Connect with us
https://www.baliviralnews.com/wp-content/uploads/2022/06/stikom-juni-25-2022.jpg

BUDAYA

Perda No. 4/2020 tentang Penguatan dan Pemajuan Kebudayaan Bali, Kembalikan Bali sebagai Pusat Peradaban Dunia

BALIILU Tayang

:

de
GUBERNUR BALI WAYAN KOSTER

Denpasar, baliilu.com – Gubernur Bali Wayan Koster menyatakan kebudayaan Bali yang unik dan mempunyai nilai yang tinggi dan luhur yang diwariskan oleh leluhur dan dilaksanakan setiap generasi masyarakat Bali secara turun-temurun, perlu dikuatkan dan dimajukan  sesuai dengan  visi pembangunan daerah  Nangun Sat Kerthi Loka Bali melalui Pola Pembangunan Semesta Berencana menuju Bali Era Baru untuk mewujudkan kehidupan krama Bali yang sejahtera dan bahagia secara niskala dan sakala.

‘’Perda No. 4 tahun 2020 tentang penguatan dan pemajuan kebudayaan Bali merupakan antisipasi terhadap dinamika perubahan masyarakat yang bersifat lokal, nasional, dan global yang berdampak pada keberadaan kebudayaan Bali dan pengembangannya, sekaligus  memperkokoh kebudayaan nasional dan mengembalikan Bali sebagai pusat peradaban dunia atau Bali Padma Bhuwana,’’ ujar Gubernur Koster saat konferensi pers sosialisasi Perda Provinsi Bali Nomor 4 Tahun 2020 di Museum Bali, Kamis (16/7-2020).

Hadir pada acara tersebut Kadis Kebudayaan Provinsi Bali Dr. I Wayan ‘Kun Adnyana, S.Sn dan Rektor ISI Denpasar Prof. Dr. I Gede Arya Sugiartha, S SKar, M.Hum.

Gubernur Koster menyatakan Perda Penguatan dan Pemajuan  Kebudayaan  Bali ini merupakan wujud  komitmen yang kuat dan konsisten Pemerintah Provinsi Bali  dalam mengarusutamakan kebudayaan Bali  melalui peningkatan pelindungan, pembinaan, pengembangan, dan pemanfaatan objek-objek pemajuan kebudayaan Bali,  untuk  menjaga kesucian dan keharmonisan alam Bali beserta isinya  dalam mewujudkan kehidupan  krama  dan  gumi  Bali yang sejahtera dan bahagia  sakala-nisakala sesuai dengan  prinsip Trisakti Bung Karno, berdaulat secara politik, berdikari dalam ekonomi, dan berkepribadian dalam kebudayaan.

Gubernur asal Desa Sembiran Buleleng ini menandaskan bahwa kita sebagai generasi penerus berkewajihan bertanggung jawab untuk menjaga, memelihara dan memajukannya agar mengikuti perkembangan yang ada saat ini. Agar dia tetap menjadi satu fundamental kehidupan masyarakat. ‘’Ini yang diperkokoh sekarang agar Bali bentul-betul menjadi pusat peradaban dunia,’’ tegas Ketua DPD PDI Perjuangan Bali ini.

Baca Juga  Ni Putu Putri Suastini Koster Mengucapkan Rahajeng Rahina Suci Pagerwesi

Dikatakan, pariwisata kalau tak ada budaya maka pariwisata tak akan ada. Orang berwisata ke Bali karena tertartik dengan kekayaan dan keunikan Bali dengan adat istiadat dan tradisi. Jadi kalau pariwisata di Bali tidak peduli dengan budaya itu dosa. ‘’Saya akan bertemu dengan pelaku pariwisata ini karena terlalu lama melakukan eksploitasi dan melupakan budaya, melalaikan budaya kita. Jadi oleh karena itu jangan pernah lalai urusan budaya. Kalau mau maju sejahtera di Bali urusi dulu budaya dengan keseluruhan isinya, ‘’ tegas Gubernur Koster.

Mantan anggota DPR RI tiga periode ini kembali menegaskan, pariwisata itu ekornya, nomor satu budaya dulu. Kalau budaya tak ada di Bali, pariwisata di Bali akan sama saja dengan daerah lainnya.

Satu saja yang membuat Bali tidak pernah kalah dengan yang lain karena keunikan budaya dan tradisinya. Kekayaannya itu yang tidak dimiliki daerah lain di Indonesaia. Kalau alam, laut, gunung banyak lebih indah dari Bali, tetapi isinya tidak ada ngalahin Bali. ‘’Bali tidak akan pernah tersaingi karena ada sesuatu di sini yang di tempat lain tidak ada,’’ ungkapnya.

Gubernur menyebutkan Perda ini berisi  20 Bab  dan  81 Pasal yang merupakan upaya Penguatan  dan Pemajuan  Kebudayaan  dilaksanakan  berdasarkan  asas  yang dijiwai oleh filosofi Tri Hita Karana  yang bersumber dari kearifan lokal  Sad Kerthi,  meliputi  asas spiritualitas,  kearifan lokal,  kemanusiaan,  gotong -royong,  dan  asas kesejahteraan  yang  diselenggarakan dalam satu kesatuan wilayah, satu pulau, satu pola, dan satu tata kelola berdasarkan kesucian, kebenaran, kebaikan, dan keindahan.

Pengaturan ini bertujuan untuk menjadi panduan dalam: 1) menguatkan jati diri krama  Bali;  2)  melindungi nilai-nilai kebudayaan;  3)  mengembangkan kebudayaan untuk meningkatkan ketahanan budaya dan kontribusi budaya Bali terhadap peradaban dunia;  4)  membina kebudayaan dalam kehidupan individu, masyarakat, dan lembaga;  5)  meningkatkan kesejahteraan dan keharmonisan tata kehidupan krama  Bali  niskala  dan  sakala; dan  6)  meningkatkan apresiasi budaya dan penghargaan kepada pelaku penguatan dan pemajuan kebudayaan.

Baca Juga  Pemkot Denpasar Sampaikan Duka Cita atas Meninggalnya Kaling Br. Dukuh Sari Sesetan

Dalam mewujudkan tujuan yang ingin dicapai, maka ruang lingkup dari peraturan daerah  ini  secara komprehensif mengatur 15 aspek, tentang:  1)  objek penguatan dan pemajuan kebudayaan; 2) penguatan dan pemajuan; 3) tugas dan wewenang;  4)  majelis kebudayaan Bali;  5)  ekosistem kebudayaan;  6)  apresiasi budaya;  7)  Pesta Kesenian Bali;  8)  Jantra Tradisi Bali;  9)  Festival Seni Bali Jani; 10)  Perayaan Kebudayaan Dunia;  11)  penghargaan;  12)  peran aktif masyarakat; 13) sarana dan prasarana; 14) pendanaan; dan 15) sanksi.

Adapun  19  objek Penguatan dan Pemajuan Kebudayaan meliputi:  1)  kearifan lokal;  2)  ritus;  3)  benda sakral;  4)  pengetahuan tradisional;  5)  teknologi tradisional;  6) pengobatan tradisional; 7) tradisi lisan;  8) manuskrip; 9) situs; 10) adat istiadat;  11)  seni;  12)  arsitektur tradisional;  13)  bahasa dan aksara;  14) permainan rakyat; 15) olahraga tradisonal; 16) kerajinan; 17) desain; 18) busana; dan  19)  boga.  Objek Penguatan dan Pemajuan Kebudayaan  tersebut  bersumber dari warisan budaya asli Bali, budaya  serapan, dan/atau hasil kreasi baru masyarakat Bali.

Hal baru yang diatur dalam Perda ini adalah:  Ceraken Kebudayaan Bali sebagai sistem pengelolaan data  kebudayaan  terpadu berbasis  teknologi digital;  Jantra Tradisi Bali  sebagai kegiatan apresiasi budaya  tradisi untuk penguatan dan pemajuan kearifan lokal, pengetahuan tradisional, teknologi tradisional, pengobatan tradisional, permainan rakyat dan olah raga tradisional;  Festival Seni Bali Jani  merupakan wahana pengembangan  kesenian modern, kesenian kontemporer, dan  kesenian yang bersifat inovatif; dan  Perayaan Kebudayaan Dunia  sebagai upaya diplomasi budaya dalam forum internasional/dunia untuk mengembalikan Bali sebagai pusat peradaban dunia /  Padma Bhuwana. 

Pesta Kesenian Bali,  Jantra Tradisi Bali,  Festival Seni Bali Jani, dan Perayaan Kebudayaan Dunia diselenggarakan setiap tahun.

Baca Juga  Wagub Cok Ace Apresiasi Kepedulian Perbankan pada Seniman

Hal baru yang juga diatur dalam Perda ini adalah dibentuknya Majelis Kebudayaan Bali (MKB) yang memiliki tugas: memberikan saran dan pertimbangan kepada pemerintah dalam rangka penguatan dan pemajuan kebudayaan; membantu dinas dalam melakukan pendataan, standarisasi dan sertifikasi lembaga dan sumber daya manusia bidang kebudayaan;  turut serta melakukan penguatan dan pemajuan kebudayaan secara aktif dan berkelanjutan; turut serta melakukan pengawasan terhadap program aksi penguatan dan pemajuan kebudayaan bersama pemerintah daerah; dan  turut serta melakukan program aksi penguatan dan pelindungan terhadap benda sakral bersama majelis desa adat, Parisada Hindu Dharma Indonesia,  lembaga pendidikan tinggi bidang kebudayaan, serta pemerintah daerah.

Gubernur Koster mengatakan Pemerintah Provinsi  Bali bersama seluruh komponen masyarakat melakukan pengarusutamaan  kebudayaan  dalam berbagai aspek kehidupan:  pertama, menjadikan  kebudayaan sebagai sumber nilai-nilai pengembangan karakter, etika, moral, dan tata krama serta sopan santun dalam  tata kehidupan masyarakat;  kedua,  kebudayaan sebagai suatu produk karya seni; dan  ketiga, kebudayaan sebagai basis pengembangan perekonomian dan sumber kesejahteraan masyarakat.

Gubernur Koster kembali menyatakan alasannya menerbitkan Perda No. 4 tahun 2020 ini karena jauh sebelum  menjadi Gubernur karena sudah terlalu sering melihat terjadi penyalahgunaan, penodaan, pelecehan, perusakan budaya. Ada turis berkunjung duduk di padma, ada yang telanjang di tempat suci pancuran. Ada juga pencurian pratima, penodaan pelecehan simbol-simbol keagamaan sudah dari dulu muncul.

‘’Berpuluh-puluh tahun dibiarkan, sekarang saya keluarkan Perda ini. Maka di Perda ini kalau bukan tujuan mebakti tidak boleh masuk ke area pura,’’ pungkasnya.

Di akhir acara, Gubernur Koster melakukan penandatanganan prasasti, dilanjutkan dengan melihat-lihat koleksi Museum Bali di Gedung Karangasem yang didampingi Kadis Kebudayaan. (*/gs)

Loading

Advertisements
dprd bali
Advertisements
hut pemprov dprd badung
Advertisements
iklan

BUDAYA

Walikota Jaya Negara Hadiri Prosesi “Ngajum” Karya Pitra Yadnya dan Atma Wedana Desa Adat Serangan

Published

on

By

Walikota Jaya Negara Ikuti Prosesi Ngajum Karya Serangan
NGAJUM: Walikota Denpasar, I Gusti Ngurah Jaya Negara mengikuti prosesi “Ngajum” saat Karya Pitra Yadnya dan Atma Wedana Desa Adat Serangan, di Lapangan Wayan Bulit Serangan, Minggu (13/9). (Foto: bi)

Denpasar, baliilu.com – Walikota Denpasar I Gusti Ngurah Jaya Negara menghadiri sekaligus mengikuti prosesi Ngajum serangkaian Karya Pitra Yadnya lan Atma Wedana Desa Adat Serangan, yang diselenggarakan di Lapangan Wayan Bulit Serangan, Minggu (13/9).

Diiringi suara gamelan dan lantunan kidung suci, karya ini dipuput oleh dua orang Sulinggih, yakni Ida Ratu Peranda Ngurah Tegal dari Griya Tegal dan Ida Pedanda Budha dari Griya Ulun Uma Mengwi.

Usai mengikuti prosesi Ngajum, Walikota Denpasar I Gusti Ngurah Jaya Negara menyampaikan, Karya Pitra Yadnya lan Atma Wedana yang dilaksanakan secara bersamaan adalah bentuk penerapan semangat gotong-royong yang seiring dengan spirit Kota Denpasar yakni Vasudhaiva Khutumbakam.

Selain meringankan beban biaya bagi masyarakat, pelaksanaan karya ini juga diharapkan dapat memperkuat semangat kebersamaan di antara masyarakat.

“Pelaksanaan ini patut diapresiasi, selain sebagai sebuah bentuk kewajiban Umat Hindu yang harus dijalankan, karya ini juga mengusung semangat gotong-royong menyama braya antar-masyarakat yang begitu kental,” kata Jaya Negara.

Bendesa Adat Serangan, I Nyoman Gede Pariatha didampingi Manggala Karya, I Wayan Astawa menjelaskan, rangkaian karya ini dimulai sejak Jumat (4/9) lalu. Adapun jumlah peserta yang ikut dalam rangkaian karya ini berjumlah total 76 peserta. Gede Pariatha memerinci, jumlah tersebut terdiri dari peserta Ngaben sebanyak 19, peserta Nyekah 41, peserta Warak Keruron 14, dan peserta Ngelangkir sebanyak 2.

Para peserta yang mengikuti karya ini, dikenakan biaya yakni masing-masing Rp 3 juta untuk Ngaben dan Nyekah, serta Rp 1 juta untuk prosesi Warak Keruron dan Ngelangkir. Selebihnya, biaya ditanggung Desa Adat Serangan, dan juga punia dari berbagai kalangan masyarakat.

“Tujuan utama kami adalah meringankan beban masyarakat atau krama desa. Dengan dilaksanakan bersama, rasa kebersamaan dan menyama braya juga semakin kuat,” katanya. (eka/bi)

Baca Juga  Ni Putu Putri Suastini Koster Mengucapkan Rahajeng Rahina Suci Pagerwesi

Loading

Advertisements
dprd bali
Advertisements
hut pemprov dprd badung
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca

BUDAYA

Walikota Jaya Negara Hadiri Puncak Karya Pelebon I Gusti Ayu Badri

Published

on

By

Walikota Jaya Negara Hadiri Karya Pelebon I Gusti Ayu Badri
KARYA PELEBON: Walikota Denpasar, I Gusti Ngurah Jaya Negara saat menghadiri Puncak Karya Pelebon I Gusti Ayu Badri, istri Gubernur Bali periode 1978–1988, Prof. Dr. Ida Bagus Mantra, sekaligus ibunda Anggota DPD RI Perwakilan Bali, Ida Bagus Rai Dharmawijaya Mantra, pada Redite Pon Wuku Prangbakat, Minggu (13/9). (Foto: Hms Dps)

Denpasar, baliilu.com – Puncak Karya Pelebon I Gusti Ayu Badri, istri Gubernur Bali periode 1978–1988, Prof. Dr. Ida Bagus Mantra, sekaligus ibunda Anggota DPD RI Perwakilan Bali, Ida Bagus Rai Dharmawijaya Mantra, berlangsung khidmat pada Redite Pon Wuku Prangbakat, Minggu (13/9). Walikota Denpasar I Gusti Ngurah Jaya Negara, turut hadir dalam prosesi pelebon dengan tingkatan Munggah Tumpang Salu Utama yang menggunakan Bade Awin/Bade Padma, sebagaimana yang digunakan dalam pelebon almarhum sang suami terdahulu.

Sejak pagi, masyarakat dan keluarga tampak mempersiapkan berbagai rangkaian upacara. Prosesi diawali dengan Melaspas Pemereman, Bade, dan Lembu. Selanjutnya, dilaksanakan Tedun Layon atau prosesi menurunkan jenazah dari Bale Semaanggen menuju Bade Awin/Bade Padma pada pukul 12.05 Wita.

Iring-iringan pelebon diawali dengan uperengga, kemudian Tirta dan Saji pada bagian depan. Pada bagian akhir iring-iringan tampak Gayod, Baris Ketekok Jago, Lembu Putih, dan Bade Awin/Bade Padma. Seluruh rangkaian pelebon turut diiringi Gambelan Gambang, Baleganjur Ngarap, dan Angklung.

Dalam suasana cuaca cerah, iring-iringan bergerak dari Jalan Tjok Agung Tresna menuju Jalan Merdeka dan selanjutnya menuju Setra Desa Adat Tanjung Bungkak sebagai lokasi pelaksanaan upacara. Setelah rangkaian pelebon selesai, upacara dilanjutkan dengan prosesi Nganyut ke Segara Sanur.

Pengrajeg Karya yang juga Anggota DPD RI, Ida Bagus Rai Dharmawijaya Mantra, di sela-sela upacara menyampaikan bahwa seluruh persiapan yang telah dilaksanakan bermuara pada puncak upacara hari ini. Ia pun menyampaikan rasa syukur karena seluruh rangkaian upacara dapat berjalan dengan lancar.

“Pertama, kami bersyukur upakara ibunda kami dapat berjalan dengan lancar. Kedua, kami mengucapkan terima kasih atas doa dan bantuan semua pihak yang telah ikut menyukseskan upakara ini. Terima kasih kepada semua pihak,” ujarnya.

Baca Juga  Ni Putu Putri Suastini Koster Mengucapkan Rahajeng Rahina Suci Pagerwesi

Dijelaskannya, baik dari sisi Bade yang digunakan maupun tingkatan upacara pelebon I Gusti Ayu Badri, disamakan dengan upacara pelebon sang suami yang telah lebih dahulu berpulang. Tingkatan upacara yang digunakan yakni Munggah Tumpang Salu Ngewangun.

“Ini tingkatannya Ngewangun. Kami samakan dengan suaminya, Ajik terdahulu. Mudah-mudahan mereka bisa damai di sana,” katanya.

Sementara itu, Walikota Denpasar, I Gusti Ngurah Jaya Negara, menyampaikan rasa duka cita yang mendalam atas berpulangnya I Gusti Ayu Badri. Menurutnya, sosok I Gusti Ayu Badri merupakan bagian penting dari perjalanan keluarga besar Prof. Dr. Ida Bagus Mantra, khususnya dalam mendampingi sang suami yang pernah mengemban amanah sebagai Gubernur Bali periode 1978–1988.

“Atas nama Pemerintah Kota Denpasar dan masyarakat Kota Denpasar, kami menyampaikan duka cita yang mendalam atas berpulangnya I Gusti Ayu Badri. Beliau merupakan sosok yang selama ini dikenal sebagai pendamping setia Prof. Dr. Ida Bagus Mantra dalam menjalankan pengabdian bagi Bali,” ujarnya.

Jaya Negara juga mengenang I Gusti Ayu Badri sebagai sosok ibu yang telah memberikan keteladanan bagi keluarga dan lingkungan sekitarnya. Ia berharap seluruh amal kebaikan almarhumah mendapat tempat yang baik dan keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan serta kekuatan dalam melewati masa duka.

“Semoga almarhumah mendapat tempat yang baik di sisi-Nya dan seluruh keluarga yang ditinggalkan, khususnya keluarga besar Ida Bagus Mantra, diberikan ketabahan dan keikhlasan. Semoga seluruh rangkaian upacara ini berjalan lancar dan menjadi jalan bagi almarhumah menuju kedamaian,” harapnya.

Puncak Karya Pelebon dipuput oleh empat orang sulinggih. Prosesi Atetangi Ngewisik, Pralina Pering, Ngardi Tirta Pengarep, hingga Melaspas Pemereman pada pagi hari dipuput Ida Pedanda Gede Ketut Peling. Selanjutnya, prosesi Nedunin Layon dipuput Ida Pedanda Gede Buruan dan prosesi Nedunin Layon di Setra dipuput Ida Pedanda Gede Suyasa. Prosesi Ngereka Puspa dipuput Ida Pedanda Gede Suyasa dan Ida Pedanda Jelantik Oyo. Sementara itu, prosesi Nganyut ke Segara dan Pesucian di Merajan Griya dipuput Ida Pedanda Gede Ketut Peling.

Baca Juga  Tiga Hari Pasca Dibuka New Normal, Satpol PP Denpasar tetap Awasi Lapangan Puputan Badung

I Gusti Ayu Badri mengembuskan napas terakhir di RS Bros, Denpasar, Bali, pada Sabtu (5/9) sore. Kepergian I Gusti Ayu Badri meninggalkan lima orang anak, yakni Ida Ayu Wijayanti, Ida Bagus Putra Diksotama Mantra, Ida Bagus Oka Udayana (almarhum), Ida Bagus Gde Wirawibawa (almarhum), dan Ida Bagus Rai Dharmawijaya Mantra. Almarhumah juga meninggalkan 14 orang cucu serta sejumlah cicit. (eka/bi)

Loading

Advertisements
dprd bali
Advertisements
hut pemprov dprd badung
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca

BUDAYA

Bupati Badung Apresiasi Semangat Krama Desa Adat Kuta Gelar “Atma Wedana“

Published

on

By

Pimpinan Daerah Jadi Upasaksi Upacara Atma Wedana Desa Adat Kuta
UPASAKSI: Wakil Gubernur Bali I Nyoman Giri Prasta, Bupati Badung I Wayan Adi Arnawa, dan Ketua DPRD Badung I Gusti Anom Gumanti saat sebagai upasaksi serta mengikuti prosesi Ngastawang Upacara Atma Wedana, Nyekah Kurung Nyatur Rebah, dan Upacara Manusa Yadnya (Mepandes/Metatah), Kamis (10/9), di Pura Segara, Kelurahan Kuta. (Foto: Hms Badung)

Badung, baliilu.com – Krama Desa Adat Kuta menggelar rangkaian Upacara Atma Wedana, Nyekah Kurung Nyatur Rebah, dan Upacara Manusa Yadnya (Mepandes/Metatah), Kamis (10/9). Kegiatan ini dipusatkan di Bale Peyadnyan, Pura Segara, Kelurahan Kuta, dengan menghadirkan Ida Pandita Mpu Nabe Jaya Wijaya Nanda dari Griya Kutuh sebagai Yajamana Karya.

Semangat gotong-royong krama Desa Adat Kuta dalam melaksanakan upacara massal ini mendapat apresiasi langsung dari jajaran pimpinan daerah. Wakil Gubernur Bali I Nyoman Giri Prasta, Bupati Badung I Wayan Adi Arnawa, dan Ketua DPRD Badung I Gusti Anom Gumanti hadir langsung sebagai upasaksi serta mengikuti prosesi Ngastawang.

Wagub dalam sambutannya menyampaikan bahwa, Pemprov Bali dan Pemkab Badung terus bersinergi menata wilayah Kuta, termasuk melalui rencana pembangunan moda transportasi Trem. Ia berpesan agar persatuan krama adat tetap kokoh terjaga demi masa depan generasi penerus.

“Masyarakat Kuta harus menjadi tuan di rumahnya sendiri. Kami mendoakan agar pelaksanaan upacara berjalan lancar dan krama Desa Adat Kuta tetap bersatu-padu menanggung suka dan duka,” kata Giri Prasta.

Seusai acara, Bupati Badung I Wayan Adi Arnawa memberikan apresiasi yang setinggi-tingginya atas rasa persatuan dan semangat gotong-royong warga Desa Adat Kuta dalam menyelenggarakan upacara adat dan manusa yadnya secara massal ini. “Selain dapat meringankan beban ekonomi krama, pelaksanaan upacara massal yang dikerjakan secara bersama-sama oleh 13 banjar ini menjadi bukti nyata kokohnya kebersamaan dan tradisi gotong-royong warga Desa Adat Kuta. Kami berkomitmen untuk terus hadir mendampingi dan memberikan dukungan penuh terhadap pelestarian adat, agama, dan budaya di Kabupaten Badung,” ujarnya.

Sementara itu, Bendesa Adat Kuta I Komang Alit Ardana melaporkan upacara massal ini meliputi Ngaben (12 sawa), Nyekah (91 sawa), Warak Keruron (60 sawa), Ngelangkir (20 sawa), dan Mepandes (68 orang). Puncak karya adat tersebut dijadwalkan jatuh pada tanggal 11 September.

Baca Juga  Bupati Giri Prasta Resmikan Logo Baru Sabha Yowana Eka Prapta Desa Adat Pangsan

“Seluruh banten dikerjakan oleh serati banten dari 13 Banjar di Desa Adat Kuta. Saya mengucapkan terima kasih kepada pemerintah Kabupaten Badung dan Provinsi Bali yang telah banyak membantu, serta krama yang bahu-membahu menyukseskan kegiatan ini,” jelas Alit Ardana.

Upacara ini dihadiri Anggota DPRD Badung I Nyoman Graha Wicaksana, I Nyoman Sudana, I Wayan Puspa Negara, Sekcam Kuta I Putu Dedik Adi Ardiana beserta unsur Tripika, Bendesa Madya MDA Badung Ida Bagus Gede Widnyana, serta perwakilan PHDI, MDA Kecamatan Kuta, Bendesa Adat se-Kecamatan Kuta, perwakilan Lurah Kuta, dan krama desa. (gs/bi)

Loading

Advertisements
dprd bali
Advertisements
hut pemprov dprd badung
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca