Saturday, 13 April 2024
Connect with us
https://www.baliviralnews.com/wp-content/uploads/2022/06/stikom-juni-25-2022.jpg

BUDAYA

Kebangkitan Hindu di Kediri, Benda-benda Keramat Bermunculan

BALIILU Tayang

:

de
IDA PANDITA MPU YOGA NATA, Griya Giri Kusuma Pangi Klungkung.

SETELAH bertahun-tahun puluhan warga penganut Hindu di Besowo Kepung dan juga di Pare Kediri Jawa Timur tidak bisa melaksanakan kewajibannya sesuai dengan sastra agama yang diyakininya, kini warga Hindu di Kediri mulai bangkit. Kebangkitan warga Hindu di Kediri tak lepas dari keberadaan Pura Kerta Agung yang baru direhab, disusul temuan benda-benda sakral seperti patung ganesha, lingga yoni, keris dll.

Bagaimana Pura Kerta Agung muncul, begitu juga warga Hindu mulai bangkit di Pare dan Besowo, bermula dari Ida Pandita Mpu Yoga Nata dari Griya Giri Kusuma Pangi Klungkung yang melakukan perjalanan ke wilayah Kediri.

Dalam sebuah perjalanan spiritual ke Kediri Jawa Timur sekitar Juli 2019, Ida Pandita Mpu Yoga Nata kemalaman di sebuah wilayah di Pare Kediri. Istirahat sejenak Ida Pandita bertanya kepada salah seorang warga bermaksud menanyakan apakah ada sebuah pura, karena Ida Pandita bermaksud ingin sembayang di pura. Dalam bathinnya, Ida Pandita ingin bertemu saudara tuanya yang ada di Kediri.

‘’Tiyang sempat sampai dibelikan gado-gado oleh warga yang menunjukkan jalan,’’ terang Ida Pandita yang akhirnya bermalam. Esok harinya Ida Pandita sempat berbincang-bincang dengan seseorang yang bernama Gatot.

Gatot adalah warga Pare yang orangtuanya muslim tetapi ibunya bernama Ni Nyoman Ranti asal Tiyingtali Karangasem. Dari perbincangan yang tidak direncanakan itu, Gatot menuturkan dengan benderang pesan ibunya sebelum menghembuskan nafas di pangkuannya. ‘’Tot, kamu sumbangkan tanah itu untuk pembangunan pura agar areal pura lebih luas,’’ tutur Ida Pandita menirukan ucapan Gatot tentang pesan ibunya.

Ni Nyoman Ranti pun akhirnya meninggal dan dikremasi. Sepeninggal ibunya yang dikremasi, Gatot mengaku sering bermimpi diserahi tugas untuk memelihara pura yang tidak jauh dari rumahnya.

Baca Juga  Dekranasda Bali Kini Pamerkan Kerajinan di Bandara Ngurah Rai

Dalam perbincangan itu, Ida Pandita memberi saran agar ibunya bisa berkomunikasi secara tidak langsung atau niskala. ‘’Tiyang beri jalan agar membuat pelinggih kemulan. Prosesi ibunya setidaknya ada kelanjutan, setelah ngaben lanjut memukur kemudian dewa prastista, nuntun, ngenteg linggih atau ngelinggihang,’’ terang Ida Pandita.

IDA PANDITA MPU YOGA NATA, Griya Giri Kusuma Pangi Klungkung.

Berselang beberapa pekan, tanpa diduga Gatot datang ke Griya Giri Kusuma bertemu Ida Pandita. Ibunya yang sudah tiada ikut menyertainya seolah ada ikatan bathin untuk datang bersama ke griya. Gatot ingin ibunya diupacarai sesuai ajaran Hindu, ngeroras, nuntun dan seterusnya. Bahkan Ida Pandita yang sempat ke India ikut mengajak dewa hyang-nya ke India.

Kelanjutannya setelah ngelinggihang, Gatot membuat tempat suci. Bersama beberapa pemangku di Bali membawa pelinggih kemulan, taksu dan penunggun karang. Dalam satu hari empat pelinggih sekaligus berdiri di rumahnya Gatot. Prosesi memukur atau ngeroras-nya di Griya, lanjut diajak atau diingkupkan di Kediri. ‘’Kita pendem panca datu sekarang baru mulai ada hubungan niskala. Orang luar yang datang mesti permisi pada yang punya tanah dan rumah,’’ ungkap Ida Pandita.

Tidak berselang lama, beberapa benda kemarat muncul seperti patung ganesha, keris, lingga yoni, dll. Warga muslim yang menemukan di beberapa lokasi tidak berani menyimpan dan akhirnya diserahkan dan disimpan oleh Gatot untuk selanjutnya akan ditempatkan di Pura Kerta Agung yang berdekatan dengan rumah Gatot jika kelak pura ini rampung.

Kehadiran pelinggih di rumah Gatot dan juga Pura Kerta Agung dengan temuan benda-benda keramat itu membuat warga Hindu bangkit seperti di Besowo Kepung yang berjumlah 44-an KK.

‘’Kita berencana mengadakan pengabenan massal pada awal Mei ini, karena ada Covid-19 akhirnya batal, padahal alat-alat pengabenan sudah dikirim ke Besowo tanpa dipungut biaya sepeser pun,’’ papar Ida Pandita seraya mengatakan jika Covid-19 sudah mulai tenang, pengabenan bisa dilaksanakan Juli atau Agustus dengan melibatkan 8 sulinggih.

Sebagai back-up kegiatan pengabenan massal ini, pada waktu Mahasabha MGPPSR Pusat di Cekomaria tanpa diduga bertemu dengan Arya Weda Karna. ‘’Kita mohon beliaunya memback up kegiatan saya di sana dalam rangka upacara ngaben massal dan beliau menyarankan menyurati ke yayasannya,’’ ujar Ida Pandita yang juga merencanakan pada 1 Oktober mengadakan upacara tegak karya, karena belum pernah ada karya besar sebelumnya, seraya mengingatkan jangan terlena di Bali,  karena umat kita masih banyak di seberang.

Baca Juga  Kelurahan Sanur Gencar Data Penduduk Non-Permanen dan Edukasi Prokes Berniaga bagi Pelaku Usaha

Pura Kerta Agung berada di atas lahan 10 are, sudah dibangun padma, apit lawang dengan gelung kuri yang dibawakan dari Bali. Saat ini, jika ada acara melasti se-Kabupaten Kediri pusat ngumpulnya di Pura tersebut. Di sana juga banyak warga yang pintar membuat banten setelah belajar di Griya Giri Kusuma. Pinandita juga sudah mulai banyak, begitu juga sulinggih. (gs)

Advertisements
idul fitri dprd bali
Advertisements
nyepi dprd badung
Advertisements
dprd badung
Advertisements
iklan
Advertisement
Klik untuk Komentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

BUDAYA

Pemkot Denpasar Peringati Tumpek Krulut, Dirangkaikan dengan Dharma Santhi Nyepi

Walikot Jaya Negara Ikuti Prosesi dan Persembahyangan Bersama

Published

on

By

tumpek krulut
Walikota Jaya Negara bersama para tamu undangan dalam kesempatan Peringatan Rahina Tumpek Krulut dan dirangkaikan dengan Dharma Santhi Nyepi, Sabtu (13/4) di Lapangan Puputan Badung, I Gusti Ngurah Made Agung. (Foto: Hms Dps)

Denpasar, baliilu.com – Rangkaian peringatan Rahina Tumpek Krulut yang digelar Pemkot Denpasar dikoordinir Bagian Kesejahteraan Rakyat, Setda Kota Denpasar pada Sabtu (13/4). Peringatan Rahina Tumpek Klurut yang jatuh setiap Saniscara Kliwon, Wuku Krulut dipusatkan di Lapangan Puputan Badung, I Gusti Ngurah Made Agung yang juga dirangkaian dengan Puja Dharma Santhi Nyepi, Tahun Saka 1946.

Peringatan Rahina Tumpek Krulut dipuput Ida Pedanda Gede Putra Keniten, Griya Satya Loka dan Dharma Wacana oleh Dr. Komang Indra Wirawan. “Wewalen” peringatan Rahina Tumpek Krulut meliputi, pembacaan Sloka dan Puja Dharma Santhi, Tari Rejang Dewa oleh siswa SMPN 1 Denpasar, Tari Rejang Taksu Bhuwana dari PHDI Kota Denpasar, Tari Rejang Renteng dari WHDI Denpasar, Rejang Napik Siti binaan I Gusti Ngurah Gede Marhaendra Jaya, Bebarongan, Gandrung, Bondres, hingga Tabuh Semarandana.

Tampak Walikota Denpasar, I Gusti Ngurah Jaya Negara hadir dan mengikuti prosesi Rahina Tumpek Krulut yang juga dihadiri Sekda Kota Denpasar, Ida Bagus Alit Wiradana, Ketua Komisi I DPRD Denpasar, I Ketut Suteja Kumara, Forkopimda Denpasar, pimpinan OPD Pemkot Denpasar, Ketua MDA Denpasar, A.A Ketut Sudiana, dan Ketua PHDI Denpasar, I Made Arka.

Walikota Jaya Negara disela-sela prosesi acara menjelaskan, filosofis dari perayaan Tumpek Krulut mencerminkan penghormatan terhadap alat musik sebagai bagian penting dari kehidupan dan budaya Bali yang menstanakan Dewa Iswara sebagai Dewa Suara. Keindahan suara banyak terdapat dalam karya seni, seperti gamelan atau alat musik. Selain itu, perayaan ini juga bertujuan untuk melestarikan dan mendorong keberlanjutan warisan budaya Bali.

“Sebagaimana tersurat dalam Lontar Prakempa dan Aji Gurnita, hari yang baik atau Dewasa Ayu untuk mengupacarai Sarwa Tetangguran atau Gamelan adalah Rahina Tumpek Krulut. Pada Rahina Tumpek Krulut kita memuja Dewa Iswara atau Kawiswara sebagai Dewa Keindahan, memohon waranugraha agar manusia terus menerus diberi kesenangan dan kebahagiaan Sekala-Niskala,” jelasnya

Baca Juga  Stop Transmisi Lokal, Kelurahan Sanur Mantapkan Pelaksanaan PKM

Dikatakanya, Rahina Tumpek Krulut memiliki makna yang mendalam dalam konteks keberlanjutan budaya. Hari ini adalah waktu untuk merenungkan peran seni tradisional dalam kehidupan sehari-hari, serta untuk menghormati kreativitas dan keterampilan para seniman. Ini juga mengingatkan kita tentang pentingnya merawat alat-alat musik dan peralatan tradisional, serta mempertahankan hubungan yang harmonis antara manusia, alam, dalam kehidupan sehari-hari.

Oleh karena itu, bertepatan dengan Rahina Tumpek Krulut yang juga diperingati sebagai Rahina Tresna Asih yang bermakna kasih sayang. Hal ini juga berkaitan dengan visi misi mewujudkan Kota Kreatif Berbasis Budaya Menuju Denpasar Maju dengan dilandasi spirit Weda Wakya “Vasudaiva Khutumbakam” yang mengandung makna dalam kehidupan ini kita semua bersaudara, atau menyama braya, menjalin hubungan yang harmonis dalam mewujudkan suatu kebahagiaan lahir batin.

“Dalam peringatan Tumpek Krulut mari kita maknai peran seni tradisional dan menghormati kreativitas para seniman, dengan merawat alat musik tradisional menuju keharmonisan bersama yang mengedepankan saling asah asih asuh, salunglung sabayantaka dalam pemaknaan Rahina Tresna Asih,” ujarnya. (gs/bi)

Advertisements
idul fitri dprd bali
Advertisements
nyepi dprd badung
Advertisements
dprd badung
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca

BUDAYA

Bupati Giri Prasta Hadiri ‘’Pujawali’’ di Pura Kawitan Kayu Selem Songan

Published

on

By

Pura Kawitan Kayu Selem Songan
SERAHKAN DANA HIBAH: Bupati Badung I Nyoman Giri Prasta menyerahkan dana hibah secara simbolis saat menghadiri Pujawali di Pura Kawitan Kayu Selem Gwasong - Songan Banjar Kayu Selem, Kintamani, Bangli, Selasa (9/4). (Foto: Hms Badung)

Bangli, baliilu.com – Bupati Badung I Nyoman Giri Prasta menghadiri Pujawali di Pura Kawitan Kayu Selem Gwasong – Songan Banjar Kayu Selem, Kintamani, Bangli, Selasa (9/4). Turut hadir dalam kesempatan ini Wakil Bupati Bangli I Wayan Diar, anggota DPRD Provinsi Bali terpilih Dapil Bangli Sang Putra Irawan, anggota DPRD Bangli I Wayan Wirya, dan anggota DPRD terpilih I Wayan Artom Krisna Putra, Camat Kintamani Ketut Hery Soena Putra serta unsur Tripika Kecamatan Kintamani, tokoh dan warga masyarakat Kayu Selem.

Bupati Giri Prasta juga menyerahkan bantuan dana Hibah Induk 2024 secara simbolis sebesar Rp 3,2 miliar untuk pembangunan pura serta secara pribadi membantu dana sebesar Rp 30 juta.

Giri Prasta mengucapkan, rasa syukur kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa serta Ida Batara-Batari yang berstana di Pura Kawitan Kayu Selem dan berharap seluruh krama pengempon diberikan keselamatan dan kerahayuan dalam melaksanakan karya pujawali.

“Kehadiran kami disini untuk meringankan beban krama semua dan ini murni dari pikiran yang suci dan ning nirmala, apalagi untuk masyarakat pengempon kawitan Kayu Selem khususnya, waktu banyak habis di adat seperti ada pitra yadnya, manusa yadnya dan dewa yadnya, piodalan di tingkat dadia sampai Sad Kahyangan itu waktu dan uang banyak habis di adat untuk meyadnya maka dari itu kami hadir di tengah-tengah masyarakat untuk meringankan beban masyarakat seperti saat ini. Untuk membangun Pura Kawitan Kayu Selem kami bantu sebesar Rp 3,2 miliar agar tuntas supaya masyarakat tidak mengeluarkan uang,” ucapnya.

Pujawali ini, lanjut Giri Prasta, dapat dikatakan Puja itu dilaksanakan oleh Sulinggih bersama Pemangku sedangkan Wali-nya dilaksanakan oleh welaka, ada Sekaa Gong, Pesantian, Topeng Sidakarya, tari Rejang lan Renteng itu yang dimaksud pujawali, dimana masyarakat laksanakan di hari yang baik ini.

Baca Juga  Dekranasda Bali Kini Pamerkan Kerajinan di Bandara Ngurah Rai

Sementara itu Manggala Karya I Wayan Suyasa, mewakili keluarga besar Kayu Selem seluruh Bali menghaturkan banyak terima kasih atas kehadiran Bupati Badung bersama para undangan lainnya. “Kami keluarga besar Kayu Selem sudah banyak dibantu untuk pembangunan di Pura Kayu Selem dari awal pembangunan diberikan bantuan sebesar Rp 3 miliar untuk pembangunan Pura Kayu Selem dan sekarang untuk melanjutkan pembangunan pura di jaba sisi juga kami dibantu dana Hibah Induk 2024 sebesar Rp 3,2 miliar. Sekali lagi saya mewakili keluarga besar Kayu Selem mengucapkan banyak terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Bupati Badung Bapak Nyoman Giri Prasta,” ujarnya. (gs/bi)

Advertisements
idul fitri dprd bali
Advertisements
nyepi dprd badung
Advertisements
dprd badung
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca

BUDAYA

Sekda Alit Wiradana Hadiri Puncak ‘’Karya Angasti Puja Atma Wedana’’ Griya Gede Telaga Tegal

Published

on

By

sekda alit wiradana
NGUPASAKSI: Sekda Kota Denpasar, Ida Bagus Alit Wiradana saat menghadiri sekaligus ngupasaksi Puncak Karya Angasti Puja Atma Wedana Maligia Punggel di Griya Gede Telaga Tegal Denpasar, Senin (8/4). (Foto: Hms Dps)

Denpasar, baliilu.com – Sekda Kota Denpasar, Ida Bagus Alit Wiradana menghadiri sekaligus ngupasaksi Puncak Karya Angasti Puja Atma Wedana Maligia Punggel di Griya Gede Telaga Tegal Denpasar, Senin (8/4). Rangkaian puncak Karya diawali dengan Atetangi, Ngadegang Puspa Lingga, Mapurwa Daksina dan Stiti Puja.

Sejak pagi hari tampak silih berganti masyarakat yang ikut serta dalam upacara mendatangi lokasi upacara. Turut hadir dalam kesempatan tersebut Camat Denpasar Barat, Ida Bagus Made Purwanasara, Panglingsir Griya dan Puri, serta undangan lainnya.

Pengrajeg Karya, Ida Bagus Ngurah Widasna didampingi Prawartaka Karya, Ida Bagus Witamaja, menjelaskan, rangkaian Karya Angasti Puja Atma Wedana Maligia Punggel di Griya Gede Telaga Tegal Denpasar ini telah berlangsung sejak tanggal 5 Januari lalu yang diawali dengan Matur Piuning Karya. Dilanjutkan dengan Upacara Nganam Daun Waringin pada tanggal 4 April.

Selanjutnya, pada tanggal 5 April dilaksanakan upacara Mepandes. Sedangkan puncak Karya dilaksanakan bertepatan dengan Tilem Sasih Kedasa pada 8 April. Setelah puncak karya, rangkaian dilanjutkan dengan Pralina Puja dan Nganyut ke Segara pada tanggal 9 April. Sedangkan upacara Nyegara Gunung akan dilaksanakan di Segara Pantai Goa Lawah pada 11 April mendatang.

Lebih lanjut dijelaskan, secara keseluruhan Karya Angasti Puja Atma Wedana Maligia Punggel di Griya Gede Telaga Tegal diikuti oleh 304 pengiring sawa. Sedangkan untuk upacara mepandes diikuti oleh 179 peserta. Sehingga besar harapannya karya ini dapat berjalan lancar dan sesuai dengan harapan bersama.

Astungkara kita berharap seluruh rangkaian karya berjalan lancar dan sesuai dengan harapan kita bersama,” ujarnya.

Sementara, Sekda Kota Denpasar, Ida Bagus Alit Wiradana memberikan apresiasi atas pelaksanaan Karya Angasti Puja Atma Wedana Maligia Punggel di Griya Gede Telaga Tegal ini. Tentunya hal ini merupakan wujud sradha bhakti antara Griya atau Purahita dengan masyarakat atau Para. Sinergi ini tentu sangat baik dalam mewujudkan masyarakat Kota Denpasar yang paras paros sarpanaya dan sagilik, saguluk salunglung subayantaka sesuai dengan spirit Vasudhaiva Khutumbakam bahwa kita semua bersaudara.

Baca Juga  Ny. Putri Suastini Koster: Betapa Kuatnya Peran Perempuan di Tengah Pandemi Covid-19

“Dengan pelaksanaan karya ini tentu kami berharap kedepannya dapat menciptakan hubungan yang harmonis antara manusia dengan Tuhan, manusia dengan manusia, begitupun manusia dengan alam lingkungan harus tetap dijaga sebagaimana mestinya sehingga kehidupan tetap harmonis,” ujar Alit Wiradana. (eka/bi)

Advertisements
idul fitri dprd bali
Advertisements
nyepi dprd badung
Advertisements
dprd badung
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca