Connect with us
https://www.baliviralnews.com/wp-content/uploads/2022/06/stikom-juni-25-2022.jpg

NEWS

Terkait Penolakan Lokasi Karantina, Dewa Indra: ABK Adalah Anak-anak Kita

BALIILU Tayang

:

de
KASATGAS COVID-19 DEWA MADE INDRA

Denpasar, baliilu.com – Menanggapi spanduk yang dibentangkan warga masyarakat yang bernuansa menolak rencana pembuatan karantina di sebuah lokasi, Ketua Satgas Penanggulangan Corona Virus Disease (Covid-19) Provinsi Bali Dewa Made Indra sangat menyesalkan sikap masyarakat atau sebagian masyarakat yang melakukan penolakan kepada anak-anak kita sendiri. ‘’Tetapi saya tidak menyalahkan masyarakat, saya mengambil posisi bahwa masyarakat belum mendapatkan pemahaman yang baik, yang utuh tentang Covid-19,” terang Dewa Made Indra menjawab pertanyaan awak media saat konferensi pers, Kamis petang (2/4-2020) di Kantor Kominfos Provinsi Bali, Renon Denpasar.

Dewa Indra mengatakan kepada seluruh masyarakat Bali bahwa para pekerja kapal pesiar (ABK) ini adalah anak-anak kita. Semuanya adalah anak-anak kita. Mereka adalah orang-orang yang mencari pekerjaan di luar negeri karena kita tidak menyediakan lapangan kerja yang cukup kepada mereka. ‘’Seandainya saja Pemerintah Provinsi Bali, Pemerintah Kabupaten/Kota bisa menyediakan lapangan kerja yang cukup dengan penghasilan yang cukup, saya yakin anak-anak kita tidak akan pergi sampai bekerja jauh meninggalkan orang tuanya, meninggalkan adiknya bahkan meninggalkan nenek dan kakeknya,’’ ujar Dewa Indra.

Ditegaskan para ABK adalah orang-orang yang bekerja tangguh. Pemerintah menyebut sebagai pahlawan devisa. Mereka juga adalah penopang ekonomi keluarga, mereka adalah orang yang juga mengambil inisiatif untuk menyelamatkan ekonomi masyarakat Bali dengan bekerja di luar. Selama ini mereka dibanggakan oleh keluarganya, oleh para orangtuanya bahkan oleh orang kampung karena mereka bisa mendapatkan pekerjaan di luar negeri.

Tetapi hari ini, ungkap Dewa Indra, ketika ada wabah Covid-19, ada sebagian warga masyarakat yang kurang menerima dengan baik anak-anak kita itu. ‘’Saya ingin mengatakan mereka adalah pahlawan devisa, mereka adalah penopang ekonomi keluarga, mereka adalah orang-orang yang berinisiatif sendiri mencari pekerjaan demi banyak orang di Bali. Ketika peristiwa ini terjadi seharusnya kita dengan penuh kesadaran nurani menyambut uluran tangan anak-anak kita yang pulang. Mereka pulang karena situasi yang tidak memungkinkan mereka untuk bekerja. Mereka itu adalah anak kita yang kehilangan pekerjaannya, kalau mereka kehilangan pekerjaannya maka bisa dipastikan pendapatan mereka untuk menopang keluarga juga hilang,’’ ujar Dewa Indra.

Baca Juga  Anggota DPR RI Kariyasa Adnyana: Anggaran Monumental mesti Direvisi untuk Gerakkan Ekonomi Rakyat

Ditegaskan kembali,  mereka bukan penyakit, mereka juga bukan pembawa penyakit. Seharusnya masyarakat kita memahami bahwa mereka itu bukan orang lain. ‘’Sesungguhnya saya sangat menyesalkan sikap masyarakat atau sebagian masyarakat yang melakukan penolakan kepada anak-anak kita sendiri.Tetapi saya tidak menyalahkan masyarakat, saya mengambil posisi bahwa masyarakat belum mendapatkan pemahaman yang baik, pemahaman yang utuh tentang Covid-19,’’ ujar Dewa Indra.

Dewa Indra menjelaskan penularan Covid-19 bukan melalui udara tetapi medianya adalah dahak yang keluar dari mulut, yang keluar dari hidung mengenai orang-orang dekat, orang yang berada dalam jarak dekat, orang yang terkena itu tidak memakai masker, tidak rajin mencuci tangan. Tetapi  kalau kita sedang berada dalam jarak yang jauh, kita rajin mencuci tangan, memakai masker, apalagi kalau orang yang sakit itu sudah menggunakan masker maka tidak menyebar kemana-mana.

Sesungguhnya, kata Dewa Indra  sekali lagi mereka bukan penyakit dan pembawa penyakit. Hasil tes yang dilakukan selama ini yang dilaksanakan di Bandara Ngurah Rai maupun tempat karantina negatif,  hanya 1-2 orang yang positif. ‘’Mengapa mereka kita tolak, karena karantina bukan tempat untuk orang-orang yang sakit, melainkan tempat untuk menampung anak-anak sementara. Sambil menunggu yang akan kami lakukan, kami memperlakukan anak-anak itu dengan sebaik-baiknya, baik saat penjemputan di bandara mengantar ke tempat karantina, kami berikan makanan dan hasil tes yang diberikan untuk dibawa pulang supaya mereka tidak ditolak oleh masyarakat. Sekali lagi, mereka bukan siapa-siapa, tapi anak-anak kita sendiri,’’ ungkap Dewa Indra.

Dewa Indra menegaskan karantina bukan tempat orang-orang sakit. Begitu ditemukan positif akan dibawa ke rumah sakit. Karantina itu adalah tempat untuk menampung sementara karena mereka pulang dari luar negeri semuanya sudah membawa health certificate yang menyatakan telah dites kesehatannya dan dinyatakan negatif.  Tetapi karena kita ingin meyakinkan bahwa mereka betul-betul sehat, kita harus menjaga maka kami melakukan tes meskipun dari segi regulasi sebenarnya tidak diatur.

Baca Juga  Peringati Puputan Badung Ke-114 di Puri Agung Gerenceng, Ambara: Amerta Terinspirasi dari Arjuna Wiwaha dan Semangat Puputan

Selain itu, karantina itu sudah tertutup dengan tembok yang dijaga petugas. Jika masyarakat merasa khawatir, takut tentu Satgas sangat memahami, tetapi jangan masuk ke tempat karantina. Bayangkan saja kalau masyarakat di sekitar karantina merasa takut, bagaimana dengan Satgas dengan petugas-petugas yang berada di dalam karantina untuk memberikan pelayanan kepada anak-anak kita, membersihkan tempat tidurnya, memasang sprei, menyiapkan makan, membuang sampahnya, melakukan tes. ‘’Kalau saja itu bisa menyebar dengan udara lebih dulu petugas kami yang kena,  bukan masyarakat yang berada di luar. Jadi kalau takut, khawatir jangan masuk ke tempat karantina, tapi tidak bijak untuk melakukan penolakan karena itu anak kita,’’ imbaunya.

Dewa Indra kemudian membayangkan misalnya ABK yang pulang itu adalah anak dari warga masyarakat yang melakukan penolakan, apa yang dipikirkan. Di Bali selalu diajarkan tentang tat twam asi, kamu adalah saya. ‘’Saya ingin menanyakan di mana itu semua. Jadi mari kita pahami dengan benar siapa anak buah kapal atau pegawai kapal pesiar ini. Mereka bukan orang siapa-siapa, mereka anak-anak, tidak baik kalau kita menolak mereka. Mereka juga bukan membawa penyakit. Virusnya tidak akan menyebar ke udara lalu menjangkiti orang-orang yang jauh. Kalau begitu cara kerja virus tentu saja petugas yang terkena lebih dulu, tentu TNI Polri yang menjaga pintunya dulu kena,’’ ujar Dewa Indra.

Bahwa ada sebagian masyarakat yang kemudian melakukan penolakan dengan memasang spanduk, bagi Dewa Indra karena pemahaman yang kurang lengkap terhadap Covid-19. ‘’Mudah-mudahan penjelasan saya ini melengkapi pemahaman warga masyarakat kita yang melakukan penolakan dengan tambahan informasi yang saya sampaikan. Mari kita lapang dada untuk menerima. Ini adalah musibah, tidak baik kalau kita ingin selamat sendiri. Karantina bagian dari upaya untuk menyelamatkan seluruh masyarakat Bali,’’ harapnya.

Baca Juga  Ny. Putri Koster: Pasar Gotong-Royong Beri Dampak Positif bagi Petani, IKM dan UMKM

Terkait TKI yang pulang dari Malaysia terdampar di Kepulauan Riau, Pemerintah Provinsi Bali sudah melakukan komunikasi dengan pemerintah pusat dalam hal ini Kementerian Luar Negeri, Kementerian Sosial dan juga Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau. Sekarang ada dua kelompok arus besar yang pulang. Pertama adalah ABK (anak buah kapal) pada umumnya bekerja di kapal pesiar, kemudian yang kedua adalah TKI (tenaga kerja Indonesia).

Kedua kelompok ini mempunyai karakteristik yang berbeda. ABK bekerja dalam satu perusahaan yang besar kapal pesiar. Mereka yang bekerja di sebuah perusahaan besar mereka sudah sangat ketat menerapkan protokol Covid-19. Para ABK yang pulang ini sudah ditangani oleh manajemen kapal pesiar itu dengan sebaik-baiknya. Mereka dikarantina 14 hari di kapal pesiar. Setelah itu dilakukan tes untuk memastikan mereka negatif. Setelah dinyatakan negatif mereka diberikan sertifikat kesehatan oleh otoritas yang berwenang di negara itu kemudian dikoordinasikan dengan kantor Perwakilan Republik Indonesia. Berarti mereka ini sebenarnya adalah kelompok yang aman karena mereka bekerja di perusahaan yang mengikuti protokol kesehatan dengan baik.

TKI  pada umumnya tidak punya dokumen kesehatan. Mereka ini bekerja sebagai pembantu rumah tangga, asisten rumah tangga, ada yang bekerja di perkebunan kelapa sawit, dll. Kelompok TKI ini tidak bekerja dalam perusahaan besar sehingga mereka ini tidak ada yang mengurus karantinanya, pemeriksaan kesehatannya, memberikan sertifikatnya. Inilah yang sekarang pulang.  ‘’Kami tentu sudah mengantisipasinya. Namun TKI asal Bali relatif aman karena sedikit sekali,’’ ujarnya.

Dari dua kelompok ini, Bali justru menghadapi kepulangan besar untuk ABK, tapi untuk TKI belum ada informasi meskipun kami tetap memonitor. Tapi bagi daerah-daerah lain Sumatera, Jawa dan NTB, arus pulang yang besar itu adalah TKI.

Terkait Presiden memutuskan mengizinkan mudik lebaran, Dewa Indra menandaskan kebijakan Pemerintah Provinsi Bali mengikuti arah kebijakan nasional. Kalau memang kebijakannya sekarang mengijinkan mudik maka tentu Pemerintah Provinsi Bali akan mengantisipasinya dengan baik. Salah satu yang diperkuat pasti akan melakukan rapid test.

Tetapi bagi Bali arus masuk tampaknya tidak terlalu besar, yang terjadi sebaliknya arus keluar. Bagi daerah lain arus masuknya bisa menjadi besar. ‘’Karena itu kebijakan pemerintah pusat mengijinkan mudik dampaknya bagi Bali tidak terlalu signifikan, yang terjadi justru adalah arus keluar,’’ pungkas Dewa Indra.  (*/gs)

Loading

Advertisements
dprd bali
Advertisements
hut pemprov dprd badung
Advertisements
iklan
Advertisement
Klik untuk Komentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

NEWS

Hamka Baco Kady: Pengelolaan Pelabuhan di Bali Perlu Libatkan Pemerintah Daerah

Published

on

By

Hamka Baco Kady Usai Kunjungan Kerja Komisi V DPR RI di Bali
Anggota Komisi V DPR RI Hamka Baco Kady usai mengikuti kunjungan kerja Komisi V DPR RI ke Bali, Kamis (5/11/2026). (Foto: dpr.go.id)

Denpasar, Bali, baliilu.com – Anggota Komisi V DPR RI Hamka Baco Kady meminta pemerintah pusat melimpahkan kewenangan pengelolaan pelabuhan kepada Pemerintah Provinsi Bali. Menurutnya, pelimpahan kewenangan tersebut penting agar keberadaan infrastruktur pelabuhan yang telah dibangun pemerintah pusat dapat memberikan manfaat optimal bagi daerah, khususnya dalam meningkatkan pendapatan asli daerah (PAD).

Hamka mengungkapkan, pembangunan pelabuhan tersebut telah mendapat bantuan dari Kementerian Perhubungan sejak periode kedua dirinya menjadi anggota DPR RI pada 2019–2024.

“Setahu saya sejak periode kedua saya, 2019–2024, pembangunan pelabuhan ini sudah dibantu oleh Kementerian Perhubungan,” ujarnya kepada Parlementaria usai mengikuti kunjungan kerja Komisi V DPR RI ke Bali, Kamis (5/11/2026).

Namun, ia menyayangkan masih adanya kendala dalam pengelolaan pelabuhan karena pemerintah pusat belum menyerahkan kewenangannya kepada Pemerintah Provinsi Bali.

“Memang terjadi kendala sekarang, seperti yang dikemukakan dan ditunjukkan kepada kami tadi, bahwa pemerintah pusat belum menyerahkan pengelolaannya kepada Pemerintah Provinsi Bali,” jelasnya.

Oleh karena itu, Politisi Fraksi Golkar tersebut meminta agar pemerintah pusat memberikan kewenangan kepada pemerintah daerah untuk mengelola pelabuhan tersebut. Ia juga memastikan persoalan ini akan menjadi perhatian Komisi V DPR RI untuk disampaikan kepada Kementerian Perhubungan.

“Untuk meningkatkan pendapatan daerah, kami mohon agar diberikan kewenangan atau pelimpahan kewenangan dalam pelaksanaan pengelolaan pelabuhan tersebut kepada pemerintah daerah. Ini nanti juga akan kami bicarakan dan sampaikan kepada Kementerian Perhubungan untuk ditindaklanjuti sesuai ketentuan yang berlaku,” tegasnya.

Lebih lanjut, legislator Dapil Sulawesi Selatan I tersebut menekankan bahwa proses penyerahan aset maupun pengelolaan pelabuhan harus tetap mengikuti ketentuan peraturan perundang-undangan. Ia berharap fasilitas yang telah dibangun menggunakan dukungan pemerintah pusat tersebut dapat menjadi sumber peningkatan ekonomi daerah.

Baca Juga  Beri Rasa Aman, Pasar Rakyat di Denpasar Mulai Pasang Pembatas Plastik

“Penyerahan aset dan seluruh pengelolaannya tentu ada aturan-aturannya. Silakan dilakukan sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Mengapa demikian? Agar pendapatan asli daerah (PAD) juga dapat ditingkatkan melalui keberadaan sarana dan prasarana pelabuhan yang sudah dibangun oleh pemerintah pusat. Itu harapan kami,” pungkas Hamka. (gs/bi)

Loading

Advertisements
dprd bali
Advertisements
hut pemprov dprd badung
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca

NEWS

Puluhan Petani Gagal Panen di Jembrana Diganjar Bantuan Penguatan Ekonomi

Published

on

By

Penyerahan Bantuan untuk Petani Gagal Panen Jembrana
SERAHKAN BANTUAN: Wakil Gubernur Bali, I Nyoman Giri Prasta bersama Bupati I Made Kembang Hartawan, didampingi Kalaksa (BPBD) Provinsi Bali I Gede Agung Teja Bhusana Yadnya menyerahkan bantuan penguatan ekonomi setelah mengalami gagal panen akibat kekeringan di Balai Subak Pangkung Buluh, Desa Kaliakah, Kecamatan Negara, Kamis (5/11/2026). (Foto: Hms Jembrana)

Jembrana, baliilu.com – Sebanyak 27 petani di Kabupaten Jembrana diganjar bantuan penguatan ekonomi setelah mengalami gagal panen akibat kekeringan. Bantuan yang berasal dari Pemprov Bali tersebut, disalurkan secara langsung oleh Wakil Gubernur Bali, I Nyoman Giri Prasta bersama Bupati I Made Kembang Hartawan, didampingi Kalaksa (BPBD) Provinsi Bali I Gede Agung Teja Bhusana Yadnya di Balai Subak Pangkung Buluh, Desa Kaliakah, Kecamatan Negara, Kamis (5/11/2026).

Kalaksa BPBD Bali I Gede Agung Teja Bhusana Yadnya menyebut, 27 penerima bantuan merupakan petani yang mengalami gagal panen akibat kekeringan. Mereka berasal dari Desa Kaliakah, Manistutu, dan Banyubiru.

Teka Bhusana juga menambahkan bantuan yang diberikan juga bervariasi nilainya, tergantung luasan lahan. “Bantuan untuk petani tersebut merupakan tahap pertama. Sementara itu, usulan bantuan tahap kedua dari Kabupaten Jembrana masih dalam proses verifikasi,” ucapnya.

Wagub Nyoman Giri Prasta mengapresiasi ketangguhan para petani yang terus berjuang di tengah terjangan musim kemarau demi menjaga produktivitas dan ketersediaan pangan masyarakat. Kendati berbagai upaya telah dikerahkan untuk menyelamatkan tanaman, sebagian petani tetap harus menelan pil pahit gagal panen akibat kekeringan ekstrem. Situasi ini lantas memantik respons cepat dari pemerintah untuk meringankan beban para korban.

“Sebagian kecil ternyata tetap mengalami gagal panen, maka pemerintah tetap turun tangan,” ujar mantan Bupati Badung dua periode tersebut.

Giri Prasta membeberkan, pada tahap pertama ini uluran tangan pemerintah telah disalurkan kepada 27 orang petani. Sementara itu, usulan calon penerima untuk tahap kedua dari wilayah Jembrana saat ini masih berproses pada tahap verifikasi data.

Ia menegaskan, jajaran pimpinan daerah berkomitmen penuh untuk tidak membiarkan para petani berjuang sendirian menanggung kerugian.

Baca Juga  Peringati Puputan Badung Ke-114 di Puri Agung Gerenceng, Ambara: Amerta Terinspirasi dari Arjuna Wiwaha dan Semangat Puputan

“Bapak Gubernur tidak ingin para petani ini gagal begitu saja, harus dibantu mengatasi kerugiannya. Oleh karena itu BPBD telah memproses bantuannya,” ungkapnya.

Sementara itu, Bupati Kembang menyampaikan apresiasi dan ucapan terima kasih yang mendalam atas perhatian sigap yang diberikan oleh jajaran Pemprov Bali kepada petani yang mengalami gagal panen akibat kekeringan ekstrim di Jembrana. Menurutnya, sinergi antara pemerintah kabupaten dan provinsi sangat krusial dalam mempercepat pemulihan ekonomi masyarakat pedesaan.

“Kami atas nama masyarakat dan para petani di Jembrana mengucapkan terima kasih banyak kepada Bapak Gubernur dan Bapak Wakil Gubernur Bali. Kehadiran dan kepedulian pemerintah provinsi ini tentu menjadi penopang semangat bagi petani untuk bangkit kembo,” ujarnya.

Bupati Kembang menambahkan, pihaknya terus menggerakkan jajaran di tingkat dinas pertanian, kecamatan, hingga pemerintah desa untuk mengawal proses pendataan dan verifikasi agar penyaluran bantuan tahap berikutnya dapat berjalan tepat sasaran tanpa kendala berarti.

“Kami di daerah siap mengawal penuh proses ini. Untuk usulan tahap kedua yang saat ini sedang berproses, kami pastikan data yang dikirimkan valid sehingga para petani yang belum tersentuh di tahap awal bisa segera mendapatkan haknya,” pungkasnya. (gs/bi)

Loading

Advertisements
dprd bali
Advertisements
hut pemprov dprd badung
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca

NEWS

Inovasi Genteng Biomassa Ramah Lingkungan dan Aman Gempa

BRIN Bersama BRIDA Buleleng Jajaki Pengembangan dengan Pelaku Usaha Lokal

Loading

Published

on

By

Kunjungan BRIN dan BRIDA ke Pelaku Usaha Buleleng
TINJAU PELAKU USAHA: BRIN Bersama BRIDA Buleleng saat meninjau pelaku usaha yang memanfaatkan limbah untuk diolah menjadi bahan baku produk bernilai ekonomi, termasuk material konstruksi. (Foto: Hms Buleleng)

Buleleng, baliilu.com – Pemanfaatan sumber daya alam lokal menjadi salah satu peluang strategis dalam mendorong lahirnya inovasi material ramah lingkungan sekaligus meningkatkan nilai tambah hasil perkebunan. Salah satu potensi yang dapat dikembangkan adalah sabut kelapa yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal, padahal memiliki peluang untuk diolah menjadi bahan baku produk bernilai ekonomi, termasuk material konstruksi.

Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Kabupaten Buleleng menerima kunjungan kerja dan diskusi teknis dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Selasa, 3 November 2026, bertempat di Ruang Rapat Kepala BRIDA Kabupaten Buleleng. Kegiatan mengangkat tema “Potensi Pemanfaatan Serat Alam sebagai Bahan Baku Genteng Biomassa Ramah Lingkungan”.

Kunjungan tersebut dihadiri tim BRIN, yakni Dr. Jajang Sutiawan, S.Hut., M.Si., Yeyen Nurhamiyah, S.Si., Ph.D., dan Mulya Supianto, S.Pd., M.Sc., Ph.D. Rombongan diterima langsung oleh Kepala BRIDA Kabupaten Buleleng, Ketut Suwarmawan, S.STP., M.M., didampingi Putu Angga Kristyawan, M.Ing., I Made Ardaka, M.Si., dan Ferdi Kurniawan.

Dalam pemaparannya, tim BRIN memperkenalkan teknologi HERBAL-ROOF (Genteng Biomassa Indonesia), yaitu inovasi material atap berbasis biomassa yang dikembangkan melalui pemanfaatan serat alam sebagai bahan komposit. Teknologi ini membuka peluang pemanfaatan berbagai sumber biomassa, seperti sabut kelapa, bambu, tandan kosong kelapa sawit, dan bahan alam lainnya sebagai alternatif material konstruksi yang lebih ramah lingkungan.

Berdasarkan materi yang dipaparkan, teknologi genteng biomassa BRIN telah mencapai tahap prototipe skala penuh, memenuhi standar SNI, dan siap memasuki tahap pilot manufacturing. Inovasi ini juga memiliki sejumlah keunggulan, antara lain bobot material yang lebih ringan, kemampuan meredam panas, efisiensi penggunaan material, serta potensi mengurangi beban struktur atap sehingga dapat mendukung aspek keselamatan bangunan, khususnya di wilayah rawan gempa.

Baca Juga  Peringati Puputan Badung Ke-114 di Puri Agung Gerenceng, Ambara: Amerta Terinspirasi dari Arjuna Wiwaha dan Semangat Puputan

Diskusi kemudian diarahkan pada potensi ketersediaan sabut kelapa di Kabupaten Buleleng, karakteristik bahan baku, proses pengolahan, formulasi material, hingga kebutuhan pengujian teknis. Beberapa aspek yang menjadi perhatian meliputi kekuatan mekanis, penyerapan air, ketahanan terhadap cuaca dan api, stabilitas dimensi, serta kelayakan ekonomi dan dampak lingkungan dari produk yang dikembangkan.

Kepala BRIDA Kabupaten Buleleng, Ketut Suwarmawan, menekankan pentingnya hilirisasi inovasi material hijau dengan memanfaatkan potensi unggulan daerah. Menurutnya, Buleleng memiliki peluang besar untuk mengembangkan komoditas perkebunan dan hasil samping pertanian menjadi produk bernilai tambah melalui kolaborasi antara pemerintah daerah, lembaga riset, perguruan tinggi, dan pelaku usaha.

Ia juga mendorong agar potensi sabut kelapa dan bambu dapat dikembangkan menjadi material komposit serat alam yang memiliki nilai ekonomi. Pemanfaatan limbah perkebunan tersebut diharapkan tidak hanya mengurangi persoalan limbah, tetapi juga membuka peluang usaha baru, memperkuat ekonomi sirkular, serta mendukung ketahanan bangunan dan perumahan daerah.

BRIDA Buleleng turut mendorong penjajakan pemanfaatan hasil riset Pusat Riset Biomassa dan Bioproduk BRIN agar teknologi genteng biomassa dapat dikembangkan dan direplikasi secara bertahap melalui keterlibatan pelaku usaha lokal. Dengan demikian, hasil riset tidak berhenti pada tahap pengembangan teknologi, tetapi dapat berlanjut menjadi produk yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

Sebagai bagian dari kegiatan, rombongan juga melaksanakan kunjungan lapangan ke Rumah Plastik Mandiri (RPM), sebuah perusahaan sosial, bank sampah induk, sekaligus pusat daur ulang sampah plastik inovatif di Kabupaten Buleleng. Berdiri sejak 2016, RPM yang didirikan oleh Putu Eka Darmawan berfokus pada pengelolaan sampah secara mandiri, edukasi daur ulang, serta pengembangan teknologi pengolahan limbah plastik lokal.

Kunjungan dilanjutkan ke PT Balisynwood, merek UMKM inovatif asal Buleleng yang mengembangkan produk kayu sintetik ramah lingkungan berbahan dasar limbah pertanian, khususnya jerami dan sekam padi. Dalam kesempatan tersebut, rombongan melihat langsung potensi pengembangan material alternatif berbasis limbah pertanian yang dikelola oleh Gede Wikrama Putra Setya Adiyana selaku Direktur Operasional.

Baca Juga  Update Covid-19 Sabtu (2/5), Total Positif 237 Orang, Dewa Indra: Tanggap Darurat Diperpanjang Sampai 30 Mei

Kunjungan ke kedua pelaku usaha tersebut menjadi bagian penting dalam melihat secara langsung praktik pengolahan limbah dan pengembangan material alternatif di Buleleng. Hal ini sekaligus memperlihatkan bahwa potensi inovasi daerah tidak hanya bertumpu pada sumber daya alam, tetapi juga pada kreativitas, teknologi, dan kemampuan pelaku usaha dalam mengolah bahan yang sebelumnya kurang dimanfaatkan menjadi produk bernilai ekonomi.

Melalui pertemuan dan kunjungan lapangan ini, terbangun komunikasi awal antara BRIN dan BRIDA Kabupaten Buleleng untuk menjajaki peluang kolaborasi riset, karakterisasi bahan baku, pengembangan prototipe, pemanfaatan fasilitas pengujian, hingga peluang hilirisasi produk. Ke depan, penjajakan ini diharapkan dapat ditindaklanjuti melalui identifikasi sumber bahan baku, penyusunan formulasi material, serta pengujian kelayakan produk bersama calon mitra.

Sinergi tersebut diharapkan menjadi langkah nyata dalam memperkuat ekosistem riset dan inovasi daerah. Dengan mengoptimalkan potensi sabut kelapa, bambu, serta limbah pertanian dan perkebunan lainnya, Buleleng berpeluang mengembangkan industri material ramah lingkungan yang berdaya saing, meningkatkan nilai tambah sumber daya lokal, dan memberikan manfaat ekonomi serta lingkungan bagi masyarakat. (gs/bi)

Loading

Advertisements
dprd bali
Advertisements
hut pemprov dprd badung
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca