Connect with us
https://www.baliviralnews.com/wp-content/uploads/2022/06/stikom-juni-25-2022.jpg

BUDAYA

Tahun Ini Karya di Pura Samuantiga Urung Dilaksanakan, Hanya Mapekeling dan Guru Piduka

BALIILU Tayang

:

de
PESAMUHAN DI PURA SAMUANTIGA: Karya urung dilaksanakan, hanya gelar mapekeling dan guru piduka.

Gianyar, baliilu.com – Untuk menghindari penumpukan warga karena sangat riskan tertular Corona Virus Disease (Covid-19), Karya Padudusan Agung lan Ida Bhatara Tedun Kabeh di Pura Kahyangan Jagat Samuantiga pada 6 Mei 2020 urung dilaksanakan.

Demikian hasil pesamuhan prajuru dan panitia karya yang dihadiri Ida Pedanda Jelantik Manggis Putra dari Griya Wanayu Bedulu, Gusti Mangku Ageng Samuantiga sebagai Guru Loka Prajuru Pura Samuantiga, serta Ketua Sabha Manggala Pura Samuantiga dan Bendesa Pura Samuantiga I Gusti Ngurah Made Serana, di Balai Panjang Pura Kahyangan Jagat Samuantiga, Senin malam (30/3-2020).

Dalam pesamuhan yang juga dihadiri penglingsir pura Dr.  I Wayan Patera, M. Hum serta Bendesa Adat Tegalinggah dan Bendesa Adat Margasengkala ini, diputuskan serangkaian karya yang jatuh pada purnamaning Jyesta, 6 Mei 2020, hanya akan dilaksanakan upacara mapekeling dengan disertai upakara tebasan guru piduka di Pura Kahyangan Jagat Samuantiga, serta di sejumlah pura yang biasanya tapakan dari masing masing pura itu ngelungang ke Pura Samuantiga di Desa Bedulu, Gianyar.

Ketua Sabha Pura Samuantiga Ir. Ida Bagus Made Parsa, MT, usai pesamuhan mengemukakan tidak dilaksanakannya Karya Padudusan Agung dan Ida Bhatara Tedun Kabeh tahun ini, didasarkan pada pertimbangan keamanan dan kesehatan masyarakat. Karena sudah dipastikan, setiap Karya Padudusan Agung belasan ribu umat akan pedek tangkil setiap harinya di pura dicetuskannya Desa Adat dan Pura Kahyangan Tiga yang ada di Bali saat ini, di abad ke-11 silam.

Selain pertimbangan kesehatan, disebutkan Ida Bagus Parsa, keputusan itu didasari pada situasi dan kondisi belakangan ini yang diwarnai sebaran Covid-19. Karena pengumpulan warga dalam jumlah banyak dan saling berdekatan sangat rentan akan tertular serta menjadi media efektif penyebaran virus yang telah menjadi kekhawatiran dunia itu.

Baca Juga  Sekda Dewa Indra Ingin Langkah Progresif Percepat Transformasi Birokrasi

Namun yang lebih penting lagi, ungkap kakak kandung dari Ida Pedanda Jelantik Manggis dari Griya Wanayu Bedulu ini, adalah memperhatikan imbauan Presiden, Gubernur Bali serta Bupati Gianyar, dalam upaya penanggulangan sebaran virus yang kini sudah merambah di berbagai wilayah di Bali. “Kita sangat mendukung kebijakan guru wisesa, mulai dari Presiden, Gubernur sampai Bupati Gianyar. Karena, semua itu untuk keselamatan dan kesehatan masyarakat luas,” urai Ida Bagus Parsa yang juga dipaparkan dalam Pesamuhan Manggala Karya Padudusan Agung dan Ida Bhatara Tedun Kabeh yang telah terbentuk.

Selain imbauan kepala negara dan kepala daerah, adanya maklumat kapolri juga menjadi pertimbangan untuk tahun ini tidak dilaksanakan Karya Padudusan Agung dan Ida Bhatara Tedun Kabeh di Pura Kahyangan Jagat Samuantiga, yang selalu dirangakai dengan prosesi melasti dari Pura Samuantiga menuju Pantai Masceti di Desa Medahan dengan berjalan kaki, dengan melibatkan puluhan ribu umat dari 10 desa adat. “Karena hanya dilaksanakan upacara Mapekeling dan Guru Piduka, niscaya tradisi ngambeng dan melasti yang menjadi agenda rutin setiap Padudusan Agung di tahun genap,  untuk tahun ini ditiadakan. Semoga di tahun-tahun selanjutnya upacara dan semua yadnya itu dapat kita laksanakan kembali,” kata Ida Bagus Made Parsa, seraya berharap musibah Covid-19 ini segera dapat ditanggulangi sehingga aktivitas kehidupan warga masyarakat kembali normal kembali.

Bendesa Pura Samuantiga, I Gusti Ngurah Made Serana, menegaskan dengan kesepakatan prajuru inti dan Guru Loka Pura Samuantiga ini, akan disosialisasikan kepada semua umat. Terutama masyarakat adat pengempon yang terdiri dari Desa Adat Bedulu, Wanayu Mas, Desa Adat Taman, Tengkulak Kaja serta Desa Adat Tengkulak Tengah. “Hasil pesamuhan prajuru dan guru loka pura ini juga perlu disampaikan kepada semua umat, karena Pura Samuantiga ini merupakan Pura Kahyangan Jagat yang disungsung semua umat Hindu. Terlebih lagi Pura Kahyangan Tiga dan keberadaan Desa Adat yang ada di Bali saat ini, merupakan hasil dari pesamuan yang dilaksanakan Raja Udayana yang dihadiri Empu Kuturan di abad ke-11 silam,” tutur Gusti Ngurah Made Serana yang juga Bendesa Adat Bedulu serta anggota DPRD Kabupaten Gianyar dari Fraksi PDIP ini.

Baca Juga  Dishub Kota Denpasar Temukan Sopir Travel Reaktif Covid-19
de
PESAMUHAN: Berlangsung sampai malam.

Disebutkan juga, selain Karya Padudusan Agung dan Ida Bhatara Tedun Kabeh urung dilaksanakan tahun ini, sejumlah agenda berkaitan dengan keberadaan sasuhunan di Pura Samuantiga diagenda ulang. Termasuk pembatalan tapakan Ida Bhatara Ratu Sakti Pura Samuantiga lunga ke Pura Pengajengan di Desa Adat Tengkulak Klod Desa Kemenuh, Sukawati, terkait dilaksanakan karya agung di Pura Pengajengan itu.  Pembatalan juga diputuskan untuk lunga ke Pura di Carangsari Badung, yang menjadi agenda tetap setiap dilaksanakan piodalan di Pura Carangsari tersebut.

Serangkaian upacara mapekeling dan guru piduka, Gusti Serana menegaskan hanya dilaksanakan pihak pengayah pura dengah jumlah yang sangat terbatas. Sedangkan umat diimbau hanya ngaturang pejati di masing masing merajan keluarga serta di sejumlah Pura Kahyangan Tiga, terutama di pura yang biasanya lunga setiap dilaksanakan karya padudusan di Pura Kahyangan Jagat Samuantiga. “Sudah diputuskan untuk ngaturang pejati di pura yang biasa lunga saat karya, akan dilakukan pihak pengayah Pura Samuantiga setelah berkoordinasi dan menyampaikan putusan prajuru ini,” kata Bendesa Pura didampingi wakilnya, Wayan Sunantara. (*/dar)

Loading

galungan dan kuningan dprd bali
Advertisements
iklan stikom
Advertisements
waisak
Advertisements
galungan dprd kabupaten badung
Advertisements
iklan
Advertisement
Klik untuk Komentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

BUDAYA

Wabup Bagus Alit Sucipta “Ngupasaksi” Puncak “Piodalan Padudusan Agung” di Pura Dalem Desa Adat Ambengan

Published

on

By

Wakil Bupati Badung Bagus Alit Sucipta bersama anggota DPRD Putu Yunita Oktarini menghadiri Puncak Piodalan Padudusan Agung Karya Ngenteg Linggih di Pura Dalem Desa Adat Ambengan.
HADIRI PIODALAN: Wabup Bagus Alit Sucipta bersama Putu Yunita Oktarini saat hadiri Puncak Piodalan Padudusan Agung Karya Ngenteg Linggih di Pura Dalem Desa Adat Ambengan, Banjar Ambengan, Desa Ayunan, Rabu (12/8). (Foto: Hms Badung)

Badung, baliilu.com – Puncak Piodalan Padudusan Agung serangkaian Karya Ngenteg Linggih dan Padudusan Agung Menawa Ratna Medasar Tawur Balik Sumpah Madyaning Utama berlangsung khidmat di Pura Dalem Desa Adat Ambengan, Banjar Ambengan, Desa Ayunan, Kecamatan Abiansemal, Rabu (12/8). Prosesi ini disaksikan langsung oleh Wakil Bupati Badung Bagus Alit Sucipta yang hadir sebagai upasaksi dengan didampingi anggota DPRD Kabupaten Badung Putu Yunita Oktarini.

Karya dipuput oleh Ida Pedanda Geria Gede Cau Belayu dan dihadiri Plt. Camat Abiansemal I Wayan Bagiarta Gunawan, Bendesa Adat Ambengan I Made Miasa, serta seluruh krama pengempon Pura Dalem Desa Adat Ambengan.

Sebagai bentuk dukungan nyata dan perhatian mendalam dari Pemerintah Kabupaten Badung terhadap kelancaran upacara keagamaan tersebut, Pemkab Badung menyerahkan bantuan dana sebesar Rp 1,5 miliar.

Dalam sambrama wacananya, Wabup Bagus Alit Sucipta menyampaikan apresiasi mendalam kepada seluruh krama Desa Adat Ambengan. Menurutnya, kegotongroyongan dan semangat menyama braya warga sangat terlihat dalam menyukseskan karya suci ini.

“Atas nama pribadi dan pemerintah, kami menyampaikan apresiasi kepada seluruh krama Desa Adat Ambengan atas semangat menyama braya, gotong-royong, dan kebersamaan sehingga pelaksanaan karya suci ini dapat terlaksana dengan baik,” ujarnya.

Wabup juga berharap pelaksanaan karya suci tersebut dapat memancarkan kerahayuan, kesehatan, kesejahteraan, serta menjaga keseimbangan alam semesta. Ia sekaligus mengajak seluruh krama untuk terus meningkatkan sradha dan bhakti kepada Ida Sanghyang Widhi Wasa.

“Semoga krama Desa Adat Ambengan senantiasa diberikan kesehatan, kerahayuan, kesukertan, dan rezeki. Kami juga mengajak seluruh krama untuk terus ngrastiti bhakti kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Astungkara, setelah karya suci ini, kebaikan datang dari segala arah dan membawa kesejahteraan bagi seluruh krama,” ucap Bagus Alit Sucipta.

Baca Juga  Surat Perpanjangan Status Siaga Darurat Gubernur Bali ternyata Hoax

Sementara itu, Bendesa Adat Ambengan I Made Miasa menyampaikan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Wakil Bupati Badung beserta jajaran pemerintah daerah atas dukungan moril maupun materiil yang telah dikucurkan.

“Kami menyampaikan terima kasih kepada Bapak Wakil Bupati Badung dan Pemerintah Kabupaten Badung yang telah memberikan dukungan, sehingga seluruh rangkaian karya suci ini dapat terlaksana sesuai dengan harapan krama Desa Adat Ambengan,” ungkapnya.

Lebih lanjut Miasa memaparkan bahwa rangkaian karya suci ini telah berjalan secara maraton selama kurang lebih empat bulan. Berbagai tahapan prosesi upakara prabawa telah dituntaskan secara bertahap, di antaranya ritual matur piuning, nunas tirta, mecaru, serta upacara sakral lainnya sebagai bagian dari persiapan matang menuju puncak karya. (gs/bi)

Loading

galungan dan kuningan dprd bali
Advertisements
iklan stikom
Advertisements
waisak
Advertisements
galungan dprd kabupaten badung
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca

BUDAYA

Walikota Jaya Negara Ikuti Prosesi Ngeratep, Melaspas dan Pasupati Pelawatan Ida Bhatara Pura Puseh Desa Adat Sumerta

Published

on

By

Walikota Denpasar I Gusti Ngurah Jaya Negara mengikuti prosesi Ngeratep, Melaspas dan Pasupati Pelawatan Ida Bhatara di Pura Puseh Desa Adat Sumerta.
HADIRI MELASPAS: Walikota Denpasar I Gusti Ngurah Jaya Negara mengikuti prosesi Ngeratep, Melaspas dan Pasupati Pelawatan Ida Bhatara Pura Puseh Desa Adat Sumerta bertepatan dengan Rahina Tilem Karo, Rabu (12/8) petang. (Foto: Hms Dps)

Denpasar, baliilu.com – Walikota Denpasar I Gusti Ngurah Jaya Negara mengikuti prosesi Ngeratep, Melaspas dan Pasupati Pelawatan Ida Bhatara Pura Puseh Desa Adat Sumerta bertepatan dengan Rahina Tilem Karo, Rabu (12/8) petang.

Tampak krama adat setempat dengan khidmat mengikuti setiap prosesi Ngeratep, Melaspas dan Pasupati Pelawatan Ida Bhatara Pura Puseh Desa Adat Sumerta.

Turut hadir Anggota DPRD Kota Denpasar, I Made Mudra, Camat Denpasar Timur, Ni Ketut Sri Karyawati serta seluruh krama Desa Adat Sumerta.

Walikota Denpasar I Gusti Ngurah Jaya Negara dalam kesempatan tersebut mengatakan, Upacara Ngeratep, Melaspas dan Pasupati Pelawatan Ida Bhatara Pura Puseh Desa Adat Sumerta ini merupakan momentum bagi seluruh masyarakat setempat untuk senantiasa eling dan meningkatkan Srada Bhakti kepada Ida Sang Hyang Widi Wasa. Sehingga menjadi jalan menjaga keharmonisan antara Parahyangan, Palemahan, dan Pawongan sebagai implementasi dari Tri Hita Karana.

“Dengan pelaksanaan upacara ini mari kita tingkatkan Sradha Bhakti sebagai upaya menjaga harmonisasi sebagai implementasi Tri Hita Karana sejalan juga dengan spirit Kota Denpasar yakni Vasudhaiva Kutumbakam,” ujar Jaya Negara.

Sementara Kelihan Penyatusan Pengamong Pura Puseh Desa Adat Sumerta, I Made Budiarta mengatakan bahwa upacara Ngeratep, Melaspas dan Pasupati Pelawatan Ida Bhatara Pura Puseh Desa Adat Sumerta ini dilaksanakan setelah proses pembenahan Pelawatan Ida Bhatara Pura setempat tuntas dilaksanakan. Upacara ini sendiri dipuput oleh Ida Pedanda Griya Tegal Jingga.

“Proses pengerjaan perbaikan telah dilaksanakan beberapa waktu yang lalu. Dimana, setelah tuntas dikerjakan, dilanjutkan dengan proses Ngeratep, Melaspas dan Pasupati. Setelah itu turut dilaksanakan Upacara Nyangcang di Setra Adat Sumerta yang dilanjutkan dengan Upacara Melasti,” paparnya.

Baca Juga  Dalami Tiga Ranperda, DPRD Bali Gelar Rapat Kerja Gabungan dengan Eksekutif

Dikatakannya, upakara ini merupakan wujud sradha dan bhakti krama Desa Adat Sumerta kepada Ida Bhatara Sesuhunan. “Hal ini tentunya diharapkan dapat memberikan anugerah kesejahteraan, kebaikan serta kemakmuran bagi seluruh krama desa,” ujarnya. (eka/bi)

Loading

galungan dan kuningan dprd bali
Advertisements
iklan stikom
Advertisements
waisak
Advertisements
galungan dprd kabupaten badung
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca

BUDAYA

Diikuti 16 Sawa, Wagub Giri Prasta Hadiri Ngaben Massal Perdana Desa Adat Mengandang

Published

on

By

Wakil Gubernur Bali I Nyoman Giri Prasta menyerahkan punia saat menghadiri upacara Ngaben Massal di Desa Adat Mengandang, Kecamatan Kubutambahan.
SERAHKAN PUNIA: Wakil Gubernur Bali I Nyoman Giri Prasta menyerahkan punia saat menghadiri upacara Pitra Yadnya/Ngaben Kinembulan Sawa Prakerti di Desa Adat Mengandang, Kecamatan Kubutambahan, Kamis (6/8). (Foto: Hms Pemprov Bali)

Buleleng, baliilu.com – Wakil Gubernur Bali I Nyoman Giri Prasta menghadiri upacara Pitra Yadnya/Ngaben Kinembulan Sawa Prakerti di Desa Adat Mengandang, Kecamatan Kubutambahan, Kamis (6/8). Ngaben massal yang diikuti 16 sawa ini menjadi yang pertama digelar di desa tersebut, sekaligus menandai kuatnya komitmen krama dalam menjaga tradisi leluhur.

Dalam sambutannya, Giri Prasta mengaku bahagia dapat hadir langsung di tengah masyarakat yang melaksanakan yadnya secara gotong-royong. Ia menyampaikan apresiasi atas kekompakan krama Desa Adat Mengandang yang bersama-sama menjalankan upacara sesuai dresta Bali.

“Apresiasi kepada krama yang telah bersatu, guyub, saling gotong-royong melaksanakan yadnya ini. Sagilik saguluk salunglung sabayantaka, paras paros sarpanaya,” ujarnya.

Wakil Gubernur Bali juga menegaskan bahwa Pemerintah Provinsi Bali terus mendukung pelaksanaan upacara yadnya sebagai bagian dari pelestarian adat, tradisi, dan budaya Bali.

Sementara itu, Bendesa Adat Mengandang Wayan Sudiana dalam laporannya menjelaskan bahwa ngaben massal ini bukan hanya kewajiban spiritual, tetapi juga bentuk pelestarian budaya yang diwariskan secara turun-temurun.

“Ini merupakan ngaben massal pertama yang kami laksanakan. Sebelumnya, kami melaksanakan ngaben metuun sesuai dresta Bali Aga di desa ini,” ungkapnya.

Rangkaian upacara telah berlangsung sejak 24 Juli dan akan berakhir pada 8 Agustus 2026. Puncak prosesi dijadwalkan pada 7 Agustus 2026, diawali dengan mecaru, dilanjutkan prosesi pengabenan, hingga upacara penyucian yang melibatkan pemangku, Ida Pandita, serta krama desa setempat.

Sebagai bentuk dukungan, Wagub Giri Prasta turut menyerahkan punia kepada panitia karya sebesar Rp 25 juta. Selain itu, bantuan juga diberikan kepada Sekaa Angklung sebesar Rp 5 juta, Sekaa Santhi sebesar Rp 2 juta, serta kepada pemangku sebesar Rp 4 juta. (gs/bi)

Baca Juga  Dalami Tiga Ranperda, DPRD Bali Gelar Rapat Kerja Gabungan dengan Eksekutif

Loading

galungan dan kuningan dprd bali
Advertisements
iklan stikom
Advertisements
waisak
Advertisements
galungan dprd kabupaten badung
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca