Thursday, 18 July 2024
Connect with us
https://www.baliviralnews.com/wp-content/uploads/2022/06/stikom-juni-25-2022.jpg

BUDAYA

Tahun Ini Karya di Pura Samuantiga Urung Dilaksanakan, Hanya Mapekeling dan Guru Piduka

BALIILU Tayang

:

de
PESAMUHAN DI PURA SAMUANTIGA: Karya urung dilaksanakan, hanya gelar mapekeling dan guru piduka.

Gianyar, baliilu.com – Untuk menghindari penumpukan warga karena sangat riskan tertular Corona Virus Disease (Covid-19), Karya Padudusan Agung lan Ida Bhatara Tedun Kabeh di Pura Kahyangan Jagat Samuantiga pada 6 Mei 2020 urung dilaksanakan.

Demikian hasil pesamuhan prajuru dan panitia karya yang dihadiri Ida Pedanda Jelantik Manggis Putra dari Griya Wanayu Bedulu, Gusti Mangku Ageng Samuantiga sebagai Guru Loka Prajuru Pura Samuantiga, serta Ketua Sabha Manggala Pura Samuantiga dan Bendesa Pura Samuantiga I Gusti Ngurah Made Serana, di Balai Panjang Pura Kahyangan Jagat Samuantiga, Senin malam (30/3-2020).

Dalam pesamuhan yang juga dihadiri penglingsir pura Dr.  I Wayan Patera, M. Hum serta Bendesa Adat Tegalinggah dan Bendesa Adat Margasengkala ini, diputuskan serangkaian karya yang jatuh pada purnamaning Jyesta, 6 Mei 2020, hanya akan dilaksanakan upacara mapekeling dengan disertai upakara tebasan guru piduka di Pura Kahyangan Jagat Samuantiga, serta di sejumlah pura yang biasanya tapakan dari masing masing pura itu ngelungang ke Pura Samuantiga di Desa Bedulu, Gianyar.

Ketua Sabha Pura Samuantiga Ir. Ida Bagus Made Parsa, MT, usai pesamuhan mengemukakan tidak dilaksanakannya Karya Padudusan Agung dan Ida Bhatara Tedun Kabeh tahun ini, didasarkan pada pertimbangan keamanan dan kesehatan masyarakat. Karena sudah dipastikan, setiap Karya Padudusan Agung belasan ribu umat akan pedek tangkil setiap harinya di pura dicetuskannya Desa Adat dan Pura Kahyangan Tiga yang ada di Bali saat ini, di abad ke-11 silam.

Selain pertimbangan kesehatan, disebutkan Ida Bagus Parsa, keputusan itu didasari pada situasi dan kondisi belakangan ini yang diwarnai sebaran Covid-19. Karena pengumpulan warga dalam jumlah banyak dan saling berdekatan sangat rentan akan tertular serta menjadi media efektif penyebaran virus yang telah menjadi kekhawatiran dunia itu.

Baca Juga  Update Covid-19 (17/6) Bali, Kasus Positif dan Sembuh Tertinggi dalam Sehari, Didominasi Transmisi Lokal

Namun yang lebih penting lagi, ungkap kakak kandung dari Ida Pedanda Jelantik Manggis dari Griya Wanayu Bedulu ini, adalah memperhatikan imbauan Presiden, Gubernur Bali serta Bupati Gianyar, dalam upaya penanggulangan sebaran virus yang kini sudah merambah di berbagai wilayah di Bali. “Kita sangat mendukung kebijakan guru wisesa, mulai dari Presiden, Gubernur sampai Bupati Gianyar. Karena, semua itu untuk keselamatan dan kesehatan masyarakat luas,” urai Ida Bagus Parsa yang juga dipaparkan dalam Pesamuhan Manggala Karya Padudusan Agung dan Ida Bhatara Tedun Kabeh yang telah terbentuk.

Selain imbauan kepala negara dan kepala daerah, adanya maklumat kapolri juga menjadi pertimbangan untuk tahun ini tidak dilaksanakan Karya Padudusan Agung dan Ida Bhatara Tedun Kabeh di Pura Kahyangan Jagat Samuantiga, yang selalu dirangakai dengan prosesi melasti dari Pura Samuantiga menuju Pantai Masceti di Desa Medahan dengan berjalan kaki, dengan melibatkan puluhan ribu umat dari 10 desa adat. “Karena hanya dilaksanakan upacara Mapekeling dan Guru Piduka, niscaya tradisi ngambeng dan melasti yang menjadi agenda rutin setiap Padudusan Agung di tahun genap,  untuk tahun ini ditiadakan. Semoga di tahun-tahun selanjutnya upacara dan semua yadnya itu dapat kita laksanakan kembali,” kata Ida Bagus Made Parsa, seraya berharap musibah Covid-19 ini segera dapat ditanggulangi sehingga aktivitas kehidupan warga masyarakat kembali normal kembali.

Bendesa Pura Samuantiga, I Gusti Ngurah Made Serana, menegaskan dengan kesepakatan prajuru inti dan Guru Loka Pura Samuantiga ini, akan disosialisasikan kepada semua umat. Terutama masyarakat adat pengempon yang terdiri dari Desa Adat Bedulu, Wanayu Mas, Desa Adat Taman, Tengkulak Kaja serta Desa Adat Tengkulak Tengah. “Hasil pesamuhan prajuru dan guru loka pura ini juga perlu disampaikan kepada semua umat, karena Pura Samuantiga ini merupakan Pura Kahyangan Jagat yang disungsung semua umat Hindu. Terlebih lagi Pura Kahyangan Tiga dan keberadaan Desa Adat yang ada di Bali saat ini, merupakan hasil dari pesamuan yang dilaksanakan Raja Udayana yang dihadiri Empu Kuturan di abad ke-11 silam,” tutur Gusti Ngurah Made Serana yang juga Bendesa Adat Bedulu serta anggota DPRD Kabupaten Gianyar dari Fraksi PDIP ini.

Baca Juga  Sinergi dengan SOS Food Rescue, Pemkot Denpasar Bagikan 250 Nasi Bungkus Gratis kepada Warga Kelurahan Sumerta
de
PESAMUHAN: Berlangsung sampai malam.

Disebutkan juga, selain Karya Padudusan Agung dan Ida Bhatara Tedun Kabeh urung dilaksanakan tahun ini, sejumlah agenda berkaitan dengan keberadaan sasuhunan di Pura Samuantiga diagenda ulang. Termasuk pembatalan tapakan Ida Bhatara Ratu Sakti Pura Samuantiga lunga ke Pura Pengajengan di Desa Adat Tengkulak Klod Desa Kemenuh, Sukawati, terkait dilaksanakan karya agung di Pura Pengajengan itu.  Pembatalan juga diputuskan untuk lunga ke Pura di Carangsari Badung, yang menjadi agenda tetap setiap dilaksanakan piodalan di Pura Carangsari tersebut.

Serangkaian upacara mapekeling dan guru piduka, Gusti Serana menegaskan hanya dilaksanakan pihak pengayah pura dengah jumlah yang sangat terbatas. Sedangkan umat diimbau hanya ngaturang pejati di masing masing merajan keluarga serta di sejumlah Pura Kahyangan Tiga, terutama di pura yang biasanya lunga setiap dilaksanakan karya padudusan di Pura Kahyangan Jagat Samuantiga. “Sudah diputuskan untuk ngaturang pejati di pura yang biasa lunga saat karya, akan dilakukan pihak pengayah Pura Samuantiga setelah berkoordinasi dan menyampaikan putusan prajuru ini,” kata Bendesa Pura didampingi wakilnya, Wayan Sunantara. (*/dar)

Advertisements
iklan sman 1 dps
Advertisements
gelombang 4b
Advertisements
waisak dprd badung
Advertisements
idul fitri dprd bali
Advertisements
iklan
Advertisement
Klik untuk Komentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

BUDAYA

Walikota Jaya Negara ‘’Ngayah Nyangging’’ Serangkaian ‘’Karya Atma Wedana’’ dan ‘’Mepandes Kinambulan’’ Desa Adat Sesetan

Published

on

By

Walikota Jaya Negara
NGAYAH NYANGGING: Walikota Denpasar, I Gusti Ngurah Jaya Negara yang berkesempatan ‘’ngayah nyangging’’ serangkaian ‘’Karya Atma Wedana’’ dan ‘’Mepandes Kinambulan’’ yang digelar untuk keenam kalinya oleh Desa Adat Sesetan, Kecamatan Denpasar Selatan, bertempat di Pemelisan Desa Adat Sesetan, Kamis (18/7). (Foto: Hms Dps)

Denpasar, baliilu.com – Walikota Denpasar I Gusti Ngurah Jaya Negara ngayah nyangging serangkaian Karya Atma Wedana dan Mepandes Kinambulan yang digelar untuk keenam kalinya oleh Desa Adat Sesetan, Kecamatan Denpasar Selatan, bertempat di Pemelisan Desa Adat Sesetan, Kamis (18/7).

Terlihat sejak pagi ratusan warga sudah tampak memadati areal bale peyadnyan untuk mengikuti prosesi upacara Metatah Kinambulan. Di mana dari prosesi upacara mepandes massal ini, dari 20 Sangging yang akan bertugas mengasah gigi para peserta tampak diantaranya, Walikota Denpasar, I Gusti Ngurah Jaya Negara yang berkesempatan ngayah nyangging dan diakhiri dengan penyerahan punia kepada panitia.

Di sela-sela Karya Mepandes, Walikota Denpasar, I Gusti Ngurah Jaya Negara mengatakan, bahwa ritual potong gigi (mepandes) yang merupakan salah satu ritual manusa yadnya yang wajib dilakukan.

“Dalam agama Hindu Mepandes wajib dilakukan ketika anak menginjak usia remaja atau sudah dewasa. Ritual ini bertujuan untuk mengendalikan enam sifat buruk manusia yang menurut agama Hindu dikenal dengan istilah Sad Ripu atau enam musuh dalam diri manusia,” ujarnya.

Selebihnya dikatakan, menetralisir Sad Ripu yang meliputi, Kama (sifat penuh nafsu indriya), Lobha (sifat loba dan serakah), Krodha (sifat kejam dan pemarah), Mada (sifat mabuk atau kemabukan), Matsarya (sifat dengki dan irihati), dan Moha (sifat kebingungan atau susah menentukan sesuatu).

Sementara Bendesa Adat Sesetan, Made Widra mengungkapkan, pihaknya di Desa Adat Sesetan telah memiliki program metatah massal. Program ini sejatinya sudah ada sejak lama yang dirancang setiap tiga tahun sekali sebagai wujud sradha bhakti umat kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa, serta membantu sesama umat di Desa Adat Sesetan.

Baca Juga  Cegah Virus Corona, Cok Ace Gelar Penyemprotan Disinfektan di Penyeberangan Pantai Sanur dan Kawasan ITDC Nusa Dua

Program ini bertujuan untuk membantu dan meringankan beban, sehingga dapat menekan pengeluaran masyarakat dalam melaksanakan yadnya. Selain metatah massal dalam rangkaian upacara ini juga dilaksanakan kegiatan Atma Wedana yang diikuti sebanyak 141 sawa.

Mepandes massal kali ini diikuti 174 orang peserta dari warga Desa Adat Sesetan dengan melibatkan 20 orang sangging, serta upacara ini nantinya akan terus kami adakan secara rutin kedepannya,” ungkapnya.

Disampaikan pula, ucapan terima kasih kepada Pemkot Denpasar terutama Bapak Walikota karena sudah hadir dan memberikan stimulan kepada karya ini, semoga upacara ini bisa terus kami laksanakan untuk masyarakat kedepannya. (eka/bi)

Advertisements
iklan sman 1 dps
Advertisements
gelombang 4b
Advertisements
waisak dprd badung
Advertisements
idul fitri dprd bali
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca

BUDAYA

Walikota Jaya Negara Hadiri ‘’Karya Mapedudusan’’ Pura Dalem Ularan Tatasan Kaja

Published

on

By

Walikota Jaya Negara
HADIRI KARYA: Walikota Denpasar, I Gusti Ngurah Jaya Negara saat menghadiri ‘’Karya Mapedudusan Mamungkah Wraspati Kalpa Agung’’, Pura Dalem Ularan, Tatasan Kaja, Kelurahan Tonja, Kecamatan Denpasar Utara, Rabu (17/7). (Foto: Hms Dps)

Denpasar, baliilu.com – Walikota Denpasar, I Gusti Ngurah Jaya Negara menghadiri Karya Mapedudusan Mamungkah Wraspati Kalpa Agung, Pura Dalem Ularan, Tatasan Kaja, Kelurahan Tonja, Kecamatan Denpasar Utara, Rabu (17/7).

Hadir dalam kesempatan tersebut, Anggota DPRD Denpasar, I Nyoman Sumardika, Camat Denpasar Utara, I Wayan Yusswara, Lurah Tonja, I Made Sunantra, dan tokoh masyarakat setempat.

Walikota Jaya Negara di sela-sela kesempatan tersebut menyampaikan, pelaksanaan Karya Mapedudusan Mamungkah Wraspati Kalpa Agung, Pura Dalem Ularan, Tatasan Kaja, Kelurahan Tonja dapat memberikan penguatan kebersamaan sosial. Pelaksanaan upacara tersebut merupakan bagian dari upaya untuk memelihara dan meneruskan warisan budaya Hindu yang kaya di Bali.

Dalam kesempatan tersebut Walikota Jaya Negara juga mengharapkan, pelaksanaan Karya Mapedudusan Mamungkah Wraspati Kalpa Agung, Pura Dalem Ularan, Tatasan Kaja dapat memurnikan jiwa dan lingkungan fisik, sehingga menciptakan keseimbangan dan harmoni.

“Hal ini juga merupakan perayaan atas pencapaian atau momen penting dalam kehidupan individu atau komunitas, serta penghormatan terhadap leluhur,” ujar Jaya Negara.

Sementara Manggala Karya, I Nyoman Suparta menyampaikan, ucapan terima kasih kepada Walikota Denpasar dan seluruh jajaran Pemkot Denpasar yang telah hadir serta memberikan dukungan dalam pelaksanaan upacara ini.

Pelaksanaan puncak Karya Mapedudusan Mamungkah Wraspati Kalpa Agung, Pura Dalem Ularan bertepatan dengan Rainan Pagerwesi yang jatuh pada tanggal 17 Juli 2024. Puncak karya di-puput tiga sulinggih yang juga dilangsungkan dengan pementasan tari wali dan wayang lemah.

“Pelaksanaan karya telah berjalan baik, dengan Pengerajeg Karya, Ida Pedanda Anom Surya Puja, serta kami mengucapkan terima kasih atas kehadiran bapak Walikota Jaya Negara beserta jajaran, dan tokoh masyarakat setempat dalam memberikan dukungan dan restu pelaksanana upacara di Pura Dalem Ularan,” ujarnya. (eka/bi)

Baca Juga  Kasus Positif Menurun di Denpasar, Imbang dengan Pasien Sembuh 6 Orang

Advertisements
iklan sman 1 dps
Advertisements
gelombang 4b
Advertisements
waisak dprd badung
Advertisements
idul fitri dprd bali
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca

BUDAYA

Bupati Tabanan Apresiasi Semangat Krama Panti Bendesa Manik Mas Desa Serampingan Dalam Membangun Yadnya

Published

on

By

sanjaya
Bupati Tabanan I Komang Gede Sanjaya saat menghadiri Karya Mamungkah lan Mupuk Pedagingan, Melaspas, Ngenteg Linggih dan Wraspati Kalpa di Pura Panti Pratisentana Bendesa Manik Mas, Desa Serampingan, Kecamatan Selemadeg, Tabanan, Rabu (17/7). (Foto: Hms Tbn)

Tabanan, baliilu.com – Beri dukungan langsung atas kekompakan karya yang digelar krama/masyarakat, Bupati Tabanan I Komang Gede Sanjaya Ngupasaksi Uleman Karya Mamungkah lan Mupuk Pedagingan, Melaspas, Ngenteg Linggih dan Wraspati Kalpa di Pura Panti Pratisentana Bendesa Manik Mas, Desa Serampingan, Kecamatan Selemadeg, Tabanan, Rabu (17/7).

Upacara yang dipuput oleh Ida Peranda Gede Subali Sukawati Manuaba dari Griya Sukawati Selemadeg, juga dihadiri Anggota DPRD Tabanan, Edi Nugraha Giri, Sekda dan para OPD terkait di lingkungan Pemkab Tabanan, Perbekel Serampingan dan Tegalmengkeb, Bendesa dan tokoh masyarakat setempat.

Pelaksanaan upacara ini merupakan hasil gotong-royong dari masyarakat setempat, yakni dari dua desa, Serampingan dan Tegalmengkeb yang terdiri dari 70 Kepala Keluarga (KK) pengempon Panti Pratisentana Bendesa Manik Mas Desa Serampingan. Tentunya orang nomor satu di Tabanan saat itu memberikan apresiasi yang sangat baik terhadap terselenggaranya karya yang luar biasa ini. Baginya, kebersamaan yang dipupuk merupakan kunci penting dalam pembangunan Tabanan kedepannya, baik secara infrastruktur maupun karya yang bersifat niskala.

Sanjaya menegaskan, bahwa kebersamaan dan gotong-royong adalah kunci utama dalam pembangunan daerah. ‘’Kebersamaan yang dipupuk oleh masyarakat Desa Serampingan, yakni Pratisentana Bendesa Manik Mas dalam melaksanakan upacara ini adalah contoh nyata bagaimana nilai-nilai budaya dan tradisi dapat menjadi landasan yang kuat dalam pembangunan Tabanan. Tidak hanya dalam hal infrastruktur, tetapi juga dalam hal spiritual dan sosial,‘‘ ujarnya.

Karya Agung ini juga dapat dimaknai sebagai wujud syukur dan permohonan kepada Tuhan Yang Maha Esa agar senantiasa memberikan perlindungan dan kesejahteraan bagi seluruh masyarakat. Oleh sebab itu, prosesi yang dijalankan dengan mengedepankan nilai-nilai kebersamaan, harmonisasi antara pembangunan sekala dan niskala dapat tercapai, menciptakan kesejahteraan yang menyeluruh bagi masyarakat. Bupati Sanjaya juga sampaikan komitmen Pemerintah Kabupaten Tabanan untuk terus mendukung pelestarian budaya dan tradisi lokal.

Baca Juga  PSSKPPN FK Unud Gelar Pelatihan Uji OSCE Institusi Keperawatan Berstandar Nasional

Ia juga menekankan Pemerintah Daerah memiliki peran penting dalam mendukung kegiatan-kegiatan keagamaan dan budaya yang menjadi identitas masyarakat. ‘‘Saya sangat bangga dengan semangat gotong-royong yang ditunjukkan oleh krama/ masyarakat. Ini adalah contoh nyata dari kekuatan kebersamaan dalam mencapai tujuan bersama,‘‘ tambah Sanjaya.

I Ketut Sandi, selaku Ketua Panitia Pelaksana Karya, mewakili seluruh krama, mengungkapkan rasa syukurnya atas dukungan dan partisipasi seluruh warga dan terutama atas perhatian yang terus ditunjukkan oleh Bupati Tabanan terhadap kramanya. ‘‘Kami sangat bersyukur dan berterima kasih kepada Bapak Bupati dan jajaran yang sudah hadir dan juga seluruh warga yang telah berkontribusi, baik berupa materi maupun tenaga. Tanpa kebersamaan dan kerja keras kita semua, upacara ini tidak akan terlaksana dengan baik,‘‘ pungkasnya. (gs/bi)

Advertisements
iklan sman 1 dps
Advertisements
gelombang 4b
Advertisements
waisak dprd badung
Advertisements
idul fitri dprd bali
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca