Connect with us
https://www.baliviralnews.com/wp-content/uploads/2022/06/stikom-juni-25-2022.jpg

BUDAYA

Seminar Kebijakan Publik dalam Kajian Budaya

Wagub Cok Ace: Pemegang Kebijakan Menelaah Seluruh Permasalahan di Bali Gunakan Pendekatan Teori Kajian Budaya

Loading

BALIILU Tayang

:

cok ace
Wagub Cok Ace saat menggoreskan tanda tangan di atas kanvas pada acara Seminar Kajian Budaya Unud. (Foto: Ist)

Denpasar, baliilu.com – Wakil Gubernur Bali Prof. Tjok Oka Artha Ardana Sukawati didaulat sebagai salah satu narasumber pada acara Ulang Tahun Program Studi Doktor Ilmu Kajian Budaya Unud ke-21 tahun yang dirangkaikan dengan Seminar dan Reuni, bertempat di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Denpasar pada Senin, Soma Kliwon Krulut (18/7).

Dalam seminar yang mengangkat topik ‘’Kebijakan Publik dalam Kajian Budaya’’, Wagub yang biasa disapa Cok Ace mengatakan bahwa sebagai pemegang kebijakan, Gubernur dan Wakil Gubernur Bali menelaah seluruh permasalahan di Bali menggunakan pendekatan teori kajian budaya, karena di Bali tidak bisa dilepaskan dari Adat dan Budaya yang sangat melekat dalam kehidupan sehari-hari.

Untuk itu, Wagub Cok Ace menyatakan bahwa dirinya bekerja sama sangat baik dengan Bapak Gubernur Wayan Koster, dimana Bapak Gubernur memiliki ide dan konsep dalam pembangunan Bali yang dituangkan dalam buku Ekonomi Kerthi Bali, dan Wagub Cok Ace menuangkannya dalam buku Padma Bhuwana.

Prof. Tjok Oka Sukawati penulis buku “Padma Bhuwana Bali” yang juga menjabat Wakil Gubernur Bali memaparkan bahwa Bali yang ditopang dengan kekuatan pariwisata dan taksu alamnya, menjadikan Bali memiliki keistimewaan tersendiri jika dibandingkan dengan wilayah lain.

cok ace
Wagub Cok Ace dan narasumber lainnya menerima cinderamata kartun diri. (Foto: Ist)

Semesta tanpa kita sadari sudah membentuk Bali sedemikian rupa dengan tata titi dan asta kosala-kosali-nya. “Pariwisata Bali yang datang dan masuk dari pintu selatan (Badung), dimana secara niskala adalah letaknya Dewa Brahma (dapur), kita posisikan bahwa pariwisata yang berkembang di Bali selatan sebagai penopang / penghasil rupiah yang menyerap devisa untuk pembangunan Bali secara keseluruhan. Jadi jangan semua wilayah di Bali kita kembangkan dengan konsep pariwisata yang sama. Tetapi apabila kita sesuaikan dengan asta dewata-nya, maka di wilayah timur juga bisa kita kembangkan menjadi pariwisata spiritual (spiritual tourism) dan spiritual religius, karena timur adalah tempat berstananya Dewa Iswara,” terang Wagub Cok Ace.

Baca Juga  Bali Dapat Hibah Vaksin Rabies 200 Ribu, Wagub Cok Ace Harap Dimanfaatkan Pemilik Anjing

Mengacu pada lontar Padmabhuwana yang menyatakan bahwa Mpu Kuturan, sekitar abad ke-11 yang menyebut Bali sebagai Padmabhuwana. Danghyang Nirartha pada abad ke-15 juga menyatakan hal yang sama. Artinya, Bali telah digambarkan sebagai satu kesatuan ruang yang dijaga oleh kemahakuasaan Dewata Nawasanga dengan atribut, karakter, dan fungsi masing-masing. Dalam ruang inilah, seluruh aktivitas masyarakat Bali berlangsung untuk mewujudkan tujuan hidupnya, Moksartham Jagadhita. Artinya, apabila masyarakat Bali meyakini bahwa seluruh tindakannya dipayungi oleh kekuatan para dewa, maka sudah sepatutnya hidupnya sejahtera. Namun pada kenyataannya, kesejahteraan dan kebahagiaan hidup masyarakat Bali masih belum sepenuhnya bisa diwujudkan. “Konsep Padma Bhuwana Bali ternyata sudah ada sejak zaman dahulu dan semesta tanpa sengaja sudah mempolakan letak wilayah berdasarkan karakter demografinya,” ungkap Wagub Cok Ace.

Refleksivitas terhadap keterpurukan pariwisata Bali saat pandemi Covid-19, yang berimplikasi luas terhadap kondisi perekonomian masyarakat Bali, termasuk meningkatnya angka kemiskinan, semakin memperkuat keyakinan bahwa ada banyak aspek yang masih harus diperbaiki dalam pembangunan Bali. Kembali lagi, harmoni antara wadah dan isi sebagai sumber kebahagiaan hidup itulah yang belum terwujud dalam pembangunan Bali saat ini.

Kewajiban manusia untuk membina hubungan yang integral, harmonis, dan berlanjut dengan alam, menegaskan pentingnya menyelaraskan wadah dengan isinya. Alam ini ibarat wadah, sedangkan kehidupan manusia dan semua makhluk merupakan isinya.

Walaupun alam ini terlihat pasif sehingga manusia sering kali memperlakukan alam sekehendak hatinya – tetapi sesungguhnya alam merupakan kekuatan penggerak aktif yang mahabesar. Ibarat gelas berisi air, manusia tidak akan mendapatkan manfaat apa pun dari air tersebut ketika gelasnya pecah. Demikian pula dengan cara kerja alam ini, tidak ada satu pun kebahagiaan dapat diperoleh manusia manakala ia gagal membina hubungan integral, harmonis, dan berlanjut dengan alam-lingkungannya.

Baca Juga  TBM Janar Duta Bersama BKFK Gelar Donor Darah JARGON TBM Janar Duta 2023

Integral bahwa alam semesta (bhuwana agung) dan manusia (bhuwana alit) adalah satu kesatuan tidak terpisahkan. Secara esensial, alam dan manusia lahir dari sumber Hyang Esa, begitu pula secara substansial bahwa alam dan diri manusia dibangun oleh unsur- unsur yang sama, yaitu Panca Mahabhuta. Harmonis bahwa keselarasan serta keseimbangan antara bhuwana agung dan bhuwana alit merupakan penyebab utama kebahagiaan. Sementara itu, berkelanjutan bahwa keterikatan manusia dengan alam berlangsung sepanjang garis eksistensinya.

Pandemi Covid-19 yang melanda dunia memporak-porandakan perekonomian Bali yang selama ini menopang kehidupan masyarakat Bali. Jaman dulu saat pariwisata baik-baik saja, kita sempat berpikiran bahwa Bali hancur karena banyaknya budaya asing yang diadopsi di sini. Namun saat pandemi Covid-19 melanda, Bali juga hancur karena pariwisata yang tidak aktif dan mengakibatkan perekonomian mati suri. Kondisi ini memberikan kesempatan Bali untuk menata diri. Untuk kedepannya, pariwisata berkelanjutan perlu dilakukan sesuai dengan penataan berdasarkan karakteristik wilayahnya. Bukan semata-mata meng-’copy paste’ pengembangan pariwisata yang sudah ada di Bali Selatan. Semisal wilayah Bali Timur yang cocok dengan Ista Dewata-nya adalah pengembangan spiritual tourism atau bersifat religi/ keagamaan.

Untuk wilayah Bali Barat yang dikuasai oleh kemahakuasaan Dewa Baruna. Secara etimologis letak wilayah barat sangat sesuai untuk mengembangkan perikanan. Sementara wilayah Bali Utara yang dikuasai oleh kemahakuasaan Dewa Wisnu sebagai lambang dari kemakmuran/ kesejahteraan dan sangat sesuai untuk mengembangkan hasil pertanian dan kebutuhan hidup seperti padi, sayur-mayur dan berbagai jenis bumbu dapur. Sementara untuk Bali bagian Tengah dikuasai oleh kekuatan Dewa Siwa. Di wilayah yang sarat dengan pengembangan wisata sejarah, warisan budaya dan seni ini memberikan nuansa berbeda bagi wisatawan yang datang. Karena wilayah Bali Tengah yang kita ketahui adalah berkedudukan di Kabupaten Gianyar akan menyiapkan sejumlah daerah wisata yang memiliki daya tarik alam hijau dan natural, menawarkan kerajinan seni hasil dari kreativitas tangan masyarakat lokalnya,” papar Wagub Cok Ace yang karya tulisnya rampung tercetak pada bulan November tahun 2021 lalu.

Baca Juga  Dekatkan Riset dengan Masyarakat, LPPM Unud Gelar Simposium Nasional Riset dan Abdimas 2023

Berdasarkan hal tersebut saat ini Pemprov Bali di bawah kepemimpinan Gubernur Wayan Koster dan Wagub Cok Ace sedang menggarap beberapa pembangunan strategis guna meningkatkan pembangunan ekonomi Bali. Salah satunya penataan parkir di Pura Besakih, Pembangunan Jalan Tol, shortcut, dermaga segitiga emas Sanur-Nusa Penida dan beberapa pembangunan strategis lainnya. Diharapkan pembangunan strategis tersebut dapat memberikan dampak positif pada sektor perekonomian secara merata antar-wilayah di Bali.

Dalam acara yang dihadiri oleh para alumni S3 Doktor Kajian Budaya Unud, juga dihadiri oleh Rektor Unud Prof. Antara, dan narasumber lainnya yaitu Prof. Dr. Dasi Astawa. (gs/bi)

Loading

Advertisements
dprd bali
Advertisements
hut pemprov dprd badung
Advertisements
iklan

BUDAYA

Jaya Negara “Ngayah Nyangging” pada “Metatah” Massal Desa Adat Panjer

Published

on

By

Walikota Denpasar I Gusti Ngurah Jaya Negara ngayah nyangging dalam Upacara Metatah Massal Desa Adat Panjer di Lapangan Wantilan Desa Adat Panjer.
NGAYAH NYANGGING : Walikota Denpasar, I Gusti Ngurah Jaya Negara saat  ngayah nyangging dalam pelaksanaan Upacara Metatah (Mesangih) Massal yang digelar Desa Adat Panjer di Lapangan Wantilan Desa Adat Panjer, Sabtu (29/8). (Foto: Hms Dps)

Denpasar, baliilu.com – Walikota Denpasar, I Gusti Ngurah Jaya Negara, ngayah nyangging dalam pelaksanaan Upacara Metatah (Mesangih) Massal yang digelar Desa Adat Panjer di Lapangan Wantilan Desa Adat Panjer, Sabtu (29/8).

Kegiatan tersebut merupakan bagian dari rangkaian Karya Manusa Yadnya dan Pitra Yadnya Atma Wedana (Nyekah Kurung Nyatur Muka) yang dilaksanakan Desa Adat Panjer.

Turut hadir dalam kegiatan tersebut Wakil Walikota Denpasar, I Kadek Agus Arya Wibawa, anggota DPD RI IB Rai Dharmawijaya Mantra, anggota DPRD Provinsi Bali I Gusti Ngurah Gede Marhaendra Jaya, serta sejumlah tokoh masyarakat Kota Denpasar.

Pada kesempatan tersebut, Walikota Jaya Negara menyampaikan apresiasi kepada Jero Bendesa Adat Panjer beserta seluruh jajaran dan krama yang telah melaksanakan karya secara gotong-royong.

“Atas nama Pemerintah Kota Denpasar, kami mengucapkan terima kasih kepada Jero Bendesa Adat Panjer beserta seluruh jajaran yang telah melaksanakan karya ini. Ini merupakan wujud dharma, termasuk dharmaning negara, melalui kerja sama antara Pemerintah Kota Denpasar dengan Desa Adat Panjer,” ujar Jaya Negara.

Ia mengatakan, pelaksanaan upacara massal ini menjadi salah satu bentuk nyata kolaborasi pemerintah dengan desa adat dalam meringankan beban masyarakat dalam menjalankan swadharma keagamaan.

Pemkot Denpasar turut memberikan dukungan dana sebesar Rp 1 miliar untuk membantu pelaksanaan karya tersebut.

“Walaupun bantuan ini tidak maksimal, kami memberikan dukungan sebesar Rp 1 miliar, sementara kekurangannya dilaksanakan secara gotong-royong. Saya kira tidak ada masyarakat yang mengeluarkan biaya. Mudah-mudahan pola seperti ini bisa kita bangun, tidak hanya di bidang spiritual dan mental, tetapi juga dalam berbagai bidang lainnya, sehingga harmonisasi dapat kita bangun di tengah-tengah masyarakat,” jelasnya.

Baca Juga  Tingkatkan ‘’Sradha Bakti’’ dan Kekeluargaan, Fakultas Ilmu Budaya Gelar ‘’Tirta Yatra’’

Menurutnya, semangat gotong-royong dan kebersamaan tersebut penting untuk terus dikembangkan di tengah dinamika kehidupan masyarakat yang semakin berkembang.

Sementara itu, Bendesa Adat Panjer, AA Ketut Oka Adnyana, mengatakan pelaksanaan karya ini merupakan bagian dari komitmen Desa Adat Panjer untuk membantu dan meringankan beban finansial krama dalam menjalankan kewajiban keagamaan.

Ia menjelaskan, rangkaian karya diawali dengan Pitra Yadnya berupa upacara Warak Kururon, Ngelungah, dan Nglangkir yang telah dilaksanakan pada 24 dan 25 Mei 2026. Rangkaian tersebut kemudian dilanjutkan dengan upacara Metatah atau Mesangih Massal serta persiapan menuju upacara Atma Wedana atau Memukur.

“Upacara Atma Wedana ini bertujuan untuk meningkatkan penyucian roh pitara menuju Sunia Loka. Namun sebelum puncak Memukur dilaksanakan, kami menyelenggarakan upacara Metatah Massal,” ujar Oka Adnyana.

Dalam pelaksanaan Metatah Massal tahun ini, tercatat sebanyak 266 peserta mengikuti prosesi. Sementara prosesi Memukur nantinya akan diikuti sebanyak 212 puspa dan dijadwalkan berlangsung pada 6 September 2026.

Peserta upacara tidak hanya berasal dari krama Desa Adat Panjer, namun juga terbuka bagi masyarakat di luar wilayah Desa Adat Panjer. Jumlah peserta tahun ini disebut menjadi yang terbesar dalam kurun waktu pelaksanaan kegiatan yang digelar setiap empat tahun sekali tersebut.

Oka Adnyana menegaskan, seluruh rangkaian upacara dilaksanakan secara gratis tanpa membebani masyarakat dengan biaya pelaksanaan. Pembiayaan sepenuhnya ditopang melalui kas Desa Adat Panjer, LPD, serta unit-unit usaha yang dikelola desa adat. Selain itu, kegiatan juga mendapat dukungan dana sebesar Rp 1 miliar dari Pemerintah Kota Denpasar.

“Krama tidak dibebani biaya alias gratis. Kami tidak menetapkan standar biaya sama sekali. Hanya memberikan punia, kami persilakan seikhlasnya sebagai wujud rasa syukur,” ungkapnya.

Baca Juga  Dekatkan Riset dengan Masyarakat, LPPM Unud Gelar Simposium Nasional Riset dan Abdimas 2023

Ia berharap seluruh krama dapat mengikuti rangkaian upacara dengan penuh ketenangan, kesucian, dan berlandaskan nilai-nilai Tri Kaya Parisudha. Nilai tersebut diharapkan dapat menjadi tuntunan bagi umat dalam mengendalikan hawa nafsu serta Sad Ripu atau enam musuh yang ada dalam diri manusia.

Ke depan, Oka Adnyana berharap pelaksanaan karya yang rutin digelar setiap empat tahun sekali ini dapat terus memperoleh dukungan dari seluruh masyarakat. Dengan adanya fasilitas upacara massal yang ditanggung desa adat, krama diharapkan tidak perlu mengeluarkan biaya besar secara mandiri di luar desa.

Menariknya, dalam pelaksanaan Metatah Massal tersebut, selain Wali Kota Jaya Negara, pada kegiatan itu, anggota DPD RI IB Rai Dharmawijaya Mantra, dan anggota DPRD Provinsi Bali I Gusti Ngurah Gede Marhaendra Jaya turut ngayah nyangging sebagai bentuk partisipasi dan dukungan terhadap pelaksanaan yadnya yang digelar Desa Adat Panjer. (eka/bi)

Loading

Advertisements
dprd bali
Advertisements
hut pemprov dprd badung
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca

BUDAYA

Walikota Jaya Negara Hadiri Puncak “Karya Padudusan Alit” di Kawasan Pantai Matahari Terbit Sanur

Published

on

By

Walikota Denpasar I Gusti Ngurah Jaya Negara menghadiri puncak Karya Padudusan Alit di Kawasan Pantai Matahari Terbit, Sanur.
HADIRI KARYA: Walikota Denpasar I Gusti Ngurah Jaya Negara saat menghadiri puncak Karya Padudusan Alit, Mlaspas, Mendem Pedagingan, dan Mecaru Panca Kelud Wrespati Kalpa Agung di Kawasan Pantai Matahari Terbit, Sanur, Jumat (28/8/2026). (Foto: Hms Dps)

Denpasar, baliilu.com – Walikota Denpasar I Gusti Ngurah Jaya Negara menghadiri puncak Karya Padudusan Alit, Melaspas, Mendem Pedagingan, dan Mecaru Panca Kelud Wrespati Kalpa Agung di Kawasan Pantai Matahari Terbit, Sanur, Jumat (28/8/2026). Dalam kesempatan tersebut, Walikota Jaya Negara juga menyerahkan punia sebagai bentuk dukungan terhadap pelaksanaan karya yang digelar krama Desa Adat Sanur.

Kehadiran Walikota Jaya Negara merupakan bentuk dukungan Pemerintah Kota Denpasar terhadap pelaksanaan kegiatan keagamaan sekaligus upaya menjaga dan melestarikan adat, budaya, serta tradisi Bali.

Walikota Jaya Negara mengatakan, pelaksanaan karya menjadi momentum untuk meningkatkan sradha dan bhakti ke hadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa, sekaligus memperkuat rasa syukur, kebersamaan, dan gotong-royong masyarakat.

“Semoga pelaksanaan karya ini dapat berjalan dengan lancar serta memberikan kerahayuan bagi seluruh krama. Momentum ini juga hendaknya semakin memperkuat kebersamaan kita dalam menjaga adat, budaya, lingkungan, dan keharmonisan kehidupan berlandaskan nilai-nilai Tri Hita Karana,” ujar Jaya Negara.

Sementara itu, Wakil Ketua Panitia Karya sekaligus Ketua Baga Parahyangan Desa Adat Sanur, Ida Bagus Kompiang Partama, menjelaskan bahwa rangkaian karya telah dimulai sejak 19 Agustus 2026 dengan pelaksanaan upacara Nuwasen.

Puncak karya dilaksanakan pada Jumat (28/8) dan dipuput oleh Ida Pedanda Putra Telaga, Ida Pedanda Buda, serta Jelantik Gunung Sari Ubud.

Menurutnya, pelaksanaan karya merupakan wujud rasa syukur krama Desa Adat Sanur atas waranugraha Ida Sang Hyang Widhi Wasa, sekaligus memohon kerahayuan dalam penataan dan pembangunan kawasan.

“Pelaksanaan karya ini juga berkaitan dengan penataan Kawasan Pantai Matahari Terbit yang dilaksanakan secara berlandaskan konsep Tri Hita Karana, meliputi keharmonisan hubungan manusia dengan Tuhan, sesama, dan lingkungan,” ujarnya.

Baca Juga  Mahfud MD Beri Kuliah Umum di Unud

Pihaknya menjelaskan, penataan kawasan tersebut meliputi sejumlah pembangunan, di antaranya penataan Petunon sebagai tempat pelaksanaan upacara Ngaben warga Sanur, pembangunan kawasan UMKM, Kantor Desa Adat, renovasi Kantor LPD, penataan areal parkir, hingga pembangunan Patung Monumen Nelayan Lokal.

Selain sebagai ungkapan rasa syukur, karya ini juga dilaksanakan untuk mendirikan Pelinggih Padma sebagai pengulun Kawasan Matahari Terbit serta menstanakan Ida Bhatara Melanting sebagai pengayom kawasan ekonomi di pesisir pantai dan sekitarnya.

“Seluruh rangkaian karya melibatkan krama dari 10 banjar adat dengan jumlah sekitar 1.800 orang. Kami mengucapkan terima kasih atas kehadiran dan dukungan Bapak Walikota serta Pemerintah Kota Denpasar. Dukungan ini menjadi motivasi bagi kami untuk terus menjaga adat, budaya, dan keharmonisan Desa Adat Sanur,” kata Ida Bagus Kompiang Partama.

Pelaksanaan karya ini diharapkan dapat semakin meningkatkan sradha dan bhakti masyarakat, sekaligus memperkuat sinergi antara Desa Adat Sanur, masyarakat, dan Pemerintah Kota Denpasar dalam mewujudkan penataan Kawasan Pantai Matahari Terbit yang berlandaskan nilai-nilai Tri Hita Karana dan berkelanjutan. (eka/bi)

Loading

Advertisements
dprd bali
Advertisements
hut pemprov dprd badung
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca

BUDAYA

Sinergi Bangun Adat dan Infrastruktur, Bupati Badung Apresiasi Krama Desa Adat Balangan

Published

on

By

Bupati Badung I Wayan Adi Arnawa menghadiri Karya Atma Wedana, Pitra Yadnya, dan Metatah Massal krama Desa Adat Balangan di Kecamatan Mengwi.
HADIRI KARYA: Bupati Adi Arnawa saat hadiri Karya Atma Wedana, Pitra Yadnya, Potong Gigi, dan Mepetik Massal krama Desa Adat Balangan di Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung, Jumat (28/8). (Foto: Hms Badung)

Badung, baliilu.com – Semangat kebersamaan dan gotong-royong krama Desa Adat Balangan mendapat pujian langsung dari Bupati Badung I Wayan Adi Arnawa. Hal itu disampaikannya saat menyaksikan langsung kekompakan warga dalam rangkaian Karya Atma Wedana, Pitra Yadnya, Potong Gigi, dan Mepetik Massal di Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung, Jumat (28/8).

Kehadiran Bupati menjadi wujud nyata dukungan pemerintah terhadap penguatan adat, tradisi, dan kehidupan keagamaan masyarakat setempat. Turut mendampingi dalam kegiatan tersebut anggota DPRD Kabupaten Badung I Made Yudana, Camat Mengwi I Nyoman Suhartana, Perbekel Desa Kuwum, Bendesa Adat Balangan, serta jajaran tokoh agama dan tokoh masyarakat setempat.

Dalam sambutannya, Bupati Adi Arnawa menyampaikan rasa syukur sekaligus apresiasi yang mendalam atas terselenggaranya upacara Manusa Yadnya dan Pitra Yadnya secara kolektif ini. Menurutnya, pelaksanaan upacara massal ini mencerminkan kuatnya semangat gotong-royong, kebersamaan, dan kepedulian sosial yang masih terjaga erat di tengah masyarakat Desa Adat Balangan dalam menunaikan kewajiban adat mendasar.

“Pemkab Badung berkomitmen penuh untuk selalu hadir dan mengawal kegiatan adat serta keagamaan masyarakat. Langkah ini menjadi bagian penting dari upaya pemerintah daerah dalam meringankan beban finansial krama,” ujarnya.

Lebih lanjut, Adi Arnawa memaparkan bahwa Pemkab Badung saat ini tengah memprioritaskan program penataan serta pembangunan infrastruktur wilayah, terutama dalam mengurai titik-titik kemacetan lalu lintas. Kebijakan ini dinilai krusial untuk menjaga kenyamanan aktivitas harian masyarakat sekaligus mempertahankan daya tarik pariwisata Badung sebagai sektor penopang utama pendapatan daerah.

Kendati fokus pada infrastruktur, ia menegaskan bahwa dukungan terhadap sektor keagamaan dan pelestarian adat tetap menjadi bagian integral yang tidak terpisahkan dari kebijakan anggaran daerah. Alokasi bantuan untuk pembangunan wantilan, perbaikan fasilitas desa, hingga pelaksanaan upacara Yadnya dipastikan tetap mendapat porsi perhatian yang proporsional.

Baca Juga  TBM Janar Duta Bersama BKFK Gelar Donor Darah JARGON TBM Janar Duta 2023

Ia juga secara khusus memuji sinergi antara Perbekel, Bendesa Adat, Panitia Karya, dan seluruh krama Desa Adat Balangan yang telah bekerja keras menyukseskan acara hingga berjalan lancar (labda karya).

“Semangat kebersamaan seperti ini harus terus dirawat. Pemerintah dan masyarakat harus berjalan beriringan agar kewajiban adat terpenuhi, sementara program pembangunan daerah tetap melaju,” ucap Adi Arnawa.

Sementara itu, Manggala Karya I Made Murna menjelaskan bahwa Karya Atma Wedana Kinembulan merupakan agenda periodik 5 tahunan yang diinisiasi oleh kepanitiaan bersama krama Desa Adat Balangan. Kegiatan ini menjadi momentum bakti luhur sekaligus bagian dari pembersihan spiritual melalui upacara Pitra Yadnya.

Pada upacara kali ini, tercatat jumlah peserta yang mengikuti rangkaian yadnya meliputi Nyakar/Memukur (Puspa) sebanyak 62 diri, Nglangkir dan Ngelungah sebanyak 9 diri, Warak Keruron sebanyak 12 diri, serta Metatah (Potong Gigi) sebanyak 93 diri.

I Made Murna turut mengapresiasi kontribusi nyata Pemerintah Desa Kuwum yang memberikan dukungan pembiayaan operasional karya melalui alokasi anggaran desa senilai lebih dari Rp 300 juta. (gs/bi)

Loading

Advertisements
dprd bali
Advertisements
hut pemprov dprd badung
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca