Connect with us
https://www.baliviralnews.com/wp-content/uploads/2022/06/stikom-juni-25-2022.jpg

NEWS

Terkait Penolakan Lokasi Karantina, Dewa Indra: ABK Adalah Anak-anak Kita

BALIILU Tayang

:

de
KASATGAS COVID-19 DEWA MADE INDRA

Denpasar, baliilu.com – Menanggapi spanduk yang dibentangkan warga masyarakat yang bernuansa menolak rencana pembuatan karantina di sebuah lokasi, Ketua Satgas Penanggulangan Corona Virus Disease (Covid-19) Provinsi Bali Dewa Made Indra sangat menyesalkan sikap masyarakat atau sebagian masyarakat yang melakukan penolakan kepada anak-anak kita sendiri. ‘’Tetapi saya tidak menyalahkan masyarakat, saya mengambil posisi bahwa masyarakat belum mendapatkan pemahaman yang baik, yang utuh tentang Covid-19,” terang Dewa Made Indra menjawab pertanyaan awak media saat konferensi pers, Kamis petang (2/4-2020) di Kantor Kominfos Provinsi Bali, Renon Denpasar.

Dewa Indra mengatakan kepada seluruh masyarakat Bali bahwa para pekerja kapal pesiar (ABK) ini adalah anak-anak kita. Semuanya adalah anak-anak kita. Mereka adalah orang-orang yang mencari pekerjaan di luar negeri karena kita tidak menyediakan lapangan kerja yang cukup kepada mereka. ‘’Seandainya saja Pemerintah Provinsi Bali, Pemerintah Kabupaten/Kota bisa menyediakan lapangan kerja yang cukup dengan penghasilan yang cukup, saya yakin anak-anak kita tidak akan pergi sampai bekerja jauh meninggalkan orang tuanya, meninggalkan adiknya bahkan meninggalkan nenek dan kakeknya,’’ ujar Dewa Indra.

Ditegaskan para ABK adalah orang-orang yang bekerja tangguh. Pemerintah menyebut sebagai pahlawan devisa. Mereka juga adalah penopang ekonomi keluarga, mereka adalah orang yang juga mengambil inisiatif untuk menyelamatkan ekonomi masyarakat Bali dengan bekerja di luar. Selama ini mereka dibanggakan oleh keluarganya, oleh para orangtuanya bahkan oleh orang kampung karena mereka bisa mendapatkan pekerjaan di luar negeri.

Tetapi hari ini, ungkap Dewa Indra, ketika ada wabah Covid-19, ada sebagian warga masyarakat yang kurang menerima dengan baik anak-anak kita itu. ‘’Saya ingin mengatakan mereka adalah pahlawan devisa, mereka adalah penopang ekonomi keluarga, mereka adalah orang-orang yang berinisiatif sendiri mencari pekerjaan demi banyak orang di Bali. Ketika peristiwa ini terjadi seharusnya kita dengan penuh kesadaran nurani menyambut uluran tangan anak-anak kita yang pulang. Mereka pulang karena situasi yang tidak memungkinkan mereka untuk bekerja. Mereka itu adalah anak kita yang kehilangan pekerjaannya, kalau mereka kehilangan pekerjaannya maka bisa dipastikan pendapatan mereka untuk menopang keluarga juga hilang,’’ ujar Dewa Indra.

Baca Juga  Update Covid-19 (5/9) di Bali, 10 Pasien Meninggal Dunia, Kasus Positif Bertambah 165 Orang

Ditegaskan kembali,  mereka bukan penyakit, mereka juga bukan pembawa penyakit. Seharusnya masyarakat kita memahami bahwa mereka itu bukan orang lain. ‘’Sesungguhnya saya sangat menyesalkan sikap masyarakat atau sebagian masyarakat yang melakukan penolakan kepada anak-anak kita sendiri.Tetapi saya tidak menyalahkan masyarakat, saya mengambil posisi bahwa masyarakat belum mendapatkan pemahaman yang baik, pemahaman yang utuh tentang Covid-19,’’ ujar Dewa Indra.

Dewa Indra menjelaskan penularan Covid-19 bukan melalui udara tetapi medianya adalah dahak yang keluar dari mulut, yang keluar dari hidung mengenai orang-orang dekat, orang yang berada dalam jarak dekat, orang yang terkena itu tidak memakai masker, tidak rajin mencuci tangan. Tetapi  kalau kita sedang berada dalam jarak yang jauh, kita rajin mencuci tangan, memakai masker, apalagi kalau orang yang sakit itu sudah menggunakan masker maka tidak menyebar kemana-mana.

Sesungguhnya, kata Dewa Indra  sekali lagi mereka bukan penyakit dan pembawa penyakit. Hasil tes yang dilakukan selama ini yang dilaksanakan di Bandara Ngurah Rai maupun tempat karantina negatif,  hanya 1-2 orang yang positif. ‘’Mengapa mereka kita tolak, karena karantina bukan tempat untuk orang-orang yang sakit, melainkan tempat untuk menampung anak-anak sementara. Sambil menunggu yang akan kami lakukan, kami memperlakukan anak-anak itu dengan sebaik-baiknya, baik saat penjemputan di bandara mengantar ke tempat karantina, kami berikan makanan dan hasil tes yang diberikan untuk dibawa pulang supaya mereka tidak ditolak oleh masyarakat. Sekali lagi, mereka bukan siapa-siapa, tapi anak-anak kita sendiri,’’ ungkap Dewa Indra.

Dewa Indra menegaskan karantina bukan tempat orang-orang sakit. Begitu ditemukan positif akan dibawa ke rumah sakit. Karantina itu adalah tempat untuk menampung sementara karena mereka pulang dari luar negeri semuanya sudah membawa health certificate yang menyatakan telah dites kesehatannya dan dinyatakan negatif.  Tetapi karena kita ingin meyakinkan bahwa mereka betul-betul sehat, kita harus menjaga maka kami melakukan tes meskipun dari segi regulasi sebenarnya tidak diatur.

Baca Juga  Walikota Rai Mantra Bicara Ekraf ketika Didaulat sebagai Penguji Program Sekolah Pimpinan Bank Indonesia

Selain itu, karantina itu sudah tertutup dengan tembok yang dijaga petugas. Jika masyarakat merasa khawatir, takut tentu Satgas sangat memahami, tetapi jangan masuk ke tempat karantina. Bayangkan saja kalau masyarakat di sekitar karantina merasa takut, bagaimana dengan Satgas dengan petugas-petugas yang berada di dalam karantina untuk memberikan pelayanan kepada anak-anak kita, membersihkan tempat tidurnya, memasang sprei, menyiapkan makan, membuang sampahnya, melakukan tes. ‘’Kalau saja itu bisa menyebar dengan udara lebih dulu petugas kami yang kena,  bukan masyarakat yang berada di luar. Jadi kalau takut, khawatir jangan masuk ke tempat karantina, tapi tidak bijak untuk melakukan penolakan karena itu anak kita,’’ imbaunya.

Dewa Indra kemudian membayangkan misalnya ABK yang pulang itu adalah anak dari warga masyarakat yang melakukan penolakan, apa yang dipikirkan. Di Bali selalu diajarkan tentang tat twam asi, kamu adalah saya. ‘’Saya ingin menanyakan di mana itu semua. Jadi mari kita pahami dengan benar siapa anak buah kapal atau pegawai kapal pesiar ini. Mereka bukan orang siapa-siapa, mereka anak-anak, tidak baik kalau kita menolak mereka. Mereka juga bukan membawa penyakit. Virusnya tidak akan menyebar ke udara lalu menjangkiti orang-orang yang jauh. Kalau begitu cara kerja virus tentu saja petugas yang terkena lebih dulu, tentu TNI Polri yang menjaga pintunya dulu kena,’’ ujar Dewa Indra.

Bahwa ada sebagian masyarakat yang kemudian melakukan penolakan dengan memasang spanduk, bagi Dewa Indra karena pemahaman yang kurang lengkap terhadap Covid-19. ‘’Mudah-mudahan penjelasan saya ini melengkapi pemahaman warga masyarakat kita yang melakukan penolakan dengan tambahan informasi yang saya sampaikan. Mari kita lapang dada untuk menerima. Ini adalah musibah, tidak baik kalau kita ingin selamat sendiri. Karantina bagian dari upaya untuk menyelamatkan seluruh masyarakat Bali,’’ harapnya.

Baca Juga  DR. Ketut Mardjana: Kembangkan Toya Devasya, Pertahankan Kearifan Lokal

Terkait TKI yang pulang dari Malaysia terdampar di Kepulauan Riau, Pemerintah Provinsi Bali sudah melakukan komunikasi dengan pemerintah pusat dalam hal ini Kementerian Luar Negeri, Kementerian Sosial dan juga Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau. Sekarang ada dua kelompok arus besar yang pulang. Pertama adalah ABK (anak buah kapal) pada umumnya bekerja di kapal pesiar, kemudian yang kedua adalah TKI (tenaga kerja Indonesia).

Kedua kelompok ini mempunyai karakteristik yang berbeda. ABK bekerja dalam satu perusahaan yang besar kapal pesiar. Mereka yang bekerja di sebuah perusahaan besar mereka sudah sangat ketat menerapkan protokol Covid-19. Para ABK yang pulang ini sudah ditangani oleh manajemen kapal pesiar itu dengan sebaik-baiknya. Mereka dikarantina 14 hari di kapal pesiar. Setelah itu dilakukan tes untuk memastikan mereka negatif. Setelah dinyatakan negatif mereka diberikan sertifikat kesehatan oleh otoritas yang berwenang di negara itu kemudian dikoordinasikan dengan kantor Perwakilan Republik Indonesia. Berarti mereka ini sebenarnya adalah kelompok yang aman karena mereka bekerja di perusahaan yang mengikuti protokol kesehatan dengan baik.

TKI  pada umumnya tidak punya dokumen kesehatan. Mereka ini bekerja sebagai pembantu rumah tangga, asisten rumah tangga, ada yang bekerja di perkebunan kelapa sawit, dll. Kelompok TKI ini tidak bekerja dalam perusahaan besar sehingga mereka ini tidak ada yang mengurus karantinanya, pemeriksaan kesehatannya, memberikan sertifikatnya. Inilah yang sekarang pulang.  ‘’Kami tentu sudah mengantisipasinya. Namun TKI asal Bali relatif aman karena sedikit sekali,’’ ujarnya.

Dari dua kelompok ini, Bali justru menghadapi kepulangan besar untuk ABK, tapi untuk TKI belum ada informasi meskipun kami tetap memonitor. Tapi bagi daerah-daerah lain Sumatera, Jawa dan NTB, arus pulang yang besar itu adalah TKI.

Terkait Presiden memutuskan mengizinkan mudik lebaran, Dewa Indra menandaskan kebijakan Pemerintah Provinsi Bali mengikuti arah kebijakan nasional. Kalau memang kebijakannya sekarang mengijinkan mudik maka tentu Pemerintah Provinsi Bali akan mengantisipasinya dengan baik. Salah satu yang diperkuat pasti akan melakukan rapid test.

Tetapi bagi Bali arus masuk tampaknya tidak terlalu besar, yang terjadi sebaliknya arus keluar. Bagi daerah lain arus masuknya bisa menjadi besar. ‘’Karena itu kebijakan pemerintah pusat mengijinkan mudik dampaknya bagi Bali tidak terlalu signifikan, yang terjadi justru adalah arus keluar,’’ pungkas Dewa Indra.  (*/gs)

Loading

Advertisements
dprd bali
Advertisements
hut pemprov dprd badung
Advertisements
iklan
Advertisement
Klik untuk Komentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

NEWS

Gubernur Koster: Lindungi Lahan Pertanian Bali di Tengah Tekanan Investasi

Published

on

By

Gubernur Koster saat membuka seminar perlindungan lahan pertanian Bali di Denpasar.
BUKA SEMINAR: Gubernur Bali Wayan Koster membuka seminar bertajuk “Sinergi Pemerintah Daerah, Kementerian ATR/BPN, Notaris dan PPAT untuk Memberikan Perlindungan terhadap Tanah Pertanian Bali di Tengah Arus Investasi serta Menjaga Pembangunan Bali Berkelanjutan” di Hongkong Garden Restaurant, Denpasar Timur, Minggu (20/9) siang. (Foto: Hms Pemprov Bali)

Denpasar, baliilu.com – Gubernur Bali Wayan Koster menegaskan pentingnya perlindungan lahan pertanian Bali di tengah derasnya arus investasi dan perkembangan pariwisata. Menurutnya, pembangunan Bali harus tetap menjaga keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi, kelestarian alam, keberlanjutan pertanian, serta kesejahteraan masyarakat.

Pernyataan tersebut disampaikan Gubernur Koster saat menjadi Keynote Speaker dalam seminar bertajuk “Sinergi Pemerintah Daerah, Kementerian ATR/BPN, Notaris dan PPAT untuk Memberikan Perlindungan terhadap Tanah Pertanian Bali di Tengah Arus Investasi serta Menjaga Pembangunan Bali Berkelanjutan” di Hongkong Garden Restaurant, Denpasar Timur, Minggu (20/9) siang.

Gubernur Koster memaparkan bahwa Bali pulau kecil dengan tekanan pembangunan besar.  Luas Bali sekitar 5.590 km², kurang dari 0,1 persen luas daratan Indonesia.  Penduduk sekitar 4,4 juta jiwa.  Bali memiliki 57 kecamatan, 636 desa, dan 80 kelurahan. Dengan wilayah yang relatif kecil, Bali menghadapi tekanan pembangunan yang semakin besar, khususnya dari sektor pariwisata dan investasi.

Namun, kata Koster, pariwisata Bali berkontribusi besar bagi Indonesia. Tahun 2025, Bali menerima 7,05 juta wisatawan mancanegara, tertinggi dalam satu dekade terakhir. Angka tersebut tumbuh 11,4 persen dibandingkan 2024. Wisatawan domestik mencapai sekitar 9,3 juta orang. Total kunjungan wisatawan pada 2025 mencapai 16,3 juta orang.  Devisa pariwisata Bali mencapai sekitar Rp 176 triliun.  Nilai tersebut berkontribusi sekitar 55 persen terhadap total devisa pariwisata nasional yang disebut mencapai Rp 319,9 triliun.

Koster menjelaskan indikator makro ekonomi Bali 2025 meningkat. Ia menyampaikan sejumlah indikator pembangunan Bali pada 2025 di antaranya, pertumbuhan ekonomi: 5,82 persen, meningkat dari 5,48 persen pada 2024 dan di atas pertumbuhan nasional 5,11 persen.  PDRB per kapita: Rp 72,66 juta, meningkat dari Rp 67,32 juta pada 2024. Tingkat kemiskinan: 3,42 persen, turun dari 3,80 persen dan disebut sebagai yang terendah secara nasional. Tingkat Pengangguran Terbuka: 1,45 persen, turun dari 1,79 persen dan disebut sebagai yang terendah secara nasional. IPM Bali: 79,37, meningkat dari 78,63 pada 2024. Prevalensi stunting: 8,7 persen, dibandingkan angka nasional 21,5 persen. Koster menegaskan pemerintah kabupaten/kota tetap didorong bekerja lebih keras menangani kasus stunting.

Baca Juga  Ketua TP PKK Bali Ny. Putri Koster: Imbau Masyarakat Bali Patuhi Instruksi Gubernur Bali Nomor 8551 Tahun 2020

Ketimpangan Sarbagia dan Luar Sarbagia

Koster memaparkan bahwa luas wilayah Sarbagia sekitar 889 km² atau 16 persen wilayah Bali.  Wilayah luar Sarbagia mencapai 4.701 km² atau 84 persen.  PAD Sarbagia mencapai Rp 10,9 triliun atau 83 persen.  PAD luar Sarbagia sekitar Rp 2,3 triliun atau 17 persen.  Koster menyebut ketimpangan tersebut menjadi persoalan serius yang harus ditangani. Infrastruktur menjadi salah satu instrumen penting untuk mendorong pemerataan pembangunan. Kemampuan fiskal Bali yang terbatas membuat pembangunan infrastruktur membutuhkan komunikasi dan sinergi yang kuat dengan pemerintah pusat.

Koster juga menyoroti tekanan ekonomi yang dihadapi petani. Ketika investor menawarkan harga tanah yang nilainya setara dengan 10–20 tahun hasil panen, menjual tanah menjadi pilihan yang sangat manusiawi bagi keluarga petani.

Karena itu, menurut Koster, larangan alih fungsi lahan saja tidak cukup. Perlindungan lahan pertanian harus disertai insentif nyata bagi petani, sehingga mempertahankan sawah menjadi pilihan ekonomi yang layak. Jika persoalan tersebut tidak ditata dengan baik, Koster mengingatkan cita-cita mewujudkan kedaulatan pangan Bali akan sulit tercapai.

Gubernur Koster juga menekankan regenerasi petani juga menjadi tantangan. Tenaga kerja pertanian Bali didominasi masyarakat berusia di atas 50 tahun.  Generasi muda semakin sedikit yang tertarik bekerja di sektor pertanian. Lahan pertanian yang dipertahankan hari ini berpotensi tidak tergarap di masa depan apabila tidak ada regenerasi petani. Karena itu, perlindungan lahan harus berjalan beriringan dengan keberlanjutan profesi dan kesejahteraan petani.

Koster menyampaikan Bali telah memiliki Peraturan Daerah Provinsi Bali Nomor 4 Tahun 2026 tentang Pengendalian Alih Fungsi Lahan Produktif dan Larangan Alih Kepemilikan Lahan secara Nominee. Kebijakan tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah menjaga lahan produktif Bali dari tekanan alih fungsi dan praktik kepemilikan secara nominee.

Baca Juga  Update Covid-19 (5/9) di Bali, 10 Pasien Meninggal Dunia, Kasus Positif Bertambah 165 Orang

Koster mengingatkan pembangunan Bali tidak boleh semata-mata berorientasi pada nilai ekonomi jangka pendek. “Jangan karena uang kita mengorbankan Bali,” tegasnya.

Menurutnya, masyarakat dan seluruh pemangku kepentingan harus memiliki idealisme serta tanggung jawab serius untuk menjaga Bali bagi generasi mendatang.

Pada kesempatan itu, Koster menegaskan bahwa pembangunan Bali berlandaskan visi Nangun Sat Kerthi Loka Bali, yaitu menjaga kesucian dan keharmonisan alam Bali beserta isinya demi kehidupan krama Bali yang sejahtera dan bahagia, secara niskala-sakala. Visi tersebut dijabarkan dalam Haluan Pembangunan Bali Masa Depan, 100 Tahun Bali Era Baru 2025–2125, yang ditetapkan melalui Perda Provinsi Bali Nomor 4 Tahun 2023. Nilai pembangunan Bali berangkat dari kearifan lokal Sad Kerthi: Jana Kerthi, Jagat Kerthi, Atma Kerthi,  Segara Kerthi,  Danu Kerthi, Wana Kerthi.

Dengan berpedoman pada visi Nangun Sat Kerthi Loka Bali, Koster menekankan pembangunan harus memuliakan alam melalui penguatan tradisi dan kearifan lokal Bali; Perlindungan ekosistem serta kesucian gunung; Perlindungan sumber air, danau, mata air, sungai, laut, dan kawasan konservasi; Pengelolaan iklim; Pengendalian alih fungsi lahan; Pengembangan pertanian organik; dan Perwujudan kedaulatan pangan.

Pada akhir sambutannya, Koster meminta Notaris dan PPAT tidak hanya melihat diri sebagai pihak yang mengesahkan transaksi. Menurutnya, Notaris dan PPAT merupakan garda terdepan dalam pencegahan praktik nominee, karena praktik tersebut dapat melibatkan berbagai bentuk akta dan perjanjian pertanahan.

Hadir dalam kegiatan tersebut Direktur Penanganan Perkara Pertanahan Kementerian ATR/BPN Joko Subagya, Kepala Kantor Wilayah BPN Provinsi Bali Eko Priyan, Ketua Pengwil Bali Ikatan Notaris Indonesia I Wayan Muntra, dan Anggota Ikatan Notaris Indonesia se-Bali. (gs/bi)

Loading

Advertisements
dprd bali
Advertisements
hut pemprov dprd badung
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca

NEWS

Terima Audiensi WHDI Bali, Ibu Putri Koster Dorong Sinergi Wujudkan SDM Unggul, Berkualitas, dan Berkarakter

Published

on

By

Ibu Putri Koster Terima Audiensi WHDI Bali
TERIMA AUDIENSI: Ketua Tim Pembina Posyandu Provinsi Bali, Ibu Putri Koster, menerima audiensi jajaran Wanita Hindu Dharma Indonesia (WHDI) Bali di Gedung Nari Graha, Denpasar, Senin (21/9/2026). (Foto: Hms Pemprov Bali)

Denpasar, baliilu.com – Ketua Tim Pembina Posyandu Provinsi Bali, Ibu Putri Koster, menerima audiensi jajaran Wanita Hindu Dharma Indonesia (WHDI) Bali di Gedung Nari Graha, Denpasar, Senin (21/9/2026). Pertemuan membahas penguatan sinergi dalam pendidikan karakter, pemahaman nilai-nilai agama Hindu, serta pemberdayaan masyarakat.

Dalam pertemuan tersebut, Ibu Putri Koster menegaskan dukungannya terhadap keberadaan dan program WHDI Bali sebagai organisasi wanita Hindu yang memiliki peran strategis dalam menyebarluaskan pemahaman mengenai nilai-nilai dan ajaran agama Hindu di tengah masyarakat.

“WHDI penting untuk terus tumbuh dan aktif di tengah masyarakat sebagai wadah komunikasi dan informasi mengenai ajaran agama Hindu. Dari sini kita dapat memperkuat pemahaman umat sekaligus membentuk pola pikir, sikap, dan perilaku yang berlandaskan nilai-nilai agama,” ujar Ibu Putri Koster.

Menurutnya, pemahaman agama yang baik juga harus tercermin dalam kehidupan bermasyarakat, termasuk dalam membangun sikap toleransi dan kehidupan yang harmonis di tengah keberagaman. “Pemahaman agama harus mampu menjadi pegangan dalam kehidupan, termasuk bagaimana kita menjaga tata krama, perilaku, serta toleransi dalam hidup berdampingan dengan umat beragama lainnya,” imbuhnya.

Ketua WHDI Bali, Tjokorda Istri Sri Ramaswati, dalam kesempatan tersebut menyampaikan rencana pelaksanaan webinar bertajuk Catur Guru yang menyasar kalangan remaja, khususnya siswa SMP, SMA, dan SMK.

Webinar tersebut dirancang sebagai salah satu upaya menanamkan nilai-nilai Catur Guru kepada generasi muda di tengah perkembangan era digital. Penguatan pendidikan karakter ini juga diharapkan membantu anak-anak dan remaja dalam menghadapi berbagai persoalan sosial, termasuk perundungan (bullying).

“Dengan memberikan pemahaman kepada anak-anak tentang Catur Guru, kita berharap mereka memiliki pegangan dalam berpikir dan berperilaku sehingga tidak keluar dari koridor nilai-nilai agama. Pemahaman yang kuat terhadap Catur Guru diharapkan mampu membentuk karakter individu menjadi lebih baik, kuat, beretika, dan memiliki sopan santun,” ujar Tjokorda Istri Sri Ramaswati.

Baca Juga  Ogoh-Ogoh Nyepi Difestivalkan pada Hari Jadi Ke-62 Provinsi Bali

Ibu Putri Koster juga berharap keberadaan WHDI Bali tidak hanya memberikan manfaat dalam bidang keagamaan, tetapi mengambil peran lebih luas dalam mengedukasi dan mencerdaskan masyarakat melalui pendidikan, pengajaran agama, serta berbagai kegiatan sosial.

Sinergi antara Tim Pembina Posyandu Provinsi Bali dan WHDI Bali diharapkan dapat memberikan manfaat berkelanjutan sekaligus menjadi legacy bagi organisasi dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia Hindu.

“Sinergi ini kita harapkan mampu menjadi legacy bagi organisasi dalam memajukan sumber daya manusia Hindu. Dengan ruang gerak yang berlandaskan ajaran Hindu serta tetap berpijak pada adat, dresta, dan kearifan lokal, kita ingin melahirkan sumber daya manusia yang unggul, berkualitas, dan berkarakter,” pungkas Ibu Putri Koster. (gs/bi)

Loading

Advertisements
dprd bali
Advertisements
hut pemprov dprd badung
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca

NEWS

Bunda Rai Sosialisasikan Posyandu 6 SPM serta Tinjau Persiapan Lomba Telajakan dan PSBS

Published

on

By

Ketua Tim Pembina Posyandu Kabupaten Tabanan Ny. Rai Wahyuni Sanjaya saat membina Posyandu 6 SPM dan meninjau persiapan lomba
PEMBINAAN: Ketua Tim Pembina Posyandu Kabupaten Tabanan, Ny. Rai Wahyuni Sanjaya, saat melaksanakan pembinaan dan sosialisasi Posyandu 6 SPM di Kecamatan Kerambitan sekaligus meninjau persiapan Lomba Telajakan di Desa Tista, Kerambitan, dan Persiapan lomba PSBS di Kecamatan Selemadeg Timur, Tabanan, Senin (21/9/2026). (Foto: Hms Tbn)

Tabanan, baliilu.com – Upaya memperkuat sinergi dan kolaborasi dalam pemberdayaan masyarakat terus dilakukan Pemerintah Kabupaten Tabanan melalui Tim Pembina Posyandu. Hal tersebut kembali ditunjukkan Ketua Tim Pembina Posyandu Kabupaten Tabanan, Ny. Rai Wahyuni Sanjaya, saat melaksanakan pembinaan dan sosialisasi Posyandu 6 SPM di Kecamatan Kerambitan sekaligus meninjau persiapan Lomba Telajakan di Desa Tista, Kerambitan, dan Persiapan lomba PSBS di Kecamatan Selemadeg Timur, Tabanan, Senin (21/9/2026).

Kegiatan yang berlangsung secara roadshow tersebut diawali dengan pembinaan dan sosialisasi Posyandu 6 SPM di Banjar Wani, Kerambitan, kemudian dilanjutkan dengan peninjauan persiapan Lomba Telajakan di Banjar Dauh Pangkung, Desa Tista, Kerambitan dan kunjungan ke SD Negeri 1 Mambang, Selemadeg Timur melihat giat Pengolahan Sampah Berbasis Sumber (PSBS) SD setempat.  Kegiatan turut dihadiri Kepala Perangkat Daerah terkait dan jajaran Tim Pembina Posyandu Kabupaten Tabanan, Perbekel, serta pengurus Posyandu Kecamatan Kerambitan dan Desa Tista.

Setibanya di Banjar Wani, Srikandi Tabanan yang akrab disapa Bunda Rai, disambut hangat oleh kelompok senam lansia. Selanjutnya, Bunda Rai langsung meninjau pelaksanaan 6 SPM sekaligus melihat kinerja para kader dan memberikan sosialisasi terkait tugas serta tanggung jawab masing-masing. Ia memastikan para kader telah memiliki surat keputusan (SK) dan memahami tugas yang diemban, terlebih Posyandu 6 SPM di Banjar Wani telah mulai diterapkan sejak Januari 2026.

Dalam kesempatan tersebut, Bunda Rai menekankan pentingnya Posyandu sebagai wadah awal bagi masyarakat dalam menyampaikan berbagai permasalahan, tidak hanya di bidang kesehatan, tetapi juga lima bidang pelayanan dasar lainnya. “Saya selaku Tim Pembina Posyandu Kabupaten memberikan sosialisasi dan mengharapkan semua di sini sudah menerapkan 6 SPM. Kebetulan di Banjar Wani ini sudah diterapkan mulai Januari 2026,” ujarnya. Ia juga mendorong agar masyarakat dapat terlebih dahulu menyampaikan kebutuhan maupun permasalahan kepada kader Posyandu untuk kemudian dikoordinasikan dengan perbekel dan OPD terkait apabila diperlukan.

Baca Juga  Hadiri Rapat Koordinasi Tingkat Menteri di Nusa Dua, Gubernur Koster Sampaikan Harapan Pemulihan Ekonomi Bali

Menurut Bunda Rai, keberhasilan program tersebut membutuhkan sosialisasi yang dilakukan secara berkelanjutan serta keterlibatan aktif para kader dalam mendata dan membantu mencarikan solusi atas persoalan masyarakat.

“Sosialisasi harus dilakukan kepada masyarakat secara terus-menerus. Nanti kader bisa memberikan edukasi dan mencatat permasalahan agar bisa mencarikan jalan keluar yang tepat. Kita harus selalu bersinergi, berkoordinasi dan bekerja sama agar program bisa berjalan dengan lancar,” ungkapnya.

Roadshow kemudian dilanjutkan dengan peninjauan Telajakan di Desa Tista. Bunda Rai bersama jajaran melihat langsung berbagai tanaman yang ditata untuk memperindah lingkungan, seperti bunga kamboja, pohon bunga bougenville, pohon bunga sandat, kacang tanah dan tanaman lainnya. Peninjauan juga menyasar ke rumah warga sebagai rumah percontohan, termasuk pemanfaatan lahan melalui tanaman obat keluarga (TOGA), warung hidup dan lumbung hidup, serta sumber pangan tambahan berupa sayuran, buah-buahan, serta pemanfaatan lahan untuk ternak ayam. Bunda Rai pun memberikan apresiasi atas upaya warga memanfaatkan pekarangan agar memberikan manfaat bagi keluarga.

Kunjungan berikutnya menyasar SD Negeri 1 Mambang yang merupakan juara pada tahun sebelumnya dalam pengelolaan sampah melalui program PSBS (Pengelolaan Sampah Berbasis Sumber). Bunda Rai meninjau langsung berbagai inovasi yang telah dilakukan sekolah, di antaranya pemanfaatan ecobrick sebagai pagar taman, ruang khusus pembuatan maggot, serta sejumlah teba modern yang telah digunakan dan bahkan sudah memasuki tahap panen. Selain itu, sekolah juga memiliki berbagai poster edukasi terkait sampah, tanaman sayuran dan buah, serta kolam lele berbahan terpal. Melihat berbagai upaya tersebut, Bunda Rai mengapresiasi kreativitas dan inovasi yang telah dilakukan.

“Ini merupakan inovasi yang luar biasa dan harus terus dikembangkan,” ujarnya.

Bunda Rai juga mendorong agar berbagai hasil karya dan inovasi yang telah dibuat dapat ditata serta ditempatkan dengan baik, sehingga tetap memberikan nilai edukasi sekaligus menjaga keindahan lingkungan sekolah.

Baca Juga  Update Covid-19 (5/9) di Bali, 10 Pasien Meninggal Dunia, Kasus Positif Bertambah 165 Orang

“Karya-karya anak-anak ini sangat luar biasa, tetapi harus ditata dengan baik agar lingkungan sekolah tetap terlihat rapi, bersih dan indah,” ungkapnya.

Menurutnya, pengelolaan lingkungan membutuhkan kreativitas sekaligus kolaborasi seluruh pihak agar berbagai program dapat berjalan secara berkelanjutan. Kegiatan ini sekaligus menjadi bagian dari upaya Tim Pembina Posyandu Kabupaten Tabanan dalam memperkuat sinergi lintas sektor melalui pemberdayaan masyarakat, kepedulian lingkungan dan pelayanan dasar. (gs/bi)

Loading

Advertisements
dprd bali
Advertisements
hut pemprov dprd badung
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca