Connect with us
https://www.baliviralnews.com/wp-content/uploads/2022/06/stikom-juni-25-2022.jpg

NEWS

Wagub Cok Ace Apresiasi Gerakan Antinarkotika Melalui Festival Paduan Suara

BALIILU Tayang

:

wagub cok ace
SAMBUTAN: Wagub Cok Ace saat memberikan sambutan pembukaan festival paduan suara yang dilaksanakan di Discovery Kartika Plaza Kuta, Kabupaten Badung, Selasa (25/7/2023) malam. (Foto: ist)

Badung, baliilu.com – Wakil Gubernur Bali Prof. Tjokorda Oka Artha Ardana Sukawati (Cok Ace) menyambut baik pelaksanaan Bali International Choir Festival ke-12 tahun 2023. Menurutnya, kegiatan yang diselenggarakan Badan Narkotika Nasional (BNN) RI ini merupakan media yang tepat untuk menggaungkan semangat antinarkotika.

Sambutan positif itu disampaikan Wagub Cok Ace saat menghadiri pembukaan yang dirangkai dengan gala dinner bagi peserta festival yang dilaksanakan di Discovery Kartika Plaza Kuta, Kabupaten Badung, Selasa (25/7/2023) malam.

Atas nama Pemprov Bali, Wagub Cok Ace menyampaikan terima kasih kepada Kepala BNN RI Komjen Pol. Prof. Dr. Petrus Reinhard Golose yang tak henti-henti menjadikan Pulau Dewata sebagai panggung untuk kegiatan dalam rangka menggemakan antinarkotika. Ia berharap, terpilihnya Bali sebagai tempat penyelenggaraan acara, mampu menguatkan komitmen semua pihak untuk memberantas peredaran narkotika. Karena menurutnya, sebagai daerah tujuan wisata, Daerah Bali menjadi sasaran empuk peredaran barang terlarang itu.

“Untuk meniadakan sama sekali memang tidak mungkin, tapi harapannya bisa terus kita tekan,” ucapnya.

Selanjutnya, Wagub Cok Ace menyampaikan selamat datang kepada para peserta dari berbagai negara. Diharapkan olehnya, kegiatan ini tak hanya mampu mendorong perkembangan bidang paduan suara, namun juga berimbas positif bagi upaya pemulihan pariwisata Bali. “Selamat datang di Bali yang kita kenal sebagai Pulau Dewata dan juga Pulau Surga. Manfaatkan waktu selama di Bali untuk berkunjung ke objek wisata,” ujarnya.

wagub cok ace
PEMUKULAN GONG: Pembukaan The 12th Bali International Choir Festival ditandai dengan pemukulan gong oleh Kepala BNN RI Petrus Golose yang didampingi Wagub Cok Ace. (Foto: ist)

Masih dalam sambutannya, Wagub Cok Ace yang juga menjabat sebagai Ketua BPD PHRI Bali ini menyebut paduan suara sebagai salah satu jenis seni tarik suara dengan tingkat kesulitan tinggi. “Saat di bangku SMA saya pernah ikut paduan suara dan itu cukup sulit,” sebutnya. Menurut dia, selain membutuhkan bakat, dalam paduan suara juga diperlukan konsentrasi, kekompakan dan kerja sama tim. Bahkan, Guru Besar ISI Denpasar ini menyebut penekun paduan suara sebagai orang yang memiliki kemampuan di atas rata-rata karena mereka tak hanya dituntut menguasai hal yang berkaitan dengan logika tapi juga olah rasa. Oleh sebab itu, ia menilai langkah BNN menggandeng kelompok paduan suara dalam menyosialisasikan program memerangi penyalahgunaan narkotika sebagai hal yang sangat tepat. “Saya harap kegiatan ini memberi vibrasi positif bagi Bali, Indonesia dan dunia,” pungkasnya.

Baca Juga  Bupati, Panglingsir Puri Sampai Tokoh Masyarakat Se-Kabupaten Gianyar Dukung Gubernur Wayan Koster Lanjutkan Pembangunan di Bali

Sementara itu, Kepala BNN RI Petrus Golose dalam wawancara dengan awak media menyampaikan bahwa kegiatan ini melibatkan 4.000 peserta dari 16 negara. Ia menyebut, nyanyian merupakan media yang tepat untuk menyampaikan pesan antinarkotika yang belakangan digencarkan BNN RI. Mantan Kapolda Bali itu mengatakan, program sebelumnya yaitu Sing Against Drug yang digelar BNN RI telah memecahkan rekor dunia dengan gerakan bernyanyi antinarkotika yang diikuti lebih dari 3,6 juta orang. Melanjutkan program itu, BNN RI bersama Bandung Choral Society (BCS) kembali berkolaborasi menggelorakan semangat war on drugs melalui pendekatan soft power approach dengan menyelenggarakan The 12th Bali International Choir Festival. Dia berharap, perlombaan paduan suara yang dimulai 26-29 Juli 2023 ini dapat menimbulkan efek besar bagi upaya pencegahan narkotika di Indonesia.

Pada kesempatan itu, Kepala BNN RI Petrus Golose yang baru dikukuhkan menjadi Guru Besar mewanti-wanti masyarakat agar waspada terhadap peredaran narkotika jenis baru yang kini marak di dunia seperti ‘fentanil’. Ia menginformasikan bahwa narkotika jenis baru itu telah muncul di Indonesia. “Saya selalu sampaikan yang merupakan challenge kita berikutnya adalah new psychoactive substances, seperti ‘fentanil’ yang ada di AS. Itu sudah terdeteksi ada di Indonesia,  walaupun belum seperti di sana yang diracik organized crime,” kata dia. Di Indonesia, kata Golose, meskipun baru dikeluarkan oleh farmasi, zat yang mengandung NPS tersebut sudah diedarkan dan dipakai sejumlah orang. Para pemakai tersebut sudah menjalani rehabilitasi di BNN RI.

Mengakhiri wawancara, ia menyampaikan terima kasih kepada Pemprov Bali khususnya Wagub Cok Ace yang selalu setia bersama BNN dalam mengumandangkan perang terhadap narkotika. “Karena seperti yang kita ketahui, di seluruh dunia tercatat sebanyak 296 juta pengguna narkotika dan 3,6 juta diantaranya ada di Indonesia. Bali mendapat atensi khusus karena termasuk dalam 20 provinsi dengan narapidana narkotika khususnya perempuan. Karena itu, upaya menekan peredaran narkotika di Pulau Dewata ini menjadi konsen saya,” terangnya. Pembukaan The 12th Bali International Choir Festival ditandai dengan pemukulan gong oleh Kepala BNN RI Petrus Golose yang didampingi Wagub Cok Ace. (gs/bi)

Baca Juga  Wagub Cok Ace Harap Proyek SMART di Ubud Bisa Dukung Bali Menuju Emisi Nol Bersih

Loading

Advertisements
iklan stikom
Advertisements
waisak
Advertisements
Nyepi DPRD Bali
Advertisements
iklan
Advertisement
Klik untuk Komentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

NEWS

Pemerintah Tegaskan Komitmen Perkuat Pengawasan Program Nasional, Pastikan Tata Kelola yang Bersih dan Bebas Korupsi

Published

on

By

pengawasan program nasional
KETERANGAN: Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi saat memberi keterangan di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, pada Kamis, 4 Juni 2026. (Foto: BPMI Setpres/Rusman/presidenri.go.id)

Jakarta, baliilu.com – Pemerintah tegaskan komitmen memperkuat pengawasan terhadap pelaksanaan berbagai program strategis nasional guna memastikan seluruh kebijakan dapat berjalan secara akuntabel dan bebas dari praktik korupsi. Hal tersebut disampaikan oleh Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi dalam keterangannya di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, pada Kamis, 4 Juni 2026.

“Semangatnya kita, kita betul-betul mau berusaha sekeras-kerasnya memerangi budaya korupsi ini,” tegas Menteri Pras.

Lebih lanjut Menteri Pras menuturkan bahwa penguatan pengawasan ini berlaku untuk seluruh program pemerintah yang dijalankan oleh kementerian dan lembaga. Oleh karenanya, pemerintah melalui sejumlah badan pengawasan akan terus mendorong fungsi pengawasan untuk menjalankan tugas secara optimal.

“Sesungguhnya kan seluruh program pasti harus dilakukan pengawasan ya, seperti BPKP ini kan adalah audit internal keuangan pemerintah, seluruh kementerian dan lembaga ya secara rutin ada pengawasan terhadap seluruh proses di kementerian dan lembaga masing-masing,” jelasnya.

Selain pengawasan institusional, Menteri Pras mengungkapkan bahwa Presiden Prabowo secara langsung melakukan monitoring dan evaluasi terhadap pelaksanaan program-program prioritas pemerintah. Menurutnya, sebagai kepala negara dan kepala pemerintahan, Presiden secara rutin menerima laporan perkembangan program dari seluruh kementerian dan lembaga guna memastikan target pembangunan dapat tercapai sesuai rencana.

“Jadi beliau sebagai Kepala Negara, Kepala Pemerintahan, memang rutin seluruh program, seluruh kementerian dilakukan monitoring, dilakukan evaluasi,” jelasnya. (gs/bi)

Loading

Advertisements
iklan stikom
Advertisements
waisak
Advertisements
Nyepi DPRD Bali
Advertisements
iklan
Baca Juga  Wagub Cok Ace Hadiri Ground Breaking Gedung Pelayanan Ibu dan Anak RSUP Prof. Ngoerah
Lanjutkan Membaca

NEWS

Kasus OTT Kementerian Imigrasi Coreng Indonesia di Mata Dunia, Harusnya Diisi SDM Berintegritas  

Published

on

By

korupsi imipas
Patung Ikatan di depan Gedung DPR/MPRRI Jakarta. (Foto; dok)

Jakarta, baliilu.com – Wakil Ketua Komisi XIII DPR RI, Andreas Hugo Pareira menilai kasus korupsi di jajaran Kementerian Imigrasi dan Permasyarakatan (Imipas) telah merusak wajah Indonesia di dunia internasional. Ia pun meminta agar lembaga yang mengurus keimigrasian diisi oleh Sumber Daya Manusia (SDM) yang memiliki kapasitas di bidang tersebut.

Menurut Andreas, Operasi Tangkap Tangan (OTT) yang dilakukan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) di lingkungan Kantor Imigrasi Jakarta Barat kembali mengingatkan publik bahwa praktik korupsi di sektor pelayanan publik masih menjadi tantangan serius.

“Kasus ini telah mencoreng wajah Indonesia di mata dunia karena berkaitan langsung dengan tata kelola investasi, kepercayaan internasional, dan kredibilitas birokrasi negara,” kata Andreas Hugo Pareira dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Jumat (5/6/2026).

Seperti diketahui, KPK melakukan OTT di kantor Imigrasi Jakarta Barat beberapa hari lalu berkaitan dengan dugaan tindak pidana korupsi pemerasan dalam pengurusan dokumen keimigrasian bagi Warga Negara Asing (WNA) yang ingin tinggal di Indonesia, dalam hal ini adalah Kartu Izin Tinggal Tetap (KITAP) maupun Kartu Izin Tinggal Terbatas (KITAS).

Kasus ini turut menyeret Wakil Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan (Imipas), Silmy Karim di mana KPK telah menahan 8 orang. KPK menjerat Silmy dkk dengan pasal pemerasan dan gratifikasi.

Terkait kasus tersebut, Andreas menyatakan dugaan suap dalam pengurusan izin tinggal WNA ini bukan sekadar persoalan pelanggaran hukum biasa.

“Tentunya kami di DPR sama seperti publik yang berharap proses hukum berjalan secara transparan dan tuntas,” ujar Legislator dari Dapil NTT itu.

Di luar aspek penegakan hukum pada kasus ini, Andreas pun menilai terdapat pertanyaan yang lebih besar.

Baca Juga  Wagub Cok Ace Hadiri Upacara Ngenteg Linggih lan Padudusan Agung di Pura Pajenengan Pande, Antiga

“Bagaimana praktik semacam ini bisa terjadi di sektor yang seharusnya menjadi garda terdepan pengawasan lalu lintas orang asing di Indonesia?” ungkap Andreas.

“Maka kita harus memastikan agar kasus ini tidak berhenti sebagai peristiwa hukum semata, melainkan menjadi momentum evaluasi sistemik terhadap tata kelola keimigrasian nasional,” imbuhnya.

Andreas mengingatkan, pelayanan keimigrasian merupakan salah satu sektor strategis yang berhubungan langsung dengan investor, tenaga kerja asing, wisatawan, hingga ekspatriat yang tinggal di Indonesia.

“Jika pengurusan izin tinggal dapat diperjualbelikan melalui praktik suap, maka muncul risiko besar berupa masuknya individu yang tidak memenuhi persyaratan atau bahkan berpotensi mengancam keamanan dan ketertiban,” ucap Andreas.

Di sisi lain, Andreas berpandangan keberhasilan pemberantasan korupsi bukan hanya diukur dari banyaknya operasi tangkap tangan, tetapi dari kemampuan negara mencegah praktik serupa terjadi kembali.

“Imigrasi sebagai pintu gerbang masuk dan keluar orang asing harus diisi oleh SDM yang mempunyai kapasitas dan kompetensi di bidang keimigrasian baik di level pimpinan maupun pelaksana,” ucapnya.

“Serta yang lebih penting lagi adalah individu yang berintegritas dan dedikasi tinggi dalam hal pelayanan publik baik dalam maupun luar negeri,” lanjut Andreas.

Andreas berharap, Pemerintah mengambil banyak pelajaran dari kasus suap di Imipas ini. Khususnya dalam hal pemilihan pejabat dan pelaksana di jajaran Imipas.

“Karena sebagai pintu gerbang, imigrasi juga adalah ‘wajah’ Indonesia, baik ke publik domestik mapun di dunia internasional,” tegas Andreas.

Pimpinan Komisi di DPR yang membidangi urusan keimigrasian tersebut menambahkan, praktik korupsi dalam layanan imigrasi menciptakan ketidakadilan. Andreas menyebut, kondisi seperti itu berpotensi merusak kepercayaan yang selama ini terus diupayakan Negara.

“Warga negara asing yang mengikuti prosedur resmi akan dirugikan karena harus bersaing dengan pihak yang memperoleh kemudahan melalui jalur ilegal,” terangnya.

Baca Juga  Hadiri Peringatan HPS di Bangli, Wagub Cok Ace Ingatkan Pentingnya Ketahanan Pangan

Andreas juga menyinggung Indonesia yang tengah berupaya menarik investasi global, meningkatkan sektor pariwisata, dan memperkuat posisi sebagai pusat manufaktur dan ekonomi digital di Asia Tenggara.

“Namun, upaya tersebut dapat terhambat jika praktik korupsi dalam perizinan masih ditemukan di lapangan,” sebut Andreas.

“Kasus ini harus menjadi alarm penting bahwa reformasi birokrasi di sektor keimigrasian belum sepenuhnya selesai,” sambungnya.

Sebagai mitra kerja Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan, Komisi XIII DPR menilai kasus tersebut menunjukkan bahwa mekanisme pengawasan internal belum cukup efektif dalam mendeteksi dugaan penyimpangan sebelum aparat penegak hukum turun tangan.

“Kami akan meminta penjelasan mengenai sistem audit, pengawasan elektronik, dan mekanisme pelaporan pelanggaran yang selama ini berjalan,” sebut Andreas.

“Apakah ada tanda-tanda penyimpangan yang sebenarnya sudah terdeteksi tetapi tidak ditindaklanjuti? Karena salah satu akar masalah korupsi pelayanan publik adalah interaksi langsung yang berlebihan antara pemohon dan petugas,” tambahnya.

Menurut Andreas, semakin banyak proses yang dilakukan secara digital dan terdokumentasi otomatis, maka semakin kecil ruang negosiasi ilegal. Untuk itu, ia mendorong percepatan digitalisasi layanan KITAS, KITAP, hingga pengawasan terhadap agen atau pihak ketiga yang mengurus dokumen keimigrasian.

“Banyak kasus perizinan melibatkan broker atau pihak ketiga yang menjadi penghubung antara pemohon dan pejabat. Harus ada penataan terhadap praktik jasa pengurusan izin agar tidak menjadi celah munculnya suap,” papar Andreas.

Andreas menekankan pentingnya pembenahan kelembagaan imigrasi. Ia mendorong agar Kementerian Imipas segera menyusun peta risiko korupsi pada seluruh layanan strategis.

“Setiap titik layanan yang memiliki potensi transaksi ilegal harus diperkuat dengan sistem pengawasan berbasis teknologi dan akuntabilitas yang jelas,” ujarnya.

Selain itu, Andreas menyebut perlu ada evaluasi berkala terhadap pejabat yang menduduki posisi strategis, terutama pada unit pelayanan yang berhubungan langsung dengan masyarakat dan WNA.

Baca Juga  Bupati, Panglingsir Puri Sampai Tokoh Masyarakat Se-Kabupaten Gianyar Dukung Gubernur Wayan Koster Lanjutkan Pembangunan di Bali

“Rotasi jabatan, audit integritas, serta penguatan budaya antikorupsi harus menjadi bagian dari reformasi berkelanjutan. Pendekatan ini penting agar kasus serupa tidak terus berulang setiap beberapa tahun dengan pola yang hampir sama,” urai Andreas.

Di tengah berbagai tantangan global, Andreas menyebut Indonesia membutuhkan birokrasi yang profesional, bersih, dan dapat dipercaya.

“Karena itu, OTT KPK di lingkungan Imigrasi Jakarta Barat harus dilihat sebagai kesempatan untuk memperbaiki sistem, bukan hanya sekadar menghukum oknum,” tutup Politisi Fraksi PDI-Perjuangan ini. (gs/bi)

Loading

Advertisements
iklan stikom
Advertisements
waisak
Advertisements
Nyepi DPRD Bali
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca

NEWS

Kementerian Imigrasi Lakukan Pungli, Yanuar Arif: Terus Terang, Ini Memalukan!  

Published

on

By

pungli imigrasi
Anggota Komisi XIII DPR RI Yanuar Arif Wibowo. (Foto: dpr.go.id)

Jakarta, baliilu.com – Anggota Komisi XIII DPR RI Yanuar Arif Wibowo, menyoroti kasus yang tengah menjadi perhatian publik terkait dugaan praktik pungutan liar (pungli) di lingkungan Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan (Imipas). Menurutnya, peristiwa tersebut menjadi peringatan serius bagi seluruh jajaran birokrasi untuk memperkuat integritas dan menutup celah terjadinya penyimpangan.

Yanuar mengaku prihatin atas munculnya kasus yang melibatkan pejabat publik tersebut. Ia menilai kejadian itu mencederai harapan masyarakat terhadap aparatur negara yang seharusnya menjadi garda terdepan dalam melayani dan membela kepentingan rakyat.

“Terus terang ini berita yang sangat mengecewakan ya, di mana harapan kita semua pejabat publik bisa menjaga integritas, bisa menjaga kemurnian perjuangan membela rakyat, tentu ini sangat mencederai,” ujar Yanuar dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Jumat (5/6/2026).

Sebagai mitra kerja Kementerian Imipas di DPR RI, Yanuar menegaskan bahwa kasus tersebut harus dijadikan momentum evaluasi menyeluruh untuk memperbaiki tata kelola dan pengawasan internal.

Menurutnya, masih adanya dugaan pungli menunjukkan bahwa terdapat celah dalam sistem birokrasi yang memungkinkan terjadinya praktik-praktik menyimpang.

“Ini harus jadi pelajaran penting terutama bagi Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan bahwa ternyata masih ada ruang-ruang gelap, adanya pungli di dalam sebuah proses perizinan dan seterusnya. Ini tentu harus menjadi pelajaran penting,” kata Politisi Fraksi PKS ini.

Yanuar menekankan bahwa penguatan integritas dan independensi aparatur harus menjadi prioritas utama dalam upaya reformasi birokrasi. Ia berharap seluruh jajaran kementerian dapat melakukan pembenahan secara serius agar kasus serupa tidak terulang di masa mendatang.

“Seluruh jajarannya harus menjadikan integritas dan independensi itu sesuatu yang sangat dibutuhkan sekarang. Jadi harapan saya ini menjadi pelajaran penting dan jangan terulang lagi. Kita hilangkan ruang-ruang gelap dalam birokrasi yang ini akan menimbulkan potensi terjadinya kecurangan, terjadinya korupsi, pungli,” tegasnya.

Baca Juga  Wagub Cok Ace Hadiri Upacara Ngenteg Linggih lan Padudusan Agung di Pura Pajenengan Pande, Antiga

Lebih lanjut, Yanuar berharap proses penanganan kasus tersebut dapat dilakukan secara transparan dan menyeluruh sehingga mampu mengembalikan kepercayaan publik terhadap institusi negara.

“Mudah-mudahan ini bisa diungkap secara terbuka dan menyeluruh. Itu harapan kami,” pungkasnya. (gs/bi)

Loading

Advertisements
iklan stikom
Advertisements
waisak
Advertisements
Nyepi DPRD Bali
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca