimpa batu, melahirkan dua anak kembar bernama Dalem Batu Putih dan Dalem Batu Selem. Kedua anak tersebut terpisah sejak lahir dan tidak dapat hidup bersama hingga dewasa. Ketika dewasa, mereka teringat satu sama lain dan memutuskan untuk saling mencari.

Penampilan ini dipimpin oleh I Gusti Ngurah Artawan dan dibawakan oleh tujuh penari yaitu termasuk I Gusti Ngurah Artawan, I Wayan Eka Santa Purwita, I Gusti Ngurah Gede Oka Wiratmaja, Ketut Sumadi, I Gusti Made Darma Putra, Anak Agung Ketut Surya Adi Putra, dan Kadek Karunia Artha. Tari Topeng ini juga diiringi oleh 28 penabuh yang telah berlatih selama tiga bulan.

Anak Agung Ketut Surya Adi Putra, salah satu penari, menyampaikan harapannya agar pertunjukan ini dapat menginspirasi seniman muda untuk terus maju dan mengembangkan diri. Sementara itu, I Gusti Ngurah Artawan, yang juga menjabat sebagai Ketua Listibiya Kabupaten Badung, menekankan pentingnya pelestarian, pengembangan, dan pembinaan kebudayaan. Ia menjelaskan bahwa Pemerintah Kabupaten Badung melalui Dinas Kebudayaan telah melakukan seleksi dan pembinaan selama setahun untuk memilih duta terbaik yang tampil di ajang PKB.

Baca Juga  Sanggar Asti Pradnyaswari Tampilkan Prosesi ‘’Melukat’’ di PKB XLVI

“Kami memilih yang terbaik dari Kabupaten Badung untuk ditampilkan di Pesta Kesenian Bali ini,” ujar Ngurah Artawan seusai pementasan.

Ia berharap semua pihak, baik dari Dinas Kebudayaan Provinsi Bali maupun kabupaten/kota, dapat bekerja sama untuk meningkatkan tata pementasan serta kualitas pertunjukan seni di masa depan.

Penampilan Topeng “Dalem Batu Putih Dalem Batu Selem” menjadi bukti nyata dari dedikasi dan usaha para seniman dalam melestarikan dan mengembangkan kebudayaan Bali. Ajang PKB ke-46 ini tidak hanya menjadi tempat untuk menampilkan karya seni, tetapi juga sebagai sarana untuk mempererat ikatan budaya dan meningkatkan apresiasi masyarakat terhadap kesenian tradisional. (gs/bi)

Advertisements
iklan sman 1 dps
Advertisements
gelombang 4b
Advertisements
waisak dprd badung
Advertisements
idul fitri dprd bali
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca

SENI

Komunitas Seni Nyenit Nyenir Banjar Sulangai, Bawakan Joged Bumbung Tradisi di PKB Ke-46

Published

on

By

joged bumbung pkb
JOGED BUMBUNG: Joged Bumbung Tradisi dari Komunitas Seni Nyenit Nyenir, Banjar Sulangai, Desa Sulangai, Petang, sebagai duta Kabupaten Badung, saat tampil di PKB ke-46, di Kalangan Madya Mandala, Art Center Bali, Rabu, 10 Juli 2024. (Foto: Hms Diskominfo Badung)

Denpasar, baliilu.com – Komunitas Seni Nyenit Nyenir, Banjar Sulangai, Desa Sulangai, Petang, sebagai duta Kabupaten Badung, tampil pada pementasan parade joged bumbung tradisi, Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-46. Bertempat di Kalangan Madya Mandala, Art Center Bali, Rabu, 10 Juli 2024, sebanyak 4 penari tampil maksimal di hadapan pengunjung.

Menurut Ketua Komunitas Seni Nyenit Nyenir Sulangai, I Made Yudiarta, ditunjuk sebagai duta Badung dalam pementasan parade joged bumbung tradisi di PKB ke-46 ini, menjadi suatu kehormatan. Sebagai Ketua Komunitas, pihaknya menyampaikan terimakasih kepada Pemerintah Kabupaten Badung melalui Dinas Kebudayaan, Listibya Badung, Listibya Kecamatan Petang dan Pemerintah Desa Sulangai, atas kepercayaan yang diberikan kepada Komunitas Nyenit Nyenir sebagai duta Badung. Termasuk dukungan masyarakat Badung dan masyarakat Bali dalam melestarikan joged bumbung tradisi. “Kami dari komunitas berharap kepada masyarakat Bali, agar tradisi ini bisa terus dilestarikan,” harapnya.

Untuk tabuh petegak yang ditampilkan, mengangkat cerita berjudul Jana Raga. Dikatakan, Jana Raga ini adalah keseimbangan dalam diri yang bertujuan untuk menguatkan energi positif pada diri sebagai manusia yang merupakan bagian dari Sad Kerthi secara sekala dan niskala. “Secara garis besar karya ini adalah sebuah implementasi konsep catur sadhana yang bermuara pada Jana Kerthi dan tertuang melalui karya tabuh kreasi joged bumbung yang berjudul Jana Raga,” bebernya.

Adapun penampilan joged yang dibawakan, pertama dengan judul tabuh “Kembang Rampe”. Kemudian untuk joged kedua dengan judul tabuh “Sekar Sandat”, joged ketiga dengan judul tabuh “Burat Wangi”, dan joged keempat dengan judul tabuh “Kembang Cempaka”. (gs/bi)

Advertisements
iklan sman 1 dps
Advertisements
gelombang 4b
Advertisements
waisak dprd badung
Advertisements
idul fitri dprd bali
Advertisements
iklan
Baca Juga  Gladi Bersih Wimbakara Taman Penasar Sanggar Seni Tepi Siring, Buduk, Mengwi
Lanjutkan Membaca